
Mobil Adriel masih di depan lobi. Hal itu membuat Neta terkejut. Entah kenapa dia merasa baru saja terpergok selingkuh. Padahal jelas-jelas antara dirinya dan Adriel tidak ada hubungan apa-apa.
“Aunty Neta.” Loveta berlari menghampiri Neta. Gadis kecil itu langsung memeluk Neta.
“Halo, Cinta.” Neta memeluk Loveta. Dia tersenyum manis sambil membelai lembut rambut Loveta.
Dathan masih melihat ke arah mobil. Namun, sesaat kemudian dia mengalihkan pandangan pada Neta. Senyum manisnya menghiasi wajahnya.
“Ayo.” Dathan yang tahu untuk apa kedatangan Neta pun memilih segera mengajaknya untuk ke ruangannya.
Neta mengangguk. Dia segera ikut Dathan menuju ruangnya. Neta sempat melirik. Saat dirinya berjalan masuk, mobil Adriel pun segera melaju. Dia sedikit merasa lega.
Dathan jelas melihat Neta yang melirik ke arah mobil yang mengantarnya. Jika itu taksi online, tidak mungkin Neta memerhatikan seperti itu. Tentu saja hal itu menarik Dathan. Dia begitu penasaran siapa gerangan yang berada di dalam mobil tadi.
Mereka berdua menuju ke ruangan Dathan. Saat di depan ruang sang sekretaris, Dathan meminta beberapa berkas yang dimintanya pada sang sekretaris dibawa ke dalam ruangannya.
Bersama Dathan, Neta masuk ke ruangan Dathan. Menunggu sekretaris Dathan membawakan berkas.
Di ruangan Dathan, Loveta segera mengeluarkan bukunya. Dia ingin memamerkan gambar yang diwarnai tadi di sekolah. Gadis kecil itu pun begitu antusias sekali memperlihatkan pada Neta.
Neta yang memang dekat dengan anak-anak pun menanggapi dengan senang apa yang dilakukan Loveta. Sambil menunggu berkas disiapkan dia melihat gambar milik Loveta.
Suara ketukan pintu yang terdengar membuat Neta, Dathan, dan Loveta menoleh. Tampak sekretaris Dathan membawa berkas yang dibutukan.
“Cinta, Aunty Neta akan bekerja. Jika Cinta mau di sini, kamu bisa menunggu Aunty Neta sambil mewarnai lagi.” Dathan memberitahu anaknya untuk tidak mengganggu Neta.
“Siap, Papa.” Loveta segera mengambil gambar yang berada di dalam tasnya. Tak lupa juga mengambil pensil warna untuk menjadi alat gambarnya.
Neta yang melihat Loveta begitu menurut langsung membelai lembut rambutnya. Dia merasa senang melihat Loveta yang begitu penurut.
“Kerjakan pekerjaanmu. Jika ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja.” Dathan menatap Neta.
“Baik.” Neta mengangguk.
Dathan segera berbalik. Dia menuju ke kursinya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Jadi dia tidak bisa menemani Neta.
Neta yang melihat Dathan sudah kembali ke meja kerjanya, segera beralih pada tumpukan berkas yang diberikan Dathan. Dia ingin melihat sejarah berdirinya IZIO, ada juga dia ingin melihat data perkembangan perusahaan. Dia harus dapat data konkret dari perusahaan IZIO.
__ADS_1
Neta membuka berkas. Dia ingin mencatat beberapa hal penting dalam pembangunan IZIO. Kebetulan di sana juga ada beberapa file foto toko IZIO yang dulu. Hal ini sangat menakjubkan, ketika bisa membuat kolase antara toko IZIO yang sekarang dan yang dulu. Dengan segera dia memotret foto tersebut.
Saat memotret foto tersebut dia melihat detail dari foto tersebut. Seorang anak kecil dengan setelan kaos dan celana pendek tampak tersenyum pada kamera saat difoto. Neta merasa senyum itu tampak tidak asing, walaupun foto itu berada dalam tampilan hitam putih. Maklum foto itu sudah diambil sejak tiga puluh lima tahun yang lalu. Di saat foto ini diambil, Neta belum lahir.
“Apa ini kamu?” Pertanyaan itu segera meluncur dari mulut Neta. Dia yang sedari tadi memerhatikan foto, mendapati jika foto itu adalah Dathan semasa kecil.
Dathan mengalihkan pandangannya. Sambil membenarkan kacamatanya, dia tersenyum. “Kamu bisa mengenalinya?” Dia cukup terpukau karena Neta langsung mengenali dirinya.
Dugaan Neta benar. Itu adalah Dathan. Jadi penglihatannya tidak salah. “Tentu saja aku bisa mengenali. Senyumannya sama persis dengan Cinta.” Dia mencubit lembut pipi Loveta. “Lihat ini papa mirip Cinta.” Dia memamerkan foto pada Loveta.
Loveta langsung ikut melihat foto. Dia melihat wajah sang papa begitu mirip dengannya. “Mirip Lolo.” Dia merasa memang mirip sekali dengan dirinya.
Dathan tersenyum. Dirinya sewaktu kecil adalah Loveta versi laki-laki. Wajah Loveta memang benar-benar mirip sekali dengannya. Jadi kalau Neta langsung mengenali memang wajar saja.
“Iya itu aku.” Dathan membenarkan jika foto itu adalah dirinya.
Neta tersenyum ketika mendengar Dathan yang membenarkan ucapannya. Rasanya lucu sekali melihat Dathan sewaktu kecil. Walaupun foto itu hitam putih, tetapi tetap memperlihatkan Dathan kecil yang tampan.
“Lolo mirip papa. Nanti dedek Lolo mirip mama.” Celetukan Loveta tiba-tiba terdengar.
Dathan segera mengalihkan pandangan pada Neta. Alih-alih memikirkan tentang adik yang diharapkan anaknya, dia lebih memikirkan perasaan Neta yang mendengar ucapan anaknya. Benar saja, wajah Neta yang tadinya terhiasi senyuman, seketika berubah murah. Seolah sedang berusaha menahan diri untuk tidak terluka dengan kata-kata Loveta.
Neta sedikit terkejut. Hal itu membuat senyumnya seketika menghilang. Namun, dia berusaha menutupi keterkejutannya itu. Dia langsung kembali tersenyum kembali.
“Cinta mau punya adik?” Neta bertanya pada Loveta. Tangannya membelai lembut rambut Loveta.
“Iya, Lolo mau adik laki-laki sama perempuan.” Dengan polosnya dia menjawab ucapan Neta.
Neta tersenyum. Dia paham perasaan Loveta. Dia masih menganggap orang tuanya bersama. Jadi tentu saja dia berharap jika dia akan punya adik dari mamanya.
“Cinta berdoa ya. Agar Tuhan memberikan adik untuk Cinta.” Dengan lembut Neta memberitahu.
“Apa nanti jika Cinta berdoa Tuhan akan berikan?” tanya Loveta.
“Tentu saja.” Neta meyakinkan.
“Baiklah, nanti Cinta akan berdoa.” Dengan semangat Loveta menjawab.
__ADS_1
Neta tersenyum menatap Loveta.
Pemandangan itu tertangkap jelas di depan Dathan. Neta benar-benar bisa mengendalikan perasaan dan situasi yang ada. Sungguh di luar dugaannya. Jika sudah begini, tentu saja dia tidak ragu menjadikan Neta istri. Karena Neta pasti bisa menjadi ibu yang baik untuk Loveta.
Neta mengalihkan pandangan pada Dathan. Dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sedikit. Meyakinkan pada Dathan jika dirinya baik-baik saja.
Dathan hanya bisa tersenyum. Bersyukur, Neta tidak terlalu memasukkan ke hati ucapan Loveta.
Neta kembali pada pekerjaannya. Begitu pun Dathan. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Satu jam berlalu, Loveta mengantuk. Dathan langsung sigap mengajak anaknya ke kamar sebelah. Saat siang, Loveta memang tidur siang. Jadi tentu saja Dathan sudah biasa.
Dathan segera membersihkan tubuh sang anak lebih dulu sebelum tidur. Dan tak lupa mengganti pakaian dengan yang bersih.
Saat siang, Loveta yang memang sudah diajari Dathan mandiri. Sang papa hanya akan mengantarkan tidur, dan anaknya itu akan tidur sendiri. Berbeda dengan malam hari, Dathan akan menemani sambil membacakan cerita.
Dathan kembali ke ruangannya setelah mengantarkan Loveta. Dia segera menghampiri Neta yang masih sibuk dengan berkasnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Dathan pada Neta.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai, lama aku ga nyapa nulis gini. Biasanya di note yang versi terbaru dari Noveltoon aja.
Senang lihat atusias kalian sama novel ini. Walaupun semangat naik-turun, kayak dress yang dijual di aplikasi tikt0k. Tapi, bersyukur bisa nulis tiap hari (kalau kemarin aku sakit ya. Makanya main ke IG aku biar tahu info)
Aku hanya mau bilang novel ini on going ya, Sayang. Artinya up setiap hari. Up jam 6 sore. Berapa bab? Ya sekuatnya aku, karena aku ga nulis satu novel ini aja. Main-main ke IG Myafa16 biar tahu Myafa nulis apa aja.
Kalau kesel nunggu up. Buka profil aku buat baca novel lain punya aku. Kalau udah baca semua yaudah, sabar aja 🤣
Udah itu aja aku mau bilangnya. Ga banyak-banyak. Ntar ngalahin satu bab lagi😁
Malam aku usahain up. Lagi semangat ini soalnya. Tungguin notifikasi aja ya. Jangan diteror akunya🤣 ntar aku takut.
__ADS_1