
Dathan mengembuskan napasnya. Dia kemarin sudah dengar sang anak minta pulang. Namun, dia tidak menyangka jika kali ini anaknya mau minta pulang lagi. Dathan mulai berpikir bisa jadi anaknya sakit karena ingin pulang.
“Sayang, apa kamu tidak suka tinggal dengan mama?” Arriel mendekat ke arah
Loveta. Dia duduk tepat di samping anaknya. Sejujurnya, dia benar-benar terluka. Anaknya baru beberapa hari, tetapi sudah minta pulang.
“Lolo mau pulang.” Loveta masih dengan pendiriannya.
Arriel benar-benar kecewa. Sesulit itu dekat dengan anaknya sendiri. Rasanya sakit sekali. Ke mana dirinya selama ini, sampai-sampai anaknya tidak nyaman dengannya dengannya?
Dathan menatap Arriel. Dia tidak tega melihat wajah Arriel yang kecewa sekali, tetapi anaknya tidak bisa dipaksa. Itu justru akan melukai hatinya.
“Baiklah, kita pulang.” Dathan tersenyum.
Arriel menatap Dathan. Dia semakin kecewa ketika Dathan justru setuju mengajak Loveta pulang. Harusnya Dathan bisa membujuk anaknya. Jika seperti ini, dia akan kesulitan untuk dekat anaknya.
“Ye ... Lolo pulang.” Loveta begitu senang. Senyum menghiasi wajahnya.
Melihat senyum Loveta, hati Arriel semakin terluka. Sungguh membuatnya sakit sekali. Namun, dia tidak bisa menunjukkan di depan anaknya.
“Bisakah kita bicara dulu, Than.” Arriel menatap Dathan. Dia harus bicara dengan Dathan terlebih dahulu.
“Papa bicara dengan mama lebih dulu. Cinta bisa masukkan barang-barang milik Cinta.” Dathan membelai lembut wajah Loveta. Dengan semangat Loveta mengangguk.
__ADS_1
Dathan dan Arriel memilih untuk keluar dari kamar. Arriel mengajak Dathan untuk ke ruang tamu. Ada banyak hal yang harus dibicarakan.
“Than, kenapa kamu mengiyakan apa yang diminta Lolo. Kamu bisa membujuknya ‘kan? Kenapa harus menurutinya untuk pulang?” Tanpa basa-basi Arriel melempar pertanyaan itu.
“Apa kamu tidak lihat bagaimana tadi Cinta memaksa. Ini bukan pertama kali juga. Kemarin dia sudah meminta dan aku sudah membujuknya.” Dathan mencoba menjelaskan pada Arriel. Dia tampak tenang. Berbeda dengan Arriel yang tampak emosional.
“Tapi, kamu bisa membujuknya, jika kamu bujuk lagi, aku yakin sekali dia akan mau tinggal di sini.” Arriel membujuk Dathan. Dia masih berharap anaknya masih tetap tinggal. Tidak pulang seperti yang diinginkan.
Dathan melihat Arriel tampak memaksa sekali. Padahal harusnya dia memahami Loveta yang ingin pulang.
“Aku tidak bisa memaksa dia. Jadi tolong hargai keputusanku. Ini yang terbaik untuknya.” Dathan tidak mau memaksa anaknya. Jadi dia memilih untuk menolak.
“Terbaik untuk Lolo? Lalu apa kamu lupa jika kamu mengatakan aku boleh berusaha untuk dekat dengan Lolo. Jika dia pulang, kesempatanku jadi berkurang. Coba mengertilah, Than. Aku hanya ingin dekat anakku.” Air mata Arriel menetes. Membasahi wajahnya.
Arriel segera meraih tisu. Menghapus air matanya. Dia juga tidak mau Loveta melihatnya menangis.
“Anak tidak bisa dipaksa, Riel. Jika kamu memaksanya, itu justru akan membuatnya lebih terluka. Untuk saat ini pulang adalah jalan terbaik karena itu yang diinginkan Cinta. Untuk kamu yang ingin dekat, kita pikirkan cara dulu agar Cinta nyaman. Jadi aku mohon pahami anak kita.” Dathan begitu tenang sekali ketika menjelaskan pada Arriel. Dia berharap mantan istrinya itu mengerti yang dijelaskan.
Arriel seolah tidak punya pilihan lain. Rasanya sakit sekali usahanya gagal begitu saja. Padahal baru saja dimulai.
“Papa, buku Lolo sudah masuk semua.”
Di tengah-tengah pembicaraan Arriel dan Dathan, Loveta datang dengan sudah menggendong tas. Dathan dan Arriel yang mengalihkan pandangan, melihat jika ternyata Loveta sudah siap untuk pulang. Arriel sungguh tidak menyangka ternyata anaknya sudah begitu bersemangat pulang. Seolah benar-benar tidak betah tinggal di apartemennya.
__ADS_1
“Cinta sudah siap?” tanya Dathan.
“Sudah.” Loveta tersenyum. Dia kemudian beralih pada Arriel. “Mama, maafkan Lolo pulang.” Dengan takut-takut, dia menjelaskan.
Arriel tersenyum. “Iya, Sayang. Nanti mama akan main ke rumah Papa Dathan, nanti kita main bersama.” Arriel tersenyum.
“Iya, nanti kita main bersama.” Loveta begitu bersemangat sekali.
Arriel terpaksa tersenyum. Dia berusaha menerima dan kuat. Tidak mau membuat anaknya bersedih.
“Aku akan ambilkan bajunya.” Arriel berpamitan pada Dathan.
Dathan mengangguk.
Arriel segera menuju ke kamar. Merapikan pakaian-pakaian Loveta ke dalam koper. Walaupun hatinya sedih, dia berusaha untuk kuat.
Arriel membawa koper milik anaknya keluar. Memberikannya pada Dathan. Dengan berat hati Arriel melepaskan anaknya.
“Sampai jumpa, Mama.” Loveta melambaikan tangannya.
“Sampak jumpa.” Arriel di depan pintu melambaikan tangan. Dia menunggu sampai
Loveta dan Dathan masuk ke lift. Saat Dathan dan Loveta hilang dari pandangan, dia pun menutup pintu segera. Air matanya tumpah ketika mengingat jika anaknya benar-benar tidak nyaman dengannya. Sungguh benar-benar menyiksanya.
__ADS_1
“Apa ini balasan atas apa yang aku lakukan di masa lalu?” Arriel menyesali apa yang didapatnya. Merasa ternyata sesakit ini.