
Neta dan Dathan sampai di supermarket. Mereka membeli beberapa bahan masakan. Dathan sibuk mendorong troli, sedangkan Neta berjalan di samping Dathan.
“Kamu harus mengajari aku memasak nanti.” Neta menatap sang kekasih yang berada di sebelahnya. Dathan yang jauh lebih tinggi membuatnya harus menengadah ketika melihat ke arah Dathan.
“Tentu saja.” Dathan tersenyum. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berbisik pada Neta. “Aku juga bisa mengajari yang lain.”
Neta langsung membulatkan matanya ketika mendengar ucapan Dathan. Namun, dia tahu jika sang kekasih tidak akan pernah benar-benar melakukannya.
“Aku belum butuh sekarang.” Neta tersenyum.
Dathan mencubit pipi Neta. Gemas sekali melihat kekasihnya.
Mereka membeli beberapa bahan masakan. Mereka sudah tampak seperti pengantin baru yang baru saja menikah dan sedang menikmati hari-hari pernikahan mereka.
“Lihatlah siapa ini.”
Tiba-tiba suara terdengar ketika Dathan dan Neta sedang memilih daging. Dari suaranya Dathan sudah menebak siapa. Benar saja. Saat menoleh dia mendapati Reno di belakangnya bersama Rifa-sang istri.
“Hai, Than, Ta.” Rifa tersenyum pada dua orang di depannya.
“Wah ... kalian sudah seperti pengantin baru saja.” Reno menggoda temannya ketika melihat Neta yang melingkarkan tangannya di lengan Dathan.
“Kamu suka sekali menggoda.” Rifa menyenggol sang suami. Suaminya memang selalu begitu, tetapi dia takut Neta belum terbiasa.
Neta tersenyum saja, sedangkan Dathan hanya menatap malas pada temannya itu.
“Lolo ke mana? Dia tidak ikut?” Rifa yang melihat temannya itu tanpa anaknya pun segera melayangkan pertanyaan.
“Dia sedang pergi bersama dengan Arriel ke puncak.” Dathan menjelaskan pada temannya itu.
__ADS_1
“Wah ... dia punya waktu.” Rifa tertawa. Dia sudah kenal Dathan dan Arriel cukup lama. Jadi tentu saja dia sudah hafal.
Dathan menarik senyum tipis. Teman-temannya sudah tahu bagaimana mantan istrinya itu.
“Lalu kalian mau apa beli bahan masakan. Kalian mau pesta berdua karena tidak ada Lolo?” Mulut Reno memang tidak ada remnya. Asal saja ketika bicara.
Dathan menatap malas temannya itu. Sungguh asal sekali saat bicara temannya itu. “Tidak ada pesta. Hanya aku mau memasak saja.”
“Sayang, sepertinya lebih baik kita tidak perli jadi masak. Kita menumpang di rumah Dathan saja. Lumayan makan gratis.” Reno segera memberikan ide pada istri.
“Tidak!” Seketika Dathan menolak. Dia sedang ingin berkencan dan menikmati makan bersama Neta, tetapi temannya mau merusak.
“Pelit sekali kamu. Kamu saja kalau kesepian pergi ke rumahku.” Reno mencibir temannya itu.
“Itu beda ceritanya. Kalian tidak sedang kesepian.” Dathan masih menolak tegas apa yang dikatakan oleh Reno.
Neta mengangguk. Dia mengikuti Rifa untuk memesan daging juga. Meninggalkan Dathan yang sedang berdebat.
“Mereka memang selalu begitu. Jangan kaget.” Rifa tersenyum.
“Iya, Kak.” Neta sudah mulai paham.
“Aku senang melihat Dathan kembali bersemangat dan menjalin hubungan. Terima kasih sudah hadir untuk Dathan.” Rifa mengenal Dathan sejak lama. Jadi dia sudah tahu bagaimana masa-masa terpuruknya Dathan.
“Jangan berterima kasih, Kak. Aku memang mencintai Dathan.” Neta tersenyum tulus. Ungkapannya itu memang berasal dari hati.
“Dathan memang sedikit keras kepala dan selalu dengan prinsipnya. Jadi kamu harus siap dengan itu.” Rifa tetap takut Neta tidak bisa menerima Dathan dengan segala yang ada di Dathan.
“Aku sudah banyak tahu dari Dathan sendiri. Terkadang memang kita tidak akan langsung bertemu dengan orang yang punya tujuan hidup yang sama. Semoga aku dan Dathan punya tujuan yang sama.”
__ADS_1
Rifa melihat jika memang Neta berbeda dengan Arriel. Pembawaan Neta lebih lembut. Tidak keras kepala seperti Arriel.
“Aku menunggu kamu datang ke butikku.” Rifa tersenyum.
Setelah mendapatkan daging, mereka kembali pada dua pria yang masih berdebat.
“Sudah ayo, jangan ganggu mereka.” Rifa menarik tangan suaminya.
“Dengar kata istrimu itu.” Dathan mencibir temannya itu.
“Dia mengganggu kita boleh, kita tidak boleh.” Reno masih merasa tak terima. Dathan selalu datang kapan saja ke rumahnya. Jadi dia mau melakukan hal yang sama.
“Sudah ayo.” Rifa menarik sang suami.
“Awas aku akan datang!” Reno yang ditarik sang istri memberikan peringatan.
Dathan tersenyum. Reno tidak akan melakukannya karena sudah ada pawangnya-sang istri. Jadi dia tidak akan khawatir.
“Kalau kamu keras kepala seperti itu juga, sepertinya aku akan menarikmu juga.” Neta yang sedari tadi melihat drama itu pun langsung mengomentari.
Dathan langsung mengalihkan pandangannya. Dia menatap Neta penuh damba. Dia membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya di telinga Neta. “Aku akan selalu menurut denganmu. Jadi kamu tidak akan pernah menarikku. Kecuali menarikku ke ranjang.”
Pipi Neta merona. Dia sadar jika yang dipacari adalah pria berpengalaman. Jadi arah pembicaraan pasti menuju ke sana.
“Ketika kamu adalah kutub utara sebuah magnet, aku adalah kutub selatan. Tidak perlu aku menarikmu. Karena kamu akan mendekat sendiri.” Neta tersenyum.
Dathan tersenyum. Semakin hari Neta semakin menggemaskan. Selalu punya jawaban atas apa yang dikatakannya.
“Ayo kita pulang.” Neta segera mengajak Dathan untuk pulang. Mereka harus segera memasak untuk makan siang.
__ADS_1