
Neta memilih untuk memiringkan tubuhnya saat Dathan akan berbicara. Mendengarkan dengan saksama mendengarkan Dathan memulai menjelaskan apa yang menjadi penyebab perceraiannya. Neta berharap, ini akan dapat meyakinkan dirinya. Jika Dathan adalah pilihan yang tepat.
Dathan memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Neta. Kali ini, dia benar-benar ingin bicara serius dengan Neta.
“Aku mengenalnya setahun. Saat itu aku berumur sekitar tiga puluh tiga dan dia sekitar dua puluh delapan tahun. Dia begitu cantik dan aku menginginkannya bisa menjadi ibu dari anak-anakku. Tapi, ternyata setelah pernikahan dia mengatakan jika tidak mau punya anak lebih dulu karena dia masih ingin mengembangkan usahanya itu. Waktu itu aku menjelaskan jika semua bisa berjalan seimbang. Karena memang orang tuaku melakukannya. Dia tidak terima dengan pendapatku. Egonya yang terlalu tinggi membuatnya akhirnya memutuskan untuk bercerai saja. Aku yang kala itu juga memang sama-sama egois, akhirnya menerima.” Dathan menjelaskan duduk perkara perceraiannya.
Neta masih diam saja dan mendengarkan Dathan. Tidak sama sekali memotong pembicaraan Dathan. Dia ingin mendengarkan dengan baik apa cerita Dathan.
“Tanpa disangka, ternyata dia hamil saat pengajuan perceraian itu. Saat itu aku menurunkan egoku untuk mengajaknya kembali. Memperbaiki semua. Sayangnya, dia mengajukan persyaratan padaku untuk kembali.” Membuka kenangan lama memang selalu menyakitkan, tetapi ketika akan memulai lembaran baru, semua harus dijelaskan.
“Syarat apa?” Rasa penasaran Neta mengantarkannya bertanya.
“Dia mau kembali, tetapi anakku akan diasuh babysitter. Karena dia harus fokus pada perusahaannya.” Dathan menjelaskan apa syarat yang diberikan mantan istrinya. “Saat itu juga aku memutuskan untuk tetap melanjutkan perceraian dan mengambil hak asuh atas Cinta, karena aku tidak mau Cinta jatuh pada ibunya yang pasti sangat sibuk dan menyerahkan tanggung jawab pada babysitter. Dia yang mendengar jika aku meminta hak asuh pun, menerima. Dia merasa itu lebih menguntungkan untuknya karena bisa leluasa bekerja. Setelah melahirkan, perceraian kami dilanjutkan. Sejak itu Cinta bersamaku sampai sebesar ini.” Dathan menjelaskan semuanya pada Neta.
“Tapi, bukannya mantan istrimu setiap sabtu dan minggu bertemu dengan Cinta. Artinya dia tidak benar-benar tidak menginginkan Cinta ‘kan?” Dari beberapa kali cerita Dathan dan Cinta, dia merasa jika hubungan Loveta dan mamanya baik.
“Sejak dulu memang dia tetap meluangkan waktu di hari sabtu dan minggu. Hanya saja tetap pekerjaan yang menjadi prioritas utama. Seperti halnya minggu kemarin, dia tidak bisa karena sedang di luar negeri. Minggu depan juga dia tidak bisa karena masih akan pekerjaan. Jadi Cinta ada diurutan nomor dua dalam prioritasnya.” Dathan menjelaskan semuanya. Rasanya sakit ketika melihat anaknya tidak mendapatkan kasih sayang penuh dari ibunya.
Neta mulai paham masalahnya. Dia tidak menyangka jika ada yang seperti itu. Mungkin inilah alasan beberapa anak berada di panti asuhan. Karena mereka tidak menjadi prioritas utama orang tua mereka. Namun, mungkin Cinta jauh lebih beruntung karena memiliki papa sebaik dan sesayang Dathan.
__ADS_1
“Apa aku terdengar egois ketika memutuskan bercerai, karena istriku memilih untuk bekerja?” Dathan menatap Neta.
“Menurutku tidak.” Neta menggeleng. “Setiap orang punya prinsip masing-masing, dan tidak semua orang bisa mengerti. Jika pasangan mengerti mungkin semua akan berjalan dengan baik, jika tidak memang pada ujungnya akan seperti yang terjadi padamu.” Neta memberikan pandangannya.
“Sebenarnya aku tidak mau melarang seorang istri bekerja. Hanya saja, aku mau anak menjadi prioritas utama.” Dathan yang dibesarkan dengan keluarga yang memang mengutamakan anak sebagai prioritas berharap anaknya juga bisa mendapatkan hal itu juga.
“Karena itu kamu bertanya padaku mana yang aku pilih keluarga atau karir?” Neta mengingat pertanyaan yang diberikan oleh Dathan kala itu.
Dathan mengangguk. Dia sengaja melakukan itu memang karena agar tidak salah ketika harus memilih lagi.
Neta tersenyum. “Aku hidup di panti asuhan. Tidak pernah merasakan keluarga. Tidak pernah merasakan diperhatikan ayah dan ibu. Sejak dulu aku selalu berharap. Kelak saat aku punya keluarga, aku ingin mencurahkan kasih sayangku pada keluargaku.” Tanpa sadar air mata Neta menetes. “Aku mengerti sekali bagaimana perasaanmu yang ingin melakukan itu, karena aku pun ingin melakukan hal yang sama. Menjadikan keluarga sebagai prioritas utama.” Akhirnya Neta dapat jawaban kesamaan apa yang ada padanya dan Dathan.
Dathan merasa tidak salah memilih wanita kali ini. Neta memiliki prinsip yang sama dengannya. Dengan latar belakang Neta yang haus akan kasih sayang keluarga, Neta ingin anak-anakanya kelak mendapatkan kasih sayang juga. Dan dirinya yang ingin istri yang bisa menjaga anak-anaknya bersama. Merasa jika Neta adalah wanita yang tepat untuknya.
Neta menatap lekat wajah Dathan lekat. Neta merasa jika Dathan adalah pria yang tepat untuknya. Segala yang dibutuhkannya ada pada Dathan. Dathan yang menyayangi keluarga, Dathan yang selalu memprioritaskan keluarga dari segalanya, Dathan yang begitu baik. Entah apa yang harus Neta cari lagi jika ada sebongkah emas di depannya.
“Tidak perlu dijawab sekarang jika kamu masih ragu.” Dathan menjauhkan tubuhnya.
Neta menghentikan Dathan yang hendak menjauh darinya. Tangannya memegang lengan Dathan. “Aku sudah tahu banyak tentangmu, tetapi kamu belum tahu banyak tentangku,” ucapnya.
__ADS_1
Dathan tersenyum. Memang tidak adil jika hanya dirinya saja yang menceritakan bagaimana kisah hidupnya. “Aku banyak punya stok pertanyaan yang harus kamu jawab. Itu akan membuatku tahu bagaimana dirimu.”
Neta mengingat jika wawancara dirinya masih harus dibalas dengan pertanyaan dari Dathan.
“Setelah kamu mengenalku dengan baik dan kamu sudah benar-benar yakin padaku, tanyakan pertanyaan tadi lagi nanti padaku. Agar aku bisa menjawabnya karena ternyata aku adalah orang yang kamu butuhkan untuk hidupmu.” Neta malu-malu mengatakan akan hal itu.
“Tentu saja aku akan menanyakan hal itu nanti.” Dathan tersenyum puas. Hanya tinggal beberapa langkah mendapatkan Neta. Tak sabar menjadikan Neta Nyonya Fabrizio.
“Kalau begitu aku pamit dulu.” Neta merasa posisinya sudah tidak nyaman. Dia justru takut tergoda karena Dathan begitu dekat dengannya. Apalagi dia cukup lama parkir di depan kosan.
Dathan menarik senyumnya, dia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Neta. Membiarkan Neta untuk pergi. “Selamat malam, sampai bertemu besok.” Untuk hari ini sudah cukup bagi Dathan.
Neta tersenyum. “Selamat malam.” Dia segera keluar ketika Dathan membuka kunci mobilnya. Neta melambaikan tangannya ketika masuk ke kosnya.
Tepat saat Neta memasuki kawasan kosnya, Dathan melajukan mobilnya. Meninggalkan kosan Neta.
Neta terus berjalan masuk ke kosan. Hari ini dia benar-benar senang karena akhirnya tahu apa yang menjadi alasan Dathan bercerai.
“Neta.”
__ADS_1
Saat berjalan masuk ke kawasan kosnya, seseorang memanggil Neta. Membuat Neta berbalik untuk melihat siapa yang memanggil namanya itu.