Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Menginap Denganku?


__ADS_3

“Apa kamu bisa menginap di sini denganku?” Dathan yang mendapatkan permintaan dari Arriel justru menawari Neta juga. Dia tidak mau jika sampai harus menginap sendiri.


Neta terperangah. Bagaimana bisa dirinya menginap di rumah orang yang dikenalnya saja belum. Tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung.


Arriel tidak menyangka jika Dathan akan mengajak kekasihnya untuk tidur di apartemennya juga. Namun, dia sadar jika Dathan tidak datang sendiri.


“Jika kamu tidak mau, aku akan membawa Cinta pulang.” Dathan yang melihat Neta tak kunjung menjawab pun langsung memberikan inisiatif lain.


Loveta sedang terlelap tidur. Jika diangkat dan diajak pulang, pasti sangat kasihan sekali. Mengganggu tidurnya. Hal itu membuat Neta menjadi tidak tega sama sekali.


“Baiklah, aku mau.” Akhirnya Neta memilih ikut menginap dari pada harus memaksa


membawa Loveta pulang malam-malam.


Dathan lega Neta mau ikut menginap, jadi dia tidak akan punya masalah di kemudian hari dengan Neta. Dathan hanya tidak mau suatu hari Neta cemburu padanya.


Dathan mengalihkan pandangan pada Arriel.


“Aku akan menginap.”


Arriel tidak punya pilihan lain. Dia pun memilih untuk menerima keputusan Dathan. Mengizinkan Dathan menginap di apartemennya dengan kekasihnya.

__ADS_1


“Kamar hanya ada satu.” Kalimat yang keluar dari mulut Arriel seperti pemberitahuan jika satu kamar tidak akan bisa mereka tempati karena mereka belum sah sebagai suami istri.


“Aku akan tidur di sofa.” Dathan tersenyum pada Neta. Dia tidak masalah jika harus memberikan tempat tidur pada sang kekasih.


“Aku juga tidur di sofa saja.” Neta merasa tidak enak ketika harus berada di kamar Arriel. Rasanya canggung sekali ketika harus merepotkan mantan istri Dathan.


Arriel bingung dengan permintaan Neta. Dia memilih menatap ke Dathan, menunggu tanggapan dari pria itu.


“Baiklah, kita tidur di sofa bersama.” Dathan mengerti jika Neta pasti tidak nyaman dengan Arriel. Jadi akan lebih baik jika mereka berada di tempat yang sama.


Arriel hanya terperangah ketika mengetahui jika Dathan setuju. Jika sudah begini Arriel pun tidak ada pilihan. Lebih baik mengalah saja. “Baiklah kalau begitu.” Dia setuju saja.


Dathan menatap Neta. Mereka berdua keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu. Arriel yang masih di kamar mengambil bantal dan selimut. Dia sendiri bingung, bagaimana Dathan dan kekasihnya tidur, sofa tidak terlalu besar. Jadi pastinya mereka akan kesulitan. Namun, Arriel terlalu malas untuk memikirkannya.


“Terima kasih.” Dathan menerima selimut yang diberikan Arriel.


Arriel menatap Neta sejenak. Kemudian memilih untuk pergi ke kamarnya. Menjaga Loveta yang masih demam.


“Aku merasa tidak enak.” Sesaat setelah Arriel pergi. Neta mengungkapkan perasaannya pada Dathan.


“Aku tahu.” Dathan tersenyum.

__ADS_1


“Lalu kenapa tadi mengajakku menginap. Padahal aku bisa saja pulang sendiri.” Neta justru menyalahkan apa yang dilakukan oleh Dathan.


“Aku tidak akan biarkan kamu pulang sendiri.” Dathan tersenyum. “Sudah malam, ayo sekarang kita tidur.” Dathan malas sekali berdebat.


Neta juga malas berdebat. Apalagi semua sudah terjadi.


Dathan duduk. Kemudian menepuk pahanya. Meminta Neta untuk tidur di kakinya. Dia tahu sofa terlalu kecil untuk mereka berdua. Jadi lebih baik dia yang duduk, dan Neta yang merebahkan tubuhnya.


“Cepat.” Dathan memberikan perintahnya ketika sang kekasih tak kunjung mendekat.


Neta tak pikir panjang, dia segera meraih selimut. Kemudian merebahkan tubuhnya di sofa. Meletakkan kepalanya tepat di paha Dathan. Selimut yang dibawanya, dipakai untuk menutupi tubuhnya. Agar tidak kedinginan.


“Tidurlah.” Tangan Dathan membelai lembut rambut Neta. Mengusapnya agar membuat Neta tertidur.


Neta tersenyum dengan yang dilakukan Dathan. Namun, belaian lembut tangan Dathan membuatnya begitu mengantuk. Perlahan Neta pun terlelap.


Dathan yang memang sudah mengantuk pun perlahan memejamkan matanya.


Arriel yang berada di balik tembok melihat jelas bagaimana Dathan membelai lembut kekasihnya. Rasa sesak mulai menyelusup ke dadanya. Rasanya dia iri dengan yang dilakukan oleh Dathan. Dulu dia tidak pernah memperlakukan hal itu. Meskipun punya waktu tiga bulan pernikahan, tetap pernikahan mereka terasa hambar. Mereka hanya sibuk bekerja dan pulang dalam keadaan lelah.


Melihat tadi bagaimana Dathan dan kekasihnya saling membantu saat tadi mengecek dan memberikan obat Loveta, itu juga membuatnya iri. Dathan seolah menemukan orang yang sama seperti dirinya. Berbeda dengannya yang benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengurus anak.

__ADS_1


Arriel mengembuskan napasnya. Berusaha menahan gemuruh dalam hatinya. Dia memilih kembali ke kamar. Dia ingin menemani anaknya yang tertidur di kamar. Kali ini, dia tidak mau sampai menyesal karena tidak bisa menemani Loveta saat demam.


__ADS_2