Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Memang Ahlinya


__ADS_3

Rapat akhirnya selesai juga, semua keluar dari ruang rapat. Neta juga ikut segera keluar dari ruangan. Bersembunyi di belakang tubuh Maria, dia keluar dari ruang rapat.


“Neta.” Bu Rania memanggil Neta.


Sepertinya Neta memang sedang sangat apes sekali. Berharap bisa keluar dari ruang rapat segera, tetapi manajernya justru memanggilnya. Jika seperti ini tentu saja dia harus tetap tinggal.


“Iya, Bu.” Neta menghentikan langkahnya. Dia menatap Bu Rania dan juga Adriel.


Satu per satu teman Neta sudah keluar semua. Menyisakan Neta seorang saja. Hal itu membuat Neta menjadi sungkan sekali.


“Duduklah, Ta.” Adriel yang melihat Neta pun meminta Neta untuk duduk di kursi. Agar tidak terlalu tegang.


Neta mengangguk. Dia segera mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang berada di depannya.


“Sejauh mana wawancaramu dengan Dathan Fabrizio?” Bu Rania menanyakan akan hal itu.


“Wawancara hampir selesai, Bu. Tinggal saya meminta data perusahaan saja. Saya akan buat laporannya minggu depan.” Neta menjelaskan pada Bu Rania.


“Dengar, Ta, ini adalah wawancara Dathan Fabrizio yang pertama kali. Jadi pastikan jika ini akan menjadi daya tarik orang-orang pada perusahaan kita.” Bu Rania memastikan itu pada Neta.


Neta sadar memang ini adalah perdana Dathan mau diwawancara. Jadi wajar saja atasannya begitu antusias saja.


“Driel, pastikan Neta menyelesaikan laporan minggu depan. Jika tidak pecat saja.” Bu Rania menatap Adriel, tetapi melirik pada Neta.


Neta menatap malas pada atasannya itu. Sudah mau pindah saja, masih sibuk berencana memecat dirinya. Sungguh menyebalkan sekali.


Adriel tersenyum. Apalagi saat melihat wajah Neta yang terlihat kesal. “Tenang saja, Bu Rania. Jika dia tidak menyelesaikannya aku akan memecatnya.” Dia menjawab itu sambil tersenyum. Menggoda Neta yang tampak kesal.


Neta langsung menatap Adriel malas. Sungguh menyebalkan sekali. Harusnya dia membantunya, apalagi dia harusnya tahu jika dirinya butuh pekerjaan ini.


“Baiklah, kamu boleh kembali bekerja.” Bu Rania menatap Neta kembali.


Neta segera berlalu keluar dari ruang rapat. Dia kembali ke meja kerjanya. Melanjutkan pekerjaanya yang sudah harus dikerjakan. Siang nanti Neta harus pergi ke kantor Dathan. Jadi tentu saja dia harus segera menyelesaikan pekerjaanya.


...****************...


“Ta, kamu ke kantor IZIO setelah makan saja. Temani aku makan bakso di seberang sana.” Maria menatap Neta dengan lekat.

__ADS_1


“Dasar!” Neta melirik malas. “Tapi, boleh juga, aku mau makan bakso. Rasanya lidahku beberapa hari ini makan western terus tidak enak.” Neta menggelengkan kepalanya. Dia merasa jika dia setuju untuk ikut Maria.


“Sejak kenal Da—”


Belum selesai bicara Neta langsung memberikan kode pada Maria. Takut ada yang dengar jika dirinya dekat dengan Dathan. Jika ada yang dengar ini akan jadi masalah. Dathan adalah seorang narasumber. Jadi tidak baik jika ada hubungan. Jika ada kejadian seperti itu, biasanya wawancara akan dihandle oleh yang lain. Agar apa yang ditulis sesuai.


“Ya sudah ayo makan kalau begitu.” Maria langsung segera mematikan laptopnya.


Neta pun ikut segera mematikan laptopnya. Dia merapikan meja kerjanya dan meraih tasnya. Setelah makan siang, dia akan segera pergi ke kantor Dathan. Dia tak mau jika harus bolak-balik ke kantor lagi.


Neta dan Maria segera pergi keluar kantor. Sepanjang jalan mereka tertawa sambil menceritakan hal lucu. Ada saja yang bisa mereka bicarakan.


Mereka berdua makan bakso kesukaan Neta. Neta yang beberapa hari ini diajak makan Dathan memang rindu dengan makanan berlemak yang satu ini. Dia pun bersemangat sekali memakannya.


“Ta, kita sedang tidak lomba makan, kenapa kamu cepat sekali makannya. Memangnya tidak panas?” Maria yang melihat Neta makan begitu cepat hanya bisa keheranan saja.


“Apa kamu tahu aku pernah belajar debus?” Neta tersenyum polos.


“Dasar!” Maria tahu, itu tidak mungkin. Dia tahu di mana Neta belajar. Jadi tentu saja temannya itu tidak benar-benar belajar debus.


“Iya, terima kasih traktirannya.” Maria tersenyum.


Neta segera berlalu pergi. Dia mencari taksi untuk menuju ke kantor Dathan. Sesuai dengan pesan Dathan, dia harus naik taksi. Jadi tentu saja kali ini dia akan melakukannya.


Tepat saat menunggu taksi, ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Dia belum pernah melihat mobil tersebut. Tentu saja hal itu membuatnya memicingkan matanya. Saat kaca mobil dibuka, akhirnya dia tahu siapa pemilik mobil itu. Itu adalah Adriel. Mungkin sekarang Adriel sudah punya mobil, karena setahu Neta terakhir bertemu Adriel dia masih memakai motor.


“Kamu mau ke mana?” tanya Adriel dari dalam mobil. Pria itu sedikit membungkukkan tubuhnya agar dapat melihat wajah Neta.


“Aku akan pergi ke IZIO.” Neta menjelaskan pada Adriel.


“Kamu tidak pakai motor?” Adriel tahu jika Neta selalu menggunakan motor ke mana-mana.


“Tidak, motorku sedang rusak.” Neta memilih berbohong. Dia tidak mau ada yang tahu karena dirinya ingin diantar oleh Dathan.


“Kalau begitu ayo aku akan mengantarkanmu.” Adriel langsung membuka pintu mobilnya.


Neta benar-benar berada di dalam dilema. Jika menolak pasti akan membuat Adriel curiga. Apalagi Adriel sekarang atasannya.

__ADS_1


“Baiklah.” Neta memilih untuk menerima. Dari pada urusannya panjang. Dia segera masuk ke mobil Adriel.


Adriel pun segera mengantarkan Neta ke kantor IZIO. Karena Adriel tidak tahu alamatnya, Neta mengarahkan arah ke kantor IZIO.


Di dalam perjalanan Neta memilih diam saja. Dia bingung mau menanyakan apa. Namun, seketika dia punya pembahasan untuk mengisi keheningan.


“Kamu.”


“Kamu.”


Kebetulan mereka berdua memulai pembicaraan secara bersama-sama. Hal itu membuat mereka tersenyum.


“Kamu kenapa tidak bilang jika dipindah ke sini?” tanya Neta.


Adriel tersenyum dan menoleh pada Neta. “Kemarin aku sudah ke kantor. Aku pikir bisa bertemu denganmu dan memberitahumu, ternyata kamu sedang wawancara Dathan Fabrizio.”


“Iya, aku wawancara kemarin.” Neta menganggukkan kepalanya.


“Apa ada kendala wawancara dengan Dathan Fabrizio? Karena setahu aku beberapa teman kita sulit mewawancara.” Adriel tahu pasti jika tidak mudah mewawancara Dathan. Dia pun tahu akan hal itu.


“Kebetulan tidak. Karena waktu itu aku sempat bertemu dengan anaknya, jadi aku punya celah mendapatkan wawancara.” Neta menceritakan pada Adriel.


Adriel tersenyum. “Jika urusan anak-anak. Kamu memang ahlinya. Pasti dia mengizinkan kamu mewawancara karena kamu baik pada anaknya.” Adriel menebak.


“Iya.” Neta memilih mengiyakan saja. Padahal Dathan mau wawancara karena dirinya. Jadi tidak mungkin dia mengatakan itu juga.


Sepanjang jalan, Neta dan Adriel hanya menceritakan tentang pekerjaan saja. Tidak ada yang membahas hal pribadi.


Saat mobil sampai di kantor IZIO, Neta segera keluar dari mobil. “Terima kasih.” Sebelum keluar dia menyempatkan berterima kasih.


“Sama-sama.” Adriel tersenyum. “Apa nanti aku perlu menjemputmu?” tanyanya.


“Tidak-tidak, aku tidak tahu selesai jam berapa jadi biar aku pulang sendiri.” Neta tidak mau sampai Adriel menjemputnya.


Adriel tahu jika Neta pasti diantar oleh kekasihnya. Jadi tentu saja dia menolak.


Neta segera keluar dari mobil Adriel. Dia buru-buru masuk ke kantor IZIO. Tepat saat di lobi IZIO, langkah Neta terhenti ketika melihat Dathan dan Loveta. Seketika Neta membulatkan matanya. Dia memutar tubuhnya ke belakang. Mengecek apakah Adriel sudah pergi atau belum.

__ADS_1


__ADS_2