Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Kenangan Indah


__ADS_3

Dathan bermain layangan bersama anak-anak. Kebetulan area perkemahan adalah lapangan luas. Jadi mereka bisa bermain sepuasnya.


Dathan memberikan tiga layangan pada anaknya. Meminta mereka untuk menerbangkannya. Anak-anak hanya berlari-lari sambil menarik layangan. Melihat layangan mereka yang terbang membuat mereka bertiga senang sekali.


Dathan membiarkan mereka untuk berlarian sambil menerbangkan layangan. Walaupun tidak tinggi mereka sudah cukup senang.


Neta yang melihat ketiga anaknya bermain merasa begitu senang sekali. Ternyata  hal sederhana itu membuat anak-anak senang.


“Mami lihat layangan aku tinggi.” Loveta berteriak memberitahu sang mami.


“Pintar.” Neta tersenyum melihat anaknya.


“Omi, ayangan Anish ua ingi.” Danish tak kalah dengan sang kakak. Memamerkan layangannya. Anak-anak adalah peniru ulung. Jadi mereka akan meniru orang-orang di sekitarnya. Seperti yang dilakukan Danish. Meniru kakaknya.


“Pintar.” Neta memberikan jempol pada Danish.


Dathan menghampiri sang istri ikut duduk di samping sang istri. Dia kelelahan ikut berlari-lari dengan anak-anaknya.


Melihat sang suami yang mendekat, Neta segera memberikan minuman. Dia tahu sang suami begitu kelelahan.


Dathan langsung meminum air di dalam botol yang diberikan sang istri. Meredakan rasa hausnya.


“Aku rasa, aku harus banyak olah raga, agar bisa menemani anak-anak bermain.” Dathan merasa staminanya berkurang. Karena baru lari sebentar saja, dia sudah kelelahan.


“Olahragalah yang benar. Jangan berkedok olahraga malam saja.” Neta menyindir sang suami.


Dathan langsung tertawa. Merasa sang istri selalu tepat saat menyindir.


“Iya, setelah ini aku akan berolahraga dengan benar.” Dathan mengalihkan pandangan pada anak-anaknya. “Aku ingin menemani anak-anak sampai dewasa. Jadi aku akan berolahraga dengan benar.” Dathan sadar jika usianya bukan muda lagi. Menunggu anak-anak dewasa, usianya akan bertambah tua.


Neta melihat sang suami yang tampak sedih membayangkan anak-anak yang kelak akan bertumbuh dewasa.


“Kamu akan selalu sehat. Menemani anak-anak yang akan tumbuh dengan baik. Mendatangi pesta kelulusan mereka. Mengantarkan mereka ke perguruan tinggi. Kemudian mengantarkan mereka ke pelaminan.” Neta melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Memberikan keyakinan jika sang suami akan berumur panjang dan akan menemani anak-anak sampai dewasa.

__ADS_1


Dathan mendaratkan kecupan di dahi sang istri. Dia selalu tenang ketika sang istri menenangkannya. Dathan merasa beruntung mendapatkan istri seperti Neta.


Saat Dathan dan Neta sedang menikmati waktu berdua, tiba-tiba suara Nessia terdengar. Dathan dan Neta langsung mengalihkan pandangan. Terlihat Nessia sedang berjongkok sambil menangis. Dengan segera Dathan dan Neta langsung menghampiri. Mereka langsung berjongkok untuk menyejajarkan tubuh dengan anaknya.


“Kenapa, Sayang?” tanya Neta.


“Apa kamu terjatuh? Mana yang sakit? Bagian mana yang sakit?” Dathan mengecek kaki anaknya. Mencari luka anaknya.


Bukannya diam, Nessia justru semakin kencang menangis. Tentu saja hal itu membuat Neta dan Dathan semakin bingung.


“Sayang, jangan justru membuatnya takut. Tanyakan pelan-pelan.” Neta menegur suaminya itu. Anak-anak akan cenderung menangis jika orang dewasa panik.


Dathan langsung seketika memilih diam. Tak mau membuat anaknya menangis lagi.


Neta membelai lembut rambut Nessia. “Kenapa, Sayang?” Dia bertanya dengan lemah lembut.


Mendapati sikap maminya yang lembut membuat Nessia lebih tenang. Dia seketika menghentikan tangisnya. “Ayanganan obek.” Nessia menunjuk layangan yang diinjak Dathan.


Dengan segera Dathan menjauh. Namun, sepertinya layangan semakin sobek. Tentu saja itu membuat Nessia kembali menangis.


Neta hanya bisa menggeleng saja. Suaminya yang panik justru membuat layangan makin sobek.


“Tenang, Sayang. Papi masih ada.” Dathan langsung berdiri. Mengambil layangannya yang tadi juga sempat diterbangkan.


“Sabar, Sayang, Papi sedang ambil.” Neta menghapus air mata sang anak.


Dathan kembali dengan membawa layangannya. “Ini.” Dathan tersenyum ketika memberikan layangan itu.


Nessia langsung menghentikan tangisnya. Ternyata masih ada layangan yang bagus. Dengan segera dia mengambil layangan dari sang papi.


“Sekarang Nessia bisa bermain lagi.” Dathan membelai lembut rambut anaknya.


Nessia langsung menangguk. Kemudian bergabung dengan saudara kembar dan kakaknya.

__ADS_1


Neta dan Dathan berdiri. Mereka hanya tersenyum. Mereka berdua selalu menikmati momen anak-anak. Dari bahagia, tangis, dan juga marah. Anak-anak belajar mengendalikan emosinya, dan kedua orang tuanya menemani perkembangan itu.


Neta dan Dathan merasa jika menjadi orang tua adalah sesuatu anugerah. Kebahagiaannya tak akan terganti.


“Sepertinya kira harus ikut main.” Dathan menatap sang istri.


“Iya, kita ukir kenangan indah untuk mereka.” Neta selalu ingin jadi bagian tumbuh kembangan anak-anaknya.


Dathan dan Neta bergabung dengan anak-anak. Tertawa bersama menikmati waktu bersama. Waktu yang tidak akan pernah terulang.


...TAMAT...


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Pesona Sang Pewaris...


...Di Noveltoon...


Blurb


Liam datang untuk meminta hak atas restoran yang dibangun orang tuanya. Sayangnya, ibu tirinya tidak mau memberikan pada Liam. Dia merasa anaknya Leo yang lebih berhak memiliki restoran ternama itu.


"Aku bisa berhenti meminta restoran itu dengan satu syarat. Berikan Loveta padaku, maka aku lepaskan restoran itu."


"Aku tidak akan melepaskan keduanya." Leo tidak akan pernah melepaskan gadis yang dicintainya. Dia juga akan berusaha mempertahankan Loveta dan juga restoran miliknya.


Bagaimana persaingan dua pewaris restoran ternama itu? Siapa dari mereka yang akan mendapatkan restoran? Pesona siapa yang dapat meluluhkan hati Loveta?

__ADS_1


__ADS_2