Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Menunggu


__ADS_3

Neta langsung menuju ke pintu dan membuka pintu untuk melihat siapa gerangan yang datang.


Kedua bola matanya Neta membulat sempurna ketika ternyata Adriel yang datang. Neta pikir Adriel tidak akan datang. Namun, ternyata pria itu ada di depannya.


“Kamu ke sini?” tanya Neta panik.


“Iya, aku ke sini karena acara pernikahan temanku sudah selesai. Jadi aku pikir akan menemani kamu ke pesta.” Adriel menjelaskan pada Neta.


Neta hanya bisa menelan salivanya ketika ternyata Adriel akan datang ke pesta bersamanya. Neta memikirkan apakah Adriel akan masuk ke kamar atau tidak. Jika iya, pasti ini akan menjadi hal yang bahaya. Adriel menyewa kamar untuk dirinya, tetapi dengan tidak sopannya membawa kekasihnya ke dalam kamar.


“Sepertinya kamu sudah rapi.” Adriel melihat Neta sudah memakai gaun pesta. Artinya Neta sudah siap.


“Iya, aku tinggal berdandan saja.” Neta memang tadi memang sedang memakai make up dan belum selesai.


“Baiklah, aku akan tunggu kamu saja.” Adriel mengayunkan langkahnya untuk masuk.


Neta langsung menghalangi langkah Adriel yang mau masuk ke kamar. Dia takut jika Adriel masuk dia akan melihat Dathan. Lalu, apa jadinya nanti jika dua orang itu bertemu.


“Kenapa?” Adriel menatap Neta.


“Kak Adriel sebaiknya tunggu di restoran saja. Aku hanya akan berdandan sebentar saja.”


Jantung Neta benar-benar berdebar-debar. Ini bukan sekadar masalah dia yang kenapa harus menyembunyikan semuanya, tetapi masalahnya Dathan adalah narasumber beritanya. Wawancara dengan narasumber yang merupakan orang terdekat akan membuat hasil wawancara tidak subjektif. Itu kenapa wawancara di kantor Neta disarankan jika memang memiliki hubungan, lebih baik orang lain yang wawancara.

__ADS_1


Dathan kini kekasih Neta. Majalah belum keluar. Jadi dia belum aman. Jadi dia belum mau ada orang yang tahu.


“Jika sebentar aku tunggu di dalam saja.” Adriel merasa hal itu biasa dilakukan. Apalagi dia dan Neta memang dekat.


“Tunggu.” Neta masih mencari alasan yang tepat untuk menolak Adriel masuk ke kamarnya. “Kak Adriel tahu aku seorang wanita, jadi tidak baik jika wanita dan pria berada dalam satu kamar.” Neta berusaha untuk menjelaskan.


Adriel memikirkan apa yang dikatakan oleh Neta. Dia sadar sekali pun berada di dalam kamar dengan Neta, mereka tidak sendiri. Ada Maria juga yang menemani. “Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu di restoran saja.” Adriel akhirnya memutuskan tidak masuk ke kamar Neta.


Neta bernapas lega. Akhirnya Adriel mendengarkan apa yang dimintanya itu.


“Baiklah kalau begitu aku akan segera ke restoran.”


“Iya.” Adriel pun segera berlalu pergi.


“Astaga.” Tepat saat berbalik, Neta mendapati Dathan tepat di hadapannya.


“Kenapa kamu mengagetkan aku.” Neta memenangi dadanya, karena jantungnya berdegup sangat kencang.


Dathan hanya bisa tersenyum. “Kenapa seperti kamu ketakutan sekali.” Dia melihat jelas jika Neta ketakutan. “Apa kamu takut Adriel melihatku?” tanya Dathan memastikan.


“Bukan begitu. Aku tidak masalah jika Kak Adriel melihatmu, tetapi masalahnya majalahmu belum keluar. Jadi aku merasa tidak enak jika dia tahu narasumberku adalah kekasihku, dan lagi aku difasilitasi kamar ini, tetapi aku memakainya bersamamu.” Neta mencoba menjelaskan. Pipinya merona ketika di akhir kalimat.


“Memakai bersama untuk apa?” Dathan meraih pinggang ramping Neta. Melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya itu.

__ADS_1


“Em ....” Neta tampak berpikir. “Aku harus segera bersiap.” Neta mendorong lembut tangan Dathan yang melingkar di pinggangnya.


Dathan pasrah. Dia pun melepaskan sang kekasih. Memberikan ruang pada sang kekasih untuk bersiap.


Neta kembali ke meja rias. Memoles kembali wajahnya. Dathan berdiri di belakang Neta, memandangi gadis cantik di depannya.


“Kamu tunggu aku ya.” Sebenarnya Neta tidak tega membiarkan Dathan sendiri. Namun, dia harus bekerja.


“Tenanglah.” Dathan tersenyum.


Neta yang sudah selesai merias wajahnya segera meraih tasnya. Saat berdiri, dia menatap Dathan. “Pasti kamu akan bosan.” Dia menebak apa yang akan terjadi.


“Aku tidak akan bosan.” Dathan tersenyum. Bagaimana dia akan bosan jika dia akan bergabung dengan Neta di pesta.


“Baiklah, aku pergi dulu.” Neta berpamitan dan segera keluar dari kamar. Dia melambaikan tangannya pada Dathan yang berada di kamar.


Kini tinggal Dathan sendiri yang berada di kamar. Tentu saja itu dimanfaatkannya untuk segera bersiap. Dia juga akan menghadiri pesta yang sama dengan Neta.


Neta menuju ke restoran yang berada di hotel. Kebetulan restoran berada di dekat lobi. Jadi dari ballroom jaraknya tidak jauh. Saat sampai di restoran, Neta melihat Adriel dari kejauhan. Pria itu duduk manis di sudut restoran. Dengan langkahnya yang anggun, dia berjalan menghampiri Adriel.


Adriel yang melihat Neta tersenyum manis. Setelah Neta memoles wajahnya, gadis itu semakin cantik. Apalagi dengan balutan dress, Neta semakin cantik.


“Apa ini definisi cinta setelah kehilangan?” Adriel bergumam pada dirinya sendiri ketika melihat Neta.

__ADS_1


__ADS_2