Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Cincin Pernikahan


__ADS_3

Dathan, Neta, dan Maria sampai di bandara. Maria langsung dijemput oleh Martin, sedangkan Dathan dan Neta dijemput langsung dijemput oleh Reno dan Rifa. Mereka berdua membawakan mobil Dathan. Jadi Dathan bisa langsung pergi ke toko perhiasan.


Saat sampai di toko perhiasan, Dathan mengajak Neta untuk menemui Mauren.


“Hai, Than.” Mauren menyapa Dathan yang baru datang.


“Hai.” Dathan menyapa kembali.


Mauren memerhatikan wanita di samping Dathan. Baru kali ini dia melihat Neta. Walaupun sudah dengar banyak cerita dari Arriel.


“Kenalkan, ini Neta.” Dathan memperkenalkan kekasihnya itu.


Mauren langsung mengulurkan tangannya pada Neta. Senyum manis menghiasi wajah wanita tiga puluh lima tahun itu.


“Hai, aku Mauren.” Dia memperkenalkan diri.


“Neta.” Neta tersenyum menerima uluran tangan Mauren.


“Ayo kalau begitu. Kita melihat cincin.” Mauren langsung mengajak Neta dan Dathan untuk melihat-lihat koleksi milik Arriel.


Mereka berjalan ke satu ruangan. Ruangan itu terdapat satu etalase khusus untuk koleksi terbatas. Hanya dibuat beberapa saja. Tentu saja itu membuat harga semakin mahal.


“Kamu tidak mau memesan khusus pada Arriel saja, Than?” Sambil berjalan bersama, Mauren melemparkan pertanyaan itu.


“Tidak.” Sekali pun masalahnya sudah selesai dengan Dathan, dia tetap tidak mau bersinggungan langsung dengan Arriel. Sekali pun pasti nanti dia akan tahu bahwa dia membeli cincin di tokonya, itu tidak masalah.


“Padahal kamu bisa buat cincin satu-satunya untuk calon istrimu.” Mauren tersenyum.


“Cincin memang tidak satu-satunya dibuat, tetapi hati tetap satu-satunya.” Dathan menoleh pada Neta. Pandangannya penuh damba pada wanita yang dicintainya itu.


Mauren melihat jelas Dathan yang melihat Neta. Dia sudah dengar banyak jika Dathan begitu mencintai Neta. Namun, kini dia melihat sendiri. Lagi pula Neta memang cantik. Jadi wajar jika Dathan tergila-gila.


“Ini koleksi dari Arriel. Dia hanya membuat tiga saja. Satu di etalase ini dan tentu dua akan boleh dipesan secara khusus.” Mauren segera mengeluarkan koleksi milik Arriel. Kemudian memperlihatkan pada Neta dan Dathan.


Saat mata memandang, Neta langsung jatuh hati. Cincin dengan batu permata yang begitu indah membuat Neta begitu mengaguminya. Dia segera meraih cincin yang diberikan Mauren.


“Cantik.” Neta memuji cincin tersebut.


Dathan tersenyum melihat Neta yang berbinar. “Apa kamu suka?” tanyanya memastikan.

__ADS_1


“Iya, cantik sekali.” Neta menjelaskan pada sang calon suaminya itu.


Mauren melihat jelas interaksi Dathan dan Neta. Dathan yang dingin pada wanita tampak hangat sekali pada Neta. Pantas saja temannya tidak bisa mengambil celah di antara mereka.


“Cobalah.” Dathan dengan lembut meminta cincin itu dan memasangkan di jari Neta. Cincin itu benar-benar pas di jari Neta. Ukuran jari sebagai contoh sama persis dengan jari Neta.


“Pas.” Neta merasa cincin tidak kebesaran dan juga tidak kekecilan. Ukurannya pas dengan jarinya. Sebuah kebetulan yang luar biasa.


Neta memandangi cincin yang berada di jarinya. Cincin dengan tabuhan permata tampak cantik. Kilaunya begitu indah. Sebagai wanita, dia benar-benar menyukainya.


Dathan benar-benar melihat Neta yang berbinar. Hal itu membuatnya yakin jika kekasihnya menyukai cincin tersebut.


“Aku ambil ini saja.” Dathan segera beralih menatap Mauren. Dia kemudian beralih menatap Neta. Senyumnya menghiasi wajahnya.


Neta tersenyum. Dia senang ketika Dathan memilih cincin yang disukainya.


“Baiklah, tapi karena ukurannya pas aku rasa Neta bisa pakai yang ini, agar tidak terlalu lama menunggu.” Mauren mencela di antara dua orang yang saling pandang. Dia menjelaskan pada Dathan sedikit tentang cincin yang dipilih oleh Neta dan Dathan.


“Baiklah.” Dathan mengangguk setuju.


“Tapi, untuk cincin pria, tetap harus dipesan. Jadi aku akan mengukur jarimu.” Mauren tersenyum.


“Sayang, apa aku boleh lihat-lihat.” Neta masih begitu penasaran dengan koleksi Arriel. Perhiasan yang berjajar rapi di etalase memang menarik perhatiannya.


“Tentu saja.” Dathan mengizinkan Neta melakukan apa pun. Dia kemudian beralih ke ruangan sebelah untuk mengukur jarinya bersama Mauren.


Mauren segera memegangi tangan Dathan. Mengukur jari tengah pria tampan itu.


“Sepertinya kamu begitu mencintainya?” Mauren tersenyum. Dia melihat jelas bagaimana Dathan sejak tadi menatap Neta penuh damba.


“Iya.” Dathan hanya menjawab singkat.


“Apa cincin waktu itu untuk Neta?” Mauren mengingatkan dua cincin yang dibeli oleh Dathan waktu itu.


“Iya.” Dathan mengangguk.


“Aku pikir kamu waktu itu pesan cincin untuk Arriel.” Ini sudah kedua kalinya Dathan ke sini. Waktu itu, Dathan meminta untuk tidak memberitahu Arriel. Jadi dia pikir itu untuk Arriel.


Dathan hanya tersenyum mendengar penuturan Mauren.

__ADS_1


“Jadi kapan rencana pernikahannya?” Mauren kembali bertanya.


Berinteraksi dengan Dathan memang seperti murid dan guru. Kalau tidak ditanya, Dathan tidak akan bicara. Namun, itu hanya berlaku pada wanita. Terkecuali Neta dan Rifa. Dua orang itu adalah dua orang yang membuat Dathan banyak bicara.


“Tiga minggu lagi.” Dathan menjawab singkat.


Mauren mengangguk-anggukan kepalanya. Mengerti yang dijelaskan. Sambil mendengarkan dia mengukur jari Dathan.


“Sudah.” Akhirnya selesai juga Mauren mengukur. Memang tidak butuh waktu lama untuk mengukur.


Dathan langsung menarik tangannya.


“Mungkin akan jadi seminggu. Nanti aku akan mengabarimu.”


“Baiklah.” Dathan mengangguk.


Mereka segera keluar untuk menyusul Neta kembali.


Di luar Neta sedang asyik melihat-lihat koleksi perhiasan. Dia tidak bisa berkata-kata, karena memang perhiasan begitu cantik-cantik. Sebagai seorang wanita, dia tentu saja menyukai hal-hal glamor ini. Namun, dia tidak mampu untuk membelinya. Uangnya saja dipakai untuk berhemat. Jadi dia hanya bisa mengagumi saja.


“Sayang.” Dathan sudah kembali dan menghampiri Neta. Dia melihat Neta yang sedang melihat seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung gelang dan anting-anting.


“Sudah selesai?” tanya Neta memastikan.


“Sudah.” Datham tersenyum. Dia segera beralih ke Mauren. “Terima kasih sudah membantu. Aku pamit dulu.”


“Apa kamu mau menjemput Lolo?” tanya Mauren memastikan.


“Iya, tapi sore nanti. Biarkan dia puas dulu bermain dengan mamanya.”


Mauren mengangguk. Dia kemudian beralih ke Neta. “Sampai jumpa, Neta?” Mauren melambaikan tangan.


“Sampai jumpa.” Neta tersenyum sambil membalas lambaikan tangan pada Mauren.


Dathan dan Neta pun segera berlalu keluar toko perhiasan. Satu urusan sudah selesai. Artinya tinggal satu lagi urusan mereka. Yaitu, melamar Neta ke ibu panti.


“Bagaimana kita pergi menonton film dulu.” Neta yang berjalan, menoleh ke Dathan. Dia tadi dengar Dathan akan menjemput Loveta sore. Jadi mereka masih punya waktu untuk berdua dulu.


“Tentu saja.” Dathan tidak menolak. Lagi pula, mereka masih punya waktu. “Tapi, setelah makan siang.” Dathan tidak mau sampai Neta terlambat makan siang.

__ADS_1


“Baiklah.” Neta setuju.


__ADS_2