
Dathan langsung merebahkan tubuhnya tepat di samping sang istri. Memeluknya erat dari belakang. Padahal sisa tempat tidur cukup sempit, tapi Dathan tetap saja mencari celah untuk mendekati istrinya.
“Siapa yang menggoda.” Dathan mendaratkan kecupan di pipi sang istri.
Neta hanya tersenyum. “Lihat Papi mencium Mami. Apa kalian tidak mau dicium juga?” Neta mengajak anaknya bicara.
Dathan segera beralih dengan ke depan kedua anaknya. Mendaratkan kecupan di pipi sang anak secara bergantian. Dathan gemas sekali dengan dua anaknya itu.
“Semua sudah dicium.” Dathan tersenyum.
“Kalau mereka besar nanti, pasti seperti Cinta, protes karena jambang papinya membuat geli.” Tangan Neta membelai rahang Dathan yang ditumbuhi jambang.
“Kalau maminya, apa juga akan protes?” Dathan tersenyum menyeringai.
“Mami protes minta lagi.” Neta seperti sedang memancing singa yang kelaparan. Sudah tahu jika suaminya sudah puasa, tetapi tetap digoda.
“Sayang, jangan seperti itu. Aku benar-benar tersiksa.” Dathan menekuk bibirnya.
Neta hanya tersenyum. Tangannya mencubit pipi Dathan. “Sabar.” Dia menenangkan sang suami.
“Sampai kapan?” tanya Dathan.
__ADS_1
“Empat puluh hari.” Neta tersenyum.
“Astaga, Sayang. Kenapa lama sekali?” Dathan lemas. Merasa begitu tersiksa membayangkan menunggu sang istrinya yang selesai nifas.
“Empat puluh hari akan terasa cepat.” Neta berusaha untuk menenangkan sang suami.
Dathan mengembuskan napasnya.
Sepertinya dia harus bersabar. “Baiklah, aku akan bersabar. Lebih baik aku bermain dengan kalian saja.” Dathan mendaratkan kecupan di pipi sang anak. Dia akan pastinya akan sedikit melupakan hasratnya.
Dathan dan Neta menunggu anak mereka
yang belum mau tidur. Saat malam hari, bayi kembar itu bergantian menyusu. Tepat jam satu malam, barulah mereka tertidur. Neta pun akhirnya ikut tidur. Dia sudah sangat lelah.
Setelah mendaratkan kecupan, Dathan memilih segera merebahkan tubuhnya di samping Loveta. Dia memeluk anak sulungnya itu. Dathan berharap, sekali pun nanti ada adiknya, Loveta tidak akan merasa iri.
...****************...
Suara tangis terdengar. Baru saja Neta tidur, tetapi suara itu terdengar nyaring sekali. Neta yang bangun melihat Danish menangis. Anak laki-lakinya itu tampaknya kehausan. Dengan segera, Neta menyusui anaknya itu.
“Dia haus?” Dathan ikut bangun. Dia segera naik ke tempat tidur. Dilihatnya Nessia juga membuka matanya.
__ADS_1
“Apa kamu juga haus?” tanya Dathan. Tangannya membelai lembut pipi sang anak.
“Dia hanya terbangun saja sepertinya karena kakaknya menangis.” Neta tersenyum.
“Anak Papi pintar. Tunggu kakak selesai minum dulu ya.” Dathan menenangkan sang anak.
“Adik bayi sudah bangun?” Suara Loveta terdengar.
Dathan menoleh ketika Loveta sudah bangun. Dia mengulurkan tangannya. Mengajak Loveta untuk naik ke atas tempat tidur. Dathan memberikan ruang pada Loveta untuk dekat dengan adiknya.
“Adik sudah bangun.” Loveta melihat mata kecil adiknya yang mengemaskan. Kemudian dia beralih pada adiknya yang sedang menyusu pada maminya. “Adik sedang apa?” tanya Loveta.
“Adik sedang menyusu. Adik bayi itu minumnya susu dari ibu. Namanya ASI yaitu air susu ibu.” Dathan menjelaskan pada anaknya.
“Lolo dulu juga minum air susu ibu.” Loveta menatap Neta.
Neta tidak tahu seperti apa dulu Loveta, jadi dia melihat ke arah suaminya.
“Dulu Cinta minum juga dari Mama Arriel.” Dathan menjelaskan pada anaknya.
“Tapi, Lolo tidak tahu.” Loveta merasa jika tidak pernah merasakan ASI.
__ADS_1
“Jelas Cinta tidak merasakan. Karena Cinta masih kecil.” Dathan mencubit lembut pipi Loveta.
Loveta mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti yang dikatakan oleh papinya.