
Malam hari Arriel mengantarkan Loveta pulang. Seharian bersama anaknya membuatnya cukup senang. Apalagi anaknya sudah dekat dengan mamanya. Arriel mengantarkan Loveta sendiri. Sang mama tidak mau ikut karena tidak mau bertemu Dathan. Masih terlalu malu bertemu dengan mantan menantunya itu.
Neta dan Dathan langsung menyambut Loveta ketika mobil terdengar di depan rumah mereka. Dari dalam mobil tampak Loveta keluar. Disusul dengan Arriel.
“Mami.” Loveta langsung memeluk Neta ketika melihat Neta.
Arriel yang melihat sang anak hanya tersenyum. Anaknya memang menyayangi Neta. Jadi wajar saja langsung memeluk Neta.
“Cinta.” Neta mengeratkan pelukannya.
“Lolo bawa kue, Mi. Tadi Lolo buat.” Loveta langsung bercerita ketika memeluk sang mami.
“Oh ... ya. Wah ... mami tidak sabar.” Neta begitu tampak antusias.
“Hai, Ta.” Arriel menyapa Neta dengan senyuman di wajahnya. Arriel beralih pada
Dathan. “Hai, Than.” Dia menyapa mantan suaminya itu.
“Hai.” Dathan menjawab singkat. Diiringi senyum tipis di sudut bibirnya.
__ADS_1
“Hai, Riel.” Neta menyapa balik. “Maaf tadi pagi aku tidak ikut menemuimu.” Dia merasa tidak enak perihal tadi pagi.
“Tidak apa.” Arriel sendiri tidak mempermasalahkan. “Ini, aku tadi membuat kue bersama Lolo.” Dia memberikan kue yang dibuatnya bersama anaknya.
“Wah ... Mami tidak sabar memakan kue buatan Cinta dan Mama Arriel.” Neta menatap anaknya yang masih di pelukkan.
“Kalau begitu aku pamit dulu.” Arriel memilih untuk segera pergi.
“Kenapa buru-buru?” Neta menatap bingung.
“Aku mau mengerjakan beberapa desain.” Arriel memang ada desain perhiasan yang harus dibuatnya. Jadi tentu saja dia memilih untuk segera pulang.
Arriel mendaratkan kecupan pada anaknya. Berpamitan dengan anaknya. Kemudian, dia segera pergi meninggalkan rumah Dathan.
Sepeninggal Arriel, Dathan dan Neta mengajak Loveta masuk. Mereka segera menikmati kue yang dibuat oleh anak mereka.
“Wah ... enak sekali kue buatan Cinta.” Neta memuji anaknya.
“Ini yang pelangi Lolo yang hias.” Dia memamerkan kue buatannya.
__ADS_1
“Papa akan coba kue mana yang dibuat anak Papa.” Dathan dengan semangat mencicip kue yang dibuat anaknya. Saat merasakan rasa manis dari kue tersebut, Dathan langsung tersenyum senang. “Ini enak sekali.” Dia memuji kue buatan sang anak.
Saat dipuji, Loveta begitu senang sekali. Senyumnya menghiasi wajahnya.
Mereka bertiga sibuk menikmati kue buatan Arriel. Sesekali mereka masih memuji kue buatan Loveta.
Malam yang sudah menyapa membuat Neta meminta Loveta untuk segera bersiap tidur. Memintanya menggosok gigi agar bisa segera tidur. Tadi, Loveta mengatakan jika dia sudah makan. Jadi tentu saja Neta lebih tenang. Karena anaknya tinggal pergi tidur. Beristirahat agar besok pagi lebih segar ketika sekolah.
Setelah Loveta tidur, Dathan dan Neta kembali ke kamar mereka. Mereka juga butuh istirahat. Karena besok mereka harus bekerja kembali.
“Arriel dan Cinta sudah begitu dekat.” Neta naik ke atas tempat tidur. Menyusul sang suami yang sudah lebih dulu.
“Iya.” Dathan ikut senang. Karena dengan begitu anaknya mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
“Aku berharap Arriel bisa mendapatkan pria yang bisa menerima Loveta juga. Jadi dia tidak akan kehilangan kasih sayang mamanya.” Neta mengembuskan napasnya. Sebenarnya tidak mau ikut campur. Namun, mau bagaimana juga mereka terikat satu dengan yang lain.
“Berdoa saja dia dapat pria yang baik.” Dathan sendiri juga berharap hal itu. Jika mantan istrinya mendapatkan pria baik. Tentu saja membuat perkembangan sang anak baik.
“Iya, semoga ada pria baik untuknya.” Neta tersenyum. Dia juga turut berdoa untuk mantan istri, suaminya itu.
__ADS_1