
“Sama-sama.” Dathan tersenyum tipis.
Mobil akhirnya sampai di apartemen Arriel. Dathan keluar untuk membantu Arriel mengeluarkan kopernya. Tadi dia meletakkan koper di bagasi. Dia kemudian memberikan pada Arriel.
“Terima kasih, sekali lagi.” Arriel menatap Dathan. Sekalipun Dathan dan dirinya sudah berpisah, terkadang Dathan masih memberikan perhatian kecil.
“Sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu.” Dathan segera berlalu.
“Than.” Arriel kembali memanggil Dathan.
Dathan menghentikan langkahnya dan kembali berbalik. “Apa?” tanyanya.
“Apa benar jika kamu wawancara?” Arriel ingin memastikan kembali apa yang diceritakan oleh asisten rumah tangga. Dia tahu betul Dathan selalu menghindar dari wartawan. Jadi dia merasa aneh ketika Dathan mau diwawancara.
Dathan sudah menebak jika Arriel pasti tanya pada orang rumah. Siapa lagi jika bukan asisten rumah tangganya. Entah apa maksudnya dia menanyakan hal itu. Namun, dia berpikir mungkin karena semalam dirinya mengatakan jika memiliki kekasih, hingga membuatnya ingin tahu.
“Aku pikir saatnya aku keluar ke publik. Agar orang tahu siapa pemilik IZIO.”
Dathan memang selama ini tidak pernah tampil di publik jadi wajar saja. “Kamu wawancara majalah apa?” tanya Arriel.
“Majalah bisnis. Nanti kamu juga akan tahu.”
“Oh … baiklah.” Arriel merasa jika Dathan tidak mau ditanya-tanya lagi.
“Aku pergi dulu.” Dathan segera kembali ke mobilnya. Dia segera menuju ke kantor.
Dathan segera masuk ke mobilnya. Melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Arriel. Arriel masih melihat mobil Dathan yang meninggalkan apartemennya. Saat mobil hilang dari pandangannya, barulah Arriel masuk.
...****************...
Neta menyelesaikan pekerjaanya. Rencananya siang ini dia akan makan siang dengan Dathan dan Loveta. Dathan tadi mengajaknya untuk makan siang. Awalnya Neta menolak, tetapi saat Dathan bilang akan mencari restoran di dekat kantor Neta, akhirnya Neta mau. Lagi pula dia juga rindu dengan Loveta.
“Aku pergi dulu.” Saat jam istirahat tiba Neta buru-buru pergi dan berpamitan pada Maria.
“Jangan terlambat masuk!” Maria memberikan peringatan pada temannya itu.
“Iya.” Neta tersenyum. Dia yang berjalan menoleh ke belakang. Hingga membuat dirinya tidak melihat apa yang ada di depannya. Dan membuatnya menabrak.
“Auch …” Neta sampai terjatuh ketika menabrak.
__ADS_1
“Ta, kamu tidak apa-apa?” Adriel yang melihat Neta jatuh segera mengulurkan tangan.
Neta menerima uluran tangan Adriel. Dia segera berdiri. “Tidak apa-apa.”
“Kamu buru-buru sekali?” Adriel yang melihat Neta buru-buru sampai menabrak merasa heran.
“Aku mau makan siang.” Neta menjelaskan ke mana dia akan pergi.
Adriel yang melihat Neta membawa tas merasa jika Neta sepertinya akan pergi keluar. Dia berpikir, mungkin dia akan pergi dengan kekasihnya.
“Aku pergi dulu.” Neta segera berlalu dan masuk ke lift.
Adriel hanya bisa melihat Neta yang pergi begitu saja. Sepertinya mantan kekasihnya itu benar-benar sedang kasmaran. Sorot mata bahagia terlihat begitu jelas sekali.
Neta segera menuju ke lobi. Tepat di depan lobi, dia melihat mobil Dathan sudah ada. Dia segera masuk ke mobil. Saat Neta masuk, Dathan segera melajukan mobilnya.
“Cinta.” Neta langsung memeluk Loveta. Dia segera mendaratkan kecupan di pipi Loveta karena benar-benar gemas sekali.
“Aunty Neta.” Loveta tertawa ketika merasakan dicium bertubi-tubi. Hal itu tentu saja membuat Neta semakin gemas.
“Papa juga mau ikut.” Dathan yang berada di depan sedang asyik menyetir menjadi iri. Apalagi kekasihnya itu mencium anaknya bertubi-tubi.
Neta pun menjulurkan lidahnya. Meledek Dathan yang melihat dari kaca yang berada di atas dashboard.
Dathan hanya bisa pasrah. Nanti, dia akan melakukannya sendiri.
Mobil sampai di restoran dengan cepat. Neta, Dathan, dan Loveta turun dari mobil. Mereka masuk ke restoran dan memesan makanan. Mereka menikmati makanan bersama.
“Aunty, Lolo mau udang.” Loveta langsung membuka mulutnya.
Neta menyuapi Loveta. Gemas sekali dengan Loveta.
“Aunty, nanti kita jalan-jalan lagi. Lolo mau ke area permainan.” Loveta mengungkapkan keinginannya.
“Baiklah, nanti kalau libur kita ke sana.” Neta dengan semangat mengatakan hal itu.
Dathan yang mendengar pembicaraan itu teringat dengan apa yang dikatakan oleh Arriel jika dia akan membawa anaknya.
“Cinta, sabtu besok mama mau ajak Cinta bermain. Jadi Cinta akan pergi dengan mama.” Dathan mencoba memberikan pengertian pada anaknya.
__ADS_1
“Kalau begitu Aunty Neta ikut saja. Kemarin Aunty Neta ikut papa, sekarang Aunty Neta ikut mama.” Loveta menjelaskan pada Neta. Dia memiliki pikirannya yang polos. Merasa jika Neta bisa ikut kenapa tidak.
Neta merasa bingung. Hal itu tidak mungkin terjadi. Rasanya tidak mungkin jika Neta ikut mantan istri Dathan.
“Aunty Neta akan kerja. Jadi tidak bisa.” Neta mencoba menjelaskan.
Loveta merasa sedih ketika mendengarkan itu. Dia merasa jika dia ingin bermain dengan Neta.
“Bagaimana jika jumat saja saat Aunty pulang kerja?” Neta memberikan ide. Kemudian dia menatap Dathan. “Apa dia akan kelelahan jika pergi jumat sore untuk bermain?” Dia memastikan pada Dathan.
Dathan menimbang-nimbang apa yang dikatakan oleh Neta. “Dia pulang sekolah cepat. Jadi punya waktu untuk istirahat lebih dulu.”
Neta tersenyum. Akhirnya dia dapat waktu juga. “Baiklah, kita akan pergi jumat sore saat Aunty Neta pulang kerja.” Dia menatap Loveta dengan tersenyum.
“Ye ….” Loveta begitu senang.
Neta dan Dathan begitu senang karena melihat Loveta yang ikut senang sekali dengan rencana mereka.
Usai makan, Dathan mengantarkan Neta kembali ke kantor. Neta yang turun dari mobil pun melambaikan tangan pada Loveta yang membuka kaca mobilnya.
Saat mobil Dathan pergi, Neta langsung masuk ke kantor. Tepat saat dirinya berjalan, dari sisi kanan, Adriel berjalan juga ke arah yang sama dengannya.
“Sepertinya kamu sudah dekat dengan anaknya?” Adriel tadi melihat jelas Neta melambaikan tangan pada seorang anak yang kepalanya terlihat dari kaca mobil.
Neta tersenyum. “Kamu tahu bukan jika aku mudah dekat dengan anak-anak.”
“Kamu memang selalu bisa mengambil hati anak-anak.” Adriel mengenal baik Neta.
Neta tersenyum. Ketika lift terbuka, mereka segera masuk.
“Ta, apa kamu yakin pacaran dengan duda?” Tiba-tiba di dalam lift Adriel mengisi keheningan dengan berbicara dengan Neta.
Neta menatap Adriel. “Memang apa yang salah dengan status duda?” Dia langsung melempar pertanyaan itu.
“Tidak ada yang salah, tetapi kamu single, tentu saja bisa mendapatkan yang single juga.” Adriel mencoba memberikan pengertian.
Neta langsung menatap Adriel. Entah kenapa dia tidak suka mendengar kalimat Adriel. “Saat dia tidak mempermasalahkan aku berasal dari keluarga mana, kenapa aku harus permasalahkan statusnya.” Dia langsung menyindir Adriel. Tepat saat itu pintu lift terbuka. Dia segera keluar. Namun, langkahnya terhenti sejenak. “Tidak perlu khawatirkan aku. Aku bisa jaga diriku dengan baik.” Neta memberikan peringatan pada Adriel. Kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
Adriel hanya terdiam. Dia hanya khawatir saja dengan Neta. Namun, sepertinya adik kecilnya itu sudah tumbuh dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri.
__ADS_1