Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Produksi Tetap Jalan


__ADS_3

“Adik Lolo benar. Laki-laki dan perempuan.” Dathan memberitahu sang anak. Tebakan sang anak benar. Tentu saja itu membuatnya kagum.


“Benarkah?” Loveta berbinar. Dia tidak menyangka jika tebakannya benar. Padahal dia hanya menebak saja. “Ye … adik Lolo laki-laki dan perempuan.” Loveta bersorak senang. Dia begitu senang sekali ketika adiknya akan lahir dengan dua jenis kelamin. Tentu saja dia tidak sabar menunggu hari itu.


Dr. Lyra tersenyum ketika melihat keluarga kecil yang sedang memeriksakan kandungannya itu. Dia selalu melihat kebahagiaan pada setiap orang yang memeriksakan kandungan padanya.


Akhirnya pemeriksaan selesai juga, mereka bertiga keluar dari ruang pemeriksaan dokter kandungan. Mereka segera menuju ke apotek untuk mengambil vitamin yang diresepkan oleh dokter.


“Lolo akan punya dua adik. Lolo akan punya dua adik.” Loveta begitu senang. Hingga dia meloncat-loncat.


Neta dan Dathan tersenyum melihat hal itu. Anaknya begitu girang sekali. Kebahagiaan memang dirasakan oleh Loveta juga.


Saat meloncat-loncat itu, tanpa sengaja Loveta menabrak seseorang. Orang tersebut langsung memegangi tubuh Loveta. Takut Loveta terjatuh.


“Maaf.” Dathan langsung meraih tubuh sang anak.


“Tidak apa-apa.” Dr. Dean yang tanpa sengaja menabrak Loveta pun tersenyum.


“Dokter.” Loveta mengenali siapa yang ditabraknya itu. Dia adalah orang yang menolongnya juga ketika hampir terjatuh.


“Dr. Dean.” Dathan menyapa dokter yang ditabrak oleh Loveta.


“Pak Dathan.” Dr. Dean tersenyum ketika melihat Dathan. Dia kemudian beralih pada Loveta. “Kamu sedang senang sekali.” Tangannya mencubit pipi Loveta.


“Iya, Lolo mau punya dua adik. Jadi Lolo senang sekali.” Loveta pun menceritakan pada Dean yang membuatnya begitu bahagia.


Dr. Dean tersenyum. “Wah … selamat Pak Dathan.” Dia segera mengulurkan tangan pada Dathan.


“Terima kasih, Dok.” Dathan tersenyum sambil mengulurkan tangan.

__ADS_1


Dr. Dean juga menyalami Neta. Kemudian dia berjongkok agar mensejajarkan tubuhnya dengan Loveta. “Kamu akan punya dua adik. Jadi harus banyak berhati-hati agar kelak bisa menjaga adik bayi.” Tangan Dean membelai lembut rambut Loveta. “Apalagi adiknya akan ada dua. Jadi harus punya menjaga lebih ekstra.” Dr. Dean memberikan nasihatnya pada Loveta.


“Siap, Dokter.” Loveta bersemangat sekali. Tentu saja dia senang ketika kelak akan menjaga adiknya.


“Pintar.” Dr. Dean membelai lembut pipi Loveta.


Dr. Dean segera berdiri. “Silakan dilanjutkan, saya permisi dulu.” Dia berpamitan. “Da … Kakak kecil.” Dia melambaikan tangan pada Loveta.


Loveta pun melambaikan tangan pada dr. Dean.


Setelah pertemuan singkat itu, mereka melanjutkan kembali langkah mereka ke apotek. Mereka ingin mengambil vitamin yang sudah diresepkan oleh dokter.


... ...


...****************...


Neta menemani Loveta tidur. Tangan Loveta membelai lembut perut sang mami ketika sang mami sedang membacakan dongeng.


“Em … Mami belum tahu.” Neta memang belum bisa memikirkan nama untuk anaknya.


“Apa Lolo boleh kasih nama?” Loveta menatap penuh harap.


“Boleh kalau artinya bagus.” Neta tersenyum.


“Ye ….” Loveta senang sekali mendapatkan jawaban dari sang mami.


“Sudah, ayo cepat tidur.” Loveta langsung membelai lembut rambut Loveta.


Loveta mengangguk. Dia segera memejamkan matanya.

__ADS_1


Neta menemani sang anak yang tidur, sampai akhirnya sang anak tidur. Saat melihat anaknya tidur, dia baru kembali ke kamarnya. Menyusul snag suami yang sudah berada di kamarnya.


Di kamar tampak Dathan masih di depan laptopnya. Dia mengecek beberapa pekerjaanya sebelum tidur. Saat istrinya masuk ke kamar, dia mengalihkan pandangannya.


“Cinta sudah tidur?” Dathan memastikan. Dia mematikan laptopnya dan menutupnya.


“Sudah.” Neta mengangguk. Dia segera naik ke atas tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Neta bersandar pada headboard tempat tidur. Menarik napasnya perlahan.


Perutnya yang sudah mulai besar memang terkadang membuatnya sedikit kelelahan.


Dathan segera berdiri. Menyusul sang istri yang sudah berada di tempat tidur. Dathan yang merangkak naik, mendapati perut sang istri lebih dulu. Dia pun mendaratkan kecupan di perut sang istri.


“Halo, anak Papi.” Dathan senang sekali menciumi perut sang istri. Berharap ciuman itu sampai pada sang anak.


Neta tersenyum. Tangannya membelai lembut rambut sang suami.


“Aku benar-benar senang ketika kita akan dapat anak laki-laki dan perempuan sekaligus.” Dathan begitu bahagia hari ini. Kabar dari dokter tadi siang membuatnya begitu berbunga-bunga.


“Aku juga senang. Jika sudah begini, artinya aku tidak akan hamil lagi untuk dapat anak laki-laki. Karena sudah dapat. Artinya pabrik anak akan ditutup.” Neta tersenyum. Sejak awal berencana memiliki anak, dia dan Dathan memang sudah berencana untuk terus memiliki anak terus sampai memiliki anak laki-laki.


Dathan tersenyum. Dia teringat dengan rencananya dengan sang istri. “Pabrik tutup? Aku rasa tidak?”


Neta membulatkan matanya. Dia merasa tidak mengerti dengan keinginan sang suami. “Bukankah kita akan dapat anak laki-laki?”


“Iya.” Dathan berangsur mendekat pada sang istri.


Tubuh Dathan yang semakin dekat, membuat Neta dapat melihat sang suami dari dekat. “Lalu kenapa tidak tutup pabriknya?” Neta penasaran dengan sang suami.


“Produksi tidak akan pernah berhenti. Hanya hasilnya saja yang diberhentikan.” Dathan menyeringai. Tubuhnya yang berangsur, membuat jarak terkikis. Satu kecupan mendarat tepat di bibir sang istri.

__ADS_1


Neta tersenyum. Akhirnya dia tahu apa yang dimaksud sang suami. Artinya, tetap akan ada produksi pembuatan, tetapi tidak akan ada hasilnya.


__ADS_2