Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Panggil Mami


__ADS_3

Sore ini Neta pulang lebih awal karena besok pagi dia akan pergi ke luar kota untuk menghadiri peluncuran salah satu showroom mobil terbesar di negeri ini. Dia pulang dijemput oleh Dathan dan Loveta.


Jika Neta dan Loveta sudah bertemu, Dathan hanya akan jadi obat nyamuk di antara mereka. Tidak dipedulikan sama sekali. Diabaikan begitu saja.


“Tadi apa yang dilakukan di sekolah?” Neta begitu penasaran sekali.


“Tadi Lolo makan makanan Leo.” Loveta menceritakan apa yang dilakukan di sekolah.


“Lolo bukannya tadi bawa makan? Kenapa minta makanan milik Leo?” Dathan menatap Loveta dari kaca yang berada di atas dashboard mobil.


“Tadi makanan Leo lucu, Papa. Mama bentuk kelinci. Bibi tidak bisa buat kelinci.” Loveta pun menceritakan apa alasannya meminta makanan Leo.


Neta tersenyum. Anak-anak memang terkadang tertarik dengan bekal temannya dibanding bekalnya sendiri. Padahal bekalnya sendiri tidak kalah enak.


“Aunty bisa bikin bekal kelinci?” Loveta menatap Neta yang duduk di sebelah.


“Bisa, Aunty bisa buat panda, buat kucing, buat kupu-kupu.” Neta menceritakan apa yang bisa dibuatnya. Jaman sekarang cetakan nasi untuk bekal sudah banyak dijual. Jadi tentu saja mudah untuknya.


“Lolo mau.” Loveta begitu bersemangat sekali. “Ayo cepat Aunty tinggal dengan Lolo.” Loveta menggoyangkan tangan Neta. Dia benar-benar tidak sabar membawa bekal makanan seperti yang Neta jelaskan.


Neta tersenyum. Anak-anak memang lucu sekali. Mereka benar-benar menggemaskan. Bisa-bisanya sesederhana itu menginginkan sesuatu.


“Sabar, Papa dan Aunty sedang mengurus semua. Nanti Aunty akan tinggal dengan Cinta.” Neta membelai lembut rambut sang calon anak. Senang ketika kehadirannya disambut dengan baik oleh Loveta.

__ADS_1


Dathan hanya tersenyum saja ketika melihat sang anak yang begitu antusias sekali. Hal itu tentu saja membuatnya senang. Sang anak begitu antusias sekali menunggu Neta menjadi ibunya.


“Nanti jika Aunty Neta sudah menikah dengan papa dan tinggal di rumah, Cinta tidak lagi memanggil Aunty lagi.” Dathan menjelaskan sambil melihat sang anak dari pantulan kaca di atas dashboard.


Loveta melihat ke arah sang papa. “Lalu Lolo panggil apa?” Dia penasaran dengan panggilan yang harus dilakukannya.


“Cinta panggil Aunty Neta-mama.” Dathan menjelaskan panggilan yang pas untuk Neta.


Untuk sejenak Loveta langsung terdiam. Neta yang melihat hal itu pun merasa jika Loveta tidak suka dengan panggilan itu. Dia justru takut jika Loveta tidak mau memanggil dirinya ‘mama’ seperti yang diminta sang mama.


“Lolo sudah punya Mama Arriel.” Loveta langsung menyanggah permintaan sang papa.


Dathan menatap kekasihnya dari pantulan kaca. Neta tampak tenang, tetapi Dathan yakin jika Neta pasti kecewa.


Senyum Neta langsung mengembang di wajahnya. Dia merasa senang ketika mendapat panggilan itu. Ternyata, dia salah berpikir. Tadi, dia sempat berpikir Loveta tidak mau menerimanya, tetapi dia hanya tidak mau panggilannya sama dengan sang mama saja.


Dathan ikut tersenyum. Sang anak begitu pintar sekali. Dia mau membedakan panggilan untuk Neta. Dia sadar jika sang mama tetap di hati Loveta, jadi tidak akan bisa digantikan.


“Tentu saja, Cinta boleh panggil ‘mami’.” Neta pun menerima panggilan itu. Dia langsung memeluk Loveta. Senang sekali anak Dathan begitu pintar sekali. Dia benar-benar merasa senang sekali.


Dathan yang melihat dua orang yang dicintainya saling peluk, hanya ikut tersenyum saja. Jika mereka berdua saling mencintai, tentu saja itu akan membuat mereka kehidupannya kelak akan selalu bahagia.


Mobil terus melaju. Dathan mengajak Loveta dan Neta untuk makan malam terlebih dahulu. Baru setelah itu Dathan dan Loveta mengantarkan Neta. Dari makan bersama hingga pulang, Neta dan Loveta terus menempel bak perangko. Itu benar-benar membuat Dathan iri sekali.

__ADS_1


Sampai Loveta tertidur di kursi belakang, Neta terus membelai lembut rambut panjang gadis kecil itu.


“Jika kalian berdua seperti itu, aku sudah seperti obat nyamuk.” Dathan yang fokus menyetir, mengomentari apa yang dilakukan Neta dan anaknya.


Neta segera mengalihkan pandangannya. Dia segera mendekatkan tubuhnya ke kursi yang diduduki Dathan. Tangannya memeluk Dathan dar belakang. “Jangan cemburu.” Neta meletakkan dagunya di bahu Dathan.


Satu kecupan mendarat di pipi Neta dan membuat Neta merona. “Besok kamu berangkat jam berapa?” tanya Dathan. Dia tahu sang kekasih akan berangkat dengan Maria besok.


“Jam empat dari kos.” Neta akan mengambil penerbangan pertama. Jadi dia harus berangkat pagi-pagi sekali.


“Baiklah, kabari aku besok.”


Neta mengeratkan pelukannya. “Aku akan kabari besok.” Neta tersenyum. Namun, seketika dia teringat jika Loveta akan ke rumah sang mama. “Besok Cinta akan ke rumah Arriel?” Dia memastikan kembali.


“Iya.” Dathan mengangguk.


“Lalu apa yang akan kamu kerjakan saat Cinta tidak ada di rumah?”


“Mungkin aku akan main catur dengan Reno.” Hal itu memang yang sering dilakukan Dathan ketika libur.


“Kalau begitu aku akan pulang minggu pagi. Jadi aku akan menemani kamu nanti di hari minggu.” Neta tahu pasti Dathan akan sangat kesepian sekali.


“Emmm … boleh. Aku akan menjemputku di Bandara.” Dathan tersenyum. Dia membiarkan sang kekasih memikirkan jika dirinya benar-benar akan bersama Reno. Padahal sebenarnya bukan itu yang akan dilakukannya besok.

__ADS_1


__ADS_2