
Marky duduk di kursi kerja Potka. Ia menunggu kedatangan bawahannya itu.
Potka masuk dengan tergopoh disana ia melihat Marky duduk tenang, sedangkan Patrik berdiri disamping Marky.
"Bos" Sapa Potka. Dibelakangnya ada Osman juga Rasmus, mereka yang menghubungi Potka. Memberikan kabar bahwa Marky menunggu diruangannya.
Dengan Wina yang menghilang. Menambah kepanikan mereka, Biasanya Wina akan kembali. Nyatanya tidak.
Osman yang tadinya tak terlalu memusingkan kaburnya Wina menjadi ikut cemas, karena kedatangan Marky yang mendadak.
Ia menghubungi Rasmus, dengan menahan diri, agar tetap tenang, tapi tak semudah itu, maka saat pria diseberang mengangkat panggilannya, ia langsung membentaknya.
"Kau! Bongsor! Mati saja kau! Marky ... Marky ada disini! Cepat kesini!" Gusar ia tak mendapatkan jawaban dari seberang.
"Hei kau! Kau dengar aku!"
"Hoaaamm ... kau bicara apa sih, ini masih pagi dan kau menghubungiku dengan berbisik? Kau mabuk?"
"CEPAT KEMARI BRENG SEEK ADA MAR ... BOS DISINI! KAU DENGAR!!" teriakan yang membuat Rasmus menyipitkan mata.
Klik!
Sambungan terputus. Ia masih tak sadar. Dibangunkan dengan omelan bukannya hilang kantuknya, yang ada Rasmus kembali menyusup dibalik selimut.
Osman pun menghubungi ketuanya, Dan sama saja, tak ada jawaban. Semakin ia berkeringat dingin. Saat tahu dari penjaga bahwa Wina belum juga kembali.
"Aku tak akan mati sendirian" kata itu yang terus ia rapal. Ia berjalan mondar-mandir di ruangan lab-nya.
Menghubungi Potka yang tak diangkat. ia melipir kabur, pergi ke kamar Rasmus.
Langkahnya ia percepat saat pintu kamar Rasmus mulai terlihat. Ia mengedornya dengan brutal dan terus menghubungi Rasmus.
Osman tak mengindahkan lirikan dan cibiran kesal penghuni lain. Ini masalah hidup matinya.
__ADS_1
"Buka brengsEk!"
Kembali ia mengedor pintu didepannya. Hingga ia mendengar bunyi 'klik' ia siap mengomel. Rasmus menatapnya dengan wajah kantuknya.
"Masuklah" Ia kembali kedalam. Bersiap.
Osman pun melancarkan omelannya. Ia lupa tentang Marky yang menunggu mereka, Osman mengunyah roti yang ada di meja Rasmus. Marah membuatnya lapar.
"Kau bilang Marky disini? Tak mungkin Marky itu Bos kan?" Rasmus mengingatkan percakapan mereka.
"Siaaall kau bongsor! Mati kita! Marky menunggu kita di ruangan ketua" terburu bangkit dari kursi, Rasmus ikut bersiap.
"Aku akan hubungi ketua" Mereka keluar kamar Rasmus.
"Akhirmya kau jawab ketua! Bos Marky menunggu diruanganmu emm... sejam lalu" Osman mendengar kehebohan disebrang sana.
Ia paham dan mengerti. Mereka akan mati hari ini. Belum lagi Osman menjatuhkan bom pada Potka.
"Ketua, Wina kabur dan belum kembali dari kemarin"
Potka telah membaca buku yang Simon beri. Ada kemungkinan Wina adalah keturunan serigala putih. Ia pernah mendengar desas desus tentang Wina yang diistimewakan oleh Marky.
Tapi ia menpis semua, Wina hanya kelinci percobaan, tapi lagi-lagi ia harus menepis pikirannya setelah melihat perubahan Wina, juga buku pemberian Simon.
Yang pasti Potka harus menyelamatkan keturunan terakhir serigala putih untuk kelangsungan desanya.
Sekarang ia akan dengan suka rela menyerahkan diri pada Marky. Kaburnya Wina memudahkan Potka menyelamatkan keturunan yang akan menjadi Ratu Putih.
"Maaf Bos, Wina melarikan diri" ungkap Potka tanpa sedikitpun basa basi atau menutupi.
Osman melirik tajam Potka yang dinilainya begitu bodoh, jujur adalah kematian, harusnya ia bisa menutupinya.
"Maafkan kami Bos, wanita itu suka sekali menyelinap pergi, namun akan selalu kembali."
__ADS_1
Patrik melirik, kebodohan yang dilakukan Osman, ia ingin membela diri namun yang terlihat malah ketidak sanggupan mereka, bagaimana bisa Wina sering kabur dan mereka membiaran saja? Batin Patrik.
"Ini sering terjadi?" Suara tenang dari Marky membuat mereka semakin berkeringat dingin.
"Jawab! Kalian punya mulutkan!" Hardik Marky. Ia tak suka bawahannya berlaku seenaknya. Sering kabur? Seperti tak ada upaya untuk mencari.
"Iya ... iya Bos" Osman mundur selangkah, ia sangat takut. Marky menghela nafasnya.
"Sudah kalian kembalilah, tunggu saja, wanita itu akan kembali, dan nanti jika ia kabur lagi biarkan,"
Osman dan Potka begitu juga Rasmus yang sedari tadi hanya diam, mereka mendongak menatap Marky. Mereka bingung dengan ucapan Marky.
"Lanjutkan penelitian kalian, selalu laporkan perkembangannya padaku"
Marky beranjak dari kursi Potka dan pergi begitu saja diikuti oleh Patrik dibelakanganya yang juga tak mengerti dengan keputusan Marky tanpa menghukum kelalaian bawahannya.
Potka terdiam. Ia merasa Marky memiliki rencana yang tak mereka ketahui.
"Astaga aku kira kita akan mati" Osman menyendarkan diri pada meja Potka.
"Ini penelitian terlihat tak penting namun sebenarnya sangat penting karena Bos menyembunyikannya." Potka kembali memutar otaknya.
"Objek penting penelitian ini menghilang dan Bos tidak menghukum kita?" Rasmus pun merasa ada yang janggal dengan ini semua.
"Kau ini! Bagus kita masih hidup, Wanita itu membuatku hampir kehilangan nyawa"
"Ketua, aku akan mengerahkan pasukan untuk mencari wanita itu" Osman meminta persetujuan Potka.
"Terserah padamu saja" Potka harus lebih dulu menemukan Wina dan menyembunyikan wanita itu. Potka belum tahu desanya telah bertemu dengan penerus keturunan yang sebenarnya.
Maka ia harus menyelamatkan Wina. Pertama yang akan Potka lakukan adalah kembali ke desanya dan menjelaskan semua. Entah mengapa Simon memberinya buku itu.
Apa Eldernya tahu tentang keberadaan Wina. Ia tak bisa hanya menduga.
__ADS_1
Ia harus bertanya pada Eldernya tentang alasan mengapa Simon memberikan buku berharga itu padanya. Seorang yang membelot dan lebih memilih keluar dari desa mereka. Seperti dirinya.
Tbc.