
Pagi ini Loveta sudah mulai sekolah. Walaupun dia masih bersedih, dia masih tetap sekolah.
“Nanti Kak Liam kapan telepon Lolo, Pi?” Di dalam perjalanan ke sekolah, Loveta bertanya. Dia sudah tidak sabar berbicara dengan Liam.
Dathan yang sedang fokus pada jalanan, menoleh sejenak pada sang anak. “Papi tidak tahu, tapi semoga Kak Liam cepat telepon.” Dia mencoba memberikan pengertian.
“Lolo mau tunggu Kak Liam telepon hari ini.” Loveta masih bersikukuh walaupun sudah dijelaskan.
Dathan hanya bisa menggeleng. Bagaimana bisa anaknya keras kepala sekali. Seketika dia ingat mantan istrinya. Sifatnya sama persis seperti Loveta. Alih-alih menjawab dan melanjutkan perdebatan, Dathan memilih diam. Membiarkan anaknya melakukan apa pun.
Dathan dan Loveta sampai di sekolah. Mereka segera turun dari mobil. Dathan mengantarkan Loveta ke kelasnya. Tidak seperti biasanya, Loveta begitu diam. Dia melewati teman-temannya, tanpa menyapa.
“Papi pergi dulu.” Dathan berpamitan dengan anaknya.
Loveta mengangguk. Mengizinkan sang papi pergi.
__ADS_1
Dathan pergi meninggalkan anaknya di kelas. Saat Dathan pergi Leo menghampiri Loveta. Pria kecil itu merasa aneh dengan temannya itu karena sejak datang diam saja. Padahal Loveta sangat ramah. Saat datang dia akan menyapa teman-temannya. Termasuk dirinya.
“Kamu kenapa?” Leo adalah anak yang cuek. Namun, saat Loveta diam, dia justru biasanya berubah perhatian.
“Kak Liam pergi ke Italia.” Loveta berkaca-kaca ketika menceritakan apa yang terjadi.
“Kenapa pergi?” tanya Liam.
“Ikut dengan mamanya.”
“Sedih karena aku tidak akan bertemu Kak Liam. Sudah tidak ada Kak Liam lagi di sini.” Loveta menangis. Dia memang sedih karena tidak akan bisa bertemu Liam sekali pun kemarin sudah dijelaskan masih bisa bertemu ketik Liam berkunjung, tetapi tetap saja Loveta menangis. Menurutnya jarak Indonesia-Italia terlalu jauh jadi pasti susah untuk bertemu.
Leo tidak tega melihat apa yang terjadi pada Loveta. Dia pun memilih untuk menenangkan Loveta. “Masih ada aku,” ucapnya.
“Leo jangan pergi juga.” Loveta menatap Leo penuh harap.
__ADS_1
“Iya, aku tidak akan pergi.” Leo mengangguk. Tangan mungilnya menghapus air mata yang berada di pipi Loveta.
Loveta pun tersenyum. Dia senang. Walaupun tidak ada Liam. Masih ada Leo di sisinya.
Drama dua anak kecil itu sudah mengalahkan drama percintaan orang dewasa. Tentu saja itu membuat orang yang melihatnya pasti akan tertawa. Termasuk Dathan yang masih mengintip di balik jendela kelas. Dathan benar-benar sakit kepala melihat anaknya. Tidak bisa membayangkan jika besar nanti. Apalagi berada di antara para pria tampan.
“Pak Dathan.”
Dathan yang mendengar namanya dipanggil segera memutar tubuhnya. Ternyata yang memanggil adalah guru Loveta. “Iya, Miss.”
“Pak Dathan belum pulang?” Bel masuk sudah berbunyi. Biasanya orang tua diharapkan untuk segera keluar saat bel berbunyi. Namun, Dathan masih belum pergi.
“Saya masih melihat Cinta tadi.” Dathan mengalihkan pandangan pada anaknya yang berada di balik kaca. “Tapi, ini saya sudah mau pergi. Kalau begitu saya permisi dulu.” Dathan yang merasa tidak enak memilih untuk segera pergi.
Guru Loveta pun ikut mengintip apa yang ada di balik kaca. Loveta tampak tertawa dengan Leo. Tidak ada yang aneh. Dia pun segera masuk ke kelas. Memulai pelajaran.
__ADS_1