
Dathan menggantung ucapannya. Justru dia senyum-senyum sendiri ketika tidak melanjutkan ucapannya.
“Aku apa?” Neta begitu penasaran sekali. Sang suami menggantung jawaban atas pertanyaannya.
Dathan mengingat apa yang dilakukannya tadi di ruangan dr. Lyra sebelum menceritakan pada sang istri.
“Sayang, kamu langsung ke apotek saja. Ada yang ingin aku tanyakan dulu pada dokter.” Saat di depan pintu ruang pemeriksaan dokter kandungan, meminta sang istri untuk pergi lebih dulu.
Neta hanya mengangguk saja. Membiarkan sang suami untuk masuk ke ruang pemeriksaan lagi. Sesuai dengan yang diminta sang suami, dia segera ke apotek bersama dengan sang anak.
Dathan kembali ke ruang pemeriksaan. Dr. Lyra yang melihat Dathan kembali sedikit terkejut. Karena tadi Dathan sudah keluar.
“Apa ada yang tertinggal, Pak Dathan?” tanya dr. Lyra.
“Maaf, Dok, ada yang mau saya tanyakan.” Dathan menarik kursi dan kembali duduk.
“Tanya apa?” Dr. Lyra menatap Dathan yang duduk di depannya itu.
Dathan bingung mau memulai bagaimana bertanya pada dokter. Memilih kalimat yang tepat untuk diberikan. “Apa kondisi istri saya baik?” Dia memilih bertanya hal itu terlebih dulu.
“Seperti yang tadi saya jelaskan. Keadaan istri Pak Dathan baik-baik saja.” Dr. Lyra menjelaskan.
__ADS_1
“Apa jika keadaan istri saya baik-baik saja dia boleh berhubungan suami-istri?” Pertanyaan itu akhirnya meluncur juga dari mulut Dathan.
Dr. Lyra akhirnya tahu apa yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Dathan. Hal yang sering ditanyakan para bapak-bapak yang saat istrinya hamil. Namun, sejenak dr. Lyra berpikir, pria di depannya sudah punya anak yang cukup besar. Lalu kenapa pria di depannya itu bertanya.
“Sebaiknya hubungan suami-istri dilakukan di trimester kedua. Tepatnya empat bulan. Di saat itu keadaan janin sudah kuat.” Dr. Lyra menjelaskan pada Dathan.
Wajah Dathan yang tadinya antusias sekali seketika berubah kecewa. Dia memang tidak tahu berapa lama waktu ibu hamil tidak boleh melakukan hubungan suami istri. Mengingat dulu dia dan mantan istrinya tidak melakukan hal itu.
“Tapi, tetap boleh dilakukan dengan berhati-hati jika memang Pak Dathan menginginkan.”
Binar kebahagiaan terpancar dari bola mata Dathan. Ini seperti oase di tengah guru sahara. Tentu saja melegakan sekali.
“Saya sarankan, lakukan di saat tubuh ibu hamil sehat. Pastikan tidak dalam keadaan kelelahan. Satu lagi pastikan jika melakukannya dengan perlahan. Jika dalam kegiatan itu ibu hamil kelelahan dan kesakitan, saya mohon dihentikan. Untuk keselamatan bayi dalam kandungan.” Dr. Lyra menjelaskan panjang lebar.
“Saya paham, Dok.” Dathan tersenyum.
Dathan segera berpamitan pada dr. Lyra. Dia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Jadi dia segera keluar dan menyusul sang istri di apotek.
Apa yang dikatakan dr. Lyra kembali menghiasi ingatan Dathan. Rasanya tak sabar ketika membayangkan melakukan itu bersama istrinya. Setelah sebulan dia ketakutan menjamah sang istri.
“Aku tadi tanya, apakah aku bisa melakukan hubungan suami-istri denganmu.” Dathan menceritakan apa yang dikatakan dr. Lyra pada sang istri.
__ADS_1
Pipi Neta langsung merona. Dia malu sekali ketika sang suami bertanya akan hal itu pada dokter kandungannya. Namun, Neta sadar jika sang suami sudah sebulan lamanya tidak menjamahnya. Jadi tentu saja hasratnya menggebu.
“Lalu apa kata dokter?” Neta ingin mendengar cerita dari Dathan tentang percakapan dengan dokter kandungan.
“Boleh dilakukan asal di saat kamu tidak lelah dan harus dilakukan dengan lembut agar tidak membahayakan anak kita.” Dathan menceritakan kesimpulan yang diambilnya.
Neta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengerti yang dijelaskan oleh sang suami.
“Apa sekarang kamu lelah?” Dathan langsung melemparkan pertanyaan itu.
Neta menggeleng malu-malu.
“Kamu sedang tidak meriang, pusing, atau mual?” Dathan kembali memastikan keadaan sang istri.
Neta kembali menggeleng lagi.
Dathan langsung berbinar. Itu adalah isyarat jika sang istri sudah siap untuk merengkuh kenikmatan bersamanya.
“Kalau begitu ayo lakukan.” Dathan tersenyum menyeringai.
Neta malu-malu mengangguk.
__ADS_1
Dathan mengangsur tubuhnya. Mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Menikmati bibir manis sang istri. Sebulan memang waktu sebentar, tapi bagi Dathan yang sudah terbiasa, ini teramat sulit. Menahan hasratnya ketika ada sang istri di depan mata lebih berat dibanding sewaktu menduda.
Malam ini Dathan menuntaskan hasrat yang telah dipendamnya. Melakukannya dengan perlahan sesuai dengan saran dokter. Dalam kelembutan, keduanya merengkuh indahnya kenikmatan. Kenikmatan yang hanya mereka suami dan istri rasakan.