Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Pemanasan


__ADS_3

Neta menggeser tubuhnya untuk mendapatkan kehangatan. Sayangnya, saat menggeser tubuhnya, dia justru tidak mendapati kehangatan. Tidak ada pelukan. Tidak ada dekapan. Tentu saja itu membuatnya merasa aneh. Biasanya, sang suami akan memeluknya erat saat dirinya mencoba mendekatkan tubuhnya.


Merasakan kehampaan itu, Neta membuka perlahan matanya. Dilihatnya sisi ranjang kosong. Tidak ada penampakan suaminya di sebelahnya.


“Ke mana dia?” Neta bergumam. Merasa ada sesuatu yang hilang.


Rasa ingin tahunya ke mana perginya sang suami membuat Neta berangsur bangun. Dia meraih kimono berbahan sutra miliknya yang tergeletak di lantai. Kegiatan semalam memang membuat sang suami membuang asal pakaian yang melekat. Hingga tercecar di lantai.


Neta turun dari tempat tidur sambil memakai kimono miliknya. Menutupi tubuhnya yang polos. Langkahnya segera diayunkan untuk mencari di mana suaminya berada.


Suara air terdengar dari arah luar. Neta yang mendengar itu pun segera keluar. Dia yakin suaminya yang menciptakan suara itu.


Neta membuka pintu perlahan. Pemandangan laut biru adalah pemandangan yang dilihatnya pertama kali. Langit yang biru pun membuat pemandangan sangat menakjubkan. Seolah lautan di depannya tak bertepi sama sekali.


Suara air mengalihkan pandangan Neta. Tampak suami sedang berenang dan menciptakan suara. Dathan tampak asyik berenang ke tepi kolam. Dia naik ke tepian kolam. Berdiri di tepian dan segera melompat-berputar, masuk ke laut. Neta yang melihat hal itu panik. Dia berjalan di pinggiran kolam untuk melihat Dathan yang berada di bawah sana.


Tepat saat melihat lautan, di bawahnya, Neta tidak menemukan sang suami. Beruntung sesaat kemudian sang suami muncul ke permukaan. Mengambil napas sebanyak-banyaknya untuk mengisi kekosongan paru-parunya. Melihat sang suami, tentu saja membuat Neta bernapas lega. Takut kehilangan orang yang dicintainya.


“Kamu sudah bangun?” Dathan yang keluar dari air mendapati sang istri di sana.


“Iya, tadi aku melihatmu melompat. Seketika aku panik.” Neta melihat sang suami dari ketinggian. Sang suami masih asyik di dalam air.

__ADS_1


Dathan tersenyum. Dia adalah perenang handal. Jadi tentu saja dia tidak akan tenggelam. Dathan segera berenang ke tepian. Ingin menghampiri sang istri yang begitu mengemaskan. Neta yang melihat Dathan pun memilih untuk ikut berjalan ke balkon.


Dathan menaiki anak tangga untuk mencapai balkon kamar. Ingin segera memeluk sang istri yang sedari tadi membuatnya gemas.


Neta memerhatikan sang suami. Air yang menetes di tubuhnya, membuat tubuh Dathan begitu terlihat seksi sekali. Apalagi saat suami menyugar rambutnya. Terlihat begitu memesona sekali. Neta sampai tidak berkedip sama sekali.


“Selamat pagi.” Dathan menyapa sambil mendaratkan bibirnya. Memberikan sesapan sedikit pada sang istri.


Neta selalu menikmati apa yang dilakukan oleh sang suami. Dia pun justru melingkarkan tangannya di leher Dathan. Hingga membuat ciuman lebih dalam.


Untuk sesaat mereka justru menikmati tautan bibir. Hingga akhirnya terlepas.


“Aku mencarimu dan kamu tidak ada di kamar. Tentu saja itu membuatku bangun.” Neta menekuk bibirnya. Merajuk karena sang suami tidak ada saat bangun tidur.


“Aku tidak mau membangunkan kamu, karena kamu begitu pulas tertidur.” Dathan langsung membelai lembut pipi sang istri. “Lagi pula aku ingin segera berenang. Karena cuaca begitu cerah.” Dia kembali memberikan pengertian pada sang istri.


Neta melihat cuaca begitu cerah sekali. Jadi tentu saja itu membuatnya ingin berenang juga.


“Aku akan ganti baju renang, dan ikut berenang.” Neta langsung bersemangat sekali. Dia segera berbalik dan masuk ke kamar untuk berganti baju.


Dathan hanya tersenyum. Dia memilih menunggu sang istri yang sedang mengganti baju di sofa. Menikmati minuman yang tadi dipesannya.

__ADS_1


Sesaat kemudian sang istri keluar dari kamar. Sang istri hanya memakai pakaian one piece. Baju renang itu berbentuk jumpsuit, tetapi lebih ketat. Terbuat dari bahan lycra yang anti air dan cepat kering. Paha dan lengan putih milik Neta tampak terpampang nyata. Hal itu membuat Dathan terpesona. Walaupun sudah melihat tubuh sang istri. Tetap saja dia tidak bisa berhenti mengagumi.


Neta berjalan menghampiri sang suami. Baju renang ini sudah disiapkannya sejak awal ada rencana bulan madu. Walaupun tidak tahu akan ke mana pergi. Dia menyiapkan semua.


“Ayo.” Neta segera mengajak Dathan untuk segera berenang. Tak sabar merasakan dinginnya air laut.


“Pemanasan dulu.” Dathan memberitahu sang istri. Tak mau sampai sang istri kram.


“Iya.” Neta mengangguk. Menuruti apa yang dikatakan sang suami. Dia segera melakukan gerakan pemanasan. Mulai dari kepala, turun ke tangan, dan turun ke kaki.


Melihat sang istri, Dathan segera menghampiri sang istri. Dia berdiri tepat di belakang sang istri. Saat Neta sedang mengangkat kakinya untuk pemanasan, tiba-tiba Dathan mendaratkan kecupan di bahu sang istri. Neta masih diam ketika hanya kecupan saja. Namun, saat kecupan itu terus menerus dilakukan, membuat Neta tidak konsentrasi.


“Apa yang kamu lakukan?” Neta merasa yang dilakukan Dathan membuatnya tidak fokus.


“Aku sedang pemanasan.” Dathan menyeringai dan terus mendaratkan kecupan di leher sang istri.


Neta benar-benar dibuat geleng kepala. Saat dirinya pemanasan untuk olahraga, tetapi sang suami justru berpikir pemanasan yang lain.


“Sudah cukup, ayo kita berenang.” Neta menghentikan aksi sang suami.


Dathan hanya tersenyum saja ketika kegiatan yang mengasyikkan itu terhenti. Dia harus rela memulai berenang di dalam air, dati pada berenang dalam kenikmatan.

__ADS_1


__ADS_2