DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Hecate Moon Goddess


__ADS_3

Mereka selesai makan malam. Ia membawa dua gelas dengan kepulan asap.


Bharat menyodorkan salah satunya pada Wina. Lama. Akhirnya Wina meraih mug yang Bharat sodorkan padanya.


"Coklat hangat dengan marshmellow" Bharat mengingatkan tentang masa lalu mereka di DarkHole. Saat mereka menghabiskan malam dengan ber camping di taman tengah DarkHole.


Mereka pasti membuat minuman itu. Decihan terdengar dari mulut Wina. "Untuk apa kau kesini?" Wina tidak suka menerka. Dengan mug ditangannya. Ia sama sekali tidak berminat pada coklat hangat dan masa lalu. Muak.


"Untuk menikmati bulan dan bintang. Disini terlihat sangat banyak dan lebih terang pasti 'Monika' akan sangat suka jika ia tumbuh disini"


"Kau ingat kan, Nokturnal mengahancurkan DarkHole untuk mencuri 'Monika' dan menewaskan Riby?" Bharat mengingat bagaimana Joana hancur kehilangan 'Monika' juga Riby.


"Itu bukan urusanku" jawab Wina enteng.


"Dan mengapa aku harus mengingat tentang seseorang yang tak ada sangkut aputnya dalam hidupku"


Genggaman Bharat pada mug mengerat. Rahangnya mengetat. Kehilangan juga pengkhianatan yang Wina dan Willow hingga membuat DarkHole hancur. Membuat amarahnya naik.


(Tahan Bharat! Kontrol kemurkaanmu!)


suara yang ada dikepalannya. Haiyla tahu pengendalian diri Bharat masih kacau, akhirnya menasehatinya.


"Terlambat!" Bisik Bharat. Ia merasa aliran darahnya bergerak denga cepat. Meyusuri setiap pembuluh darahnya. Kekuatan kemarahan terpancar.


Perubahan dengan cepat. Bharat berubah menjadi sosok serigala putih besar dan keemasan dengan aura kemerahan.


Bharat menerjang Wina. Geraman kencang pada wajah Wina. Ia memperlihatkan seberapa besar dan tajam giginya.


Tubuh Wina bergetar. Rasa takut meyeruak dalam dirinya. Wina bisa merasakan kemarahan Bharat. Nafasnya menderu. Susah. Aura membunuh terpancar.


Dan membuat para serigala yang ada didekatnya bisa merasakan dan keluar. Mereka merasakan aura membunuh sangat kental. Mereka bersiap melindungi Ratu Putih mereka.


Gerombolan Serigala berada di samping Bharat. Melihat sosok serigala putih dengan Aura kemerhan yang sedang mencengkram leher Wina.


Simon juga berjaga, namun ia sudah kembali menjadi manusia. "Berhenti Ratu!"


Ia berusaha menyadarkan Bharat untuk menekan amarahnya. Dan gagal.


Rambut Bharat telah memutih ia perlahan melayang dengan mata yang bersinar kekuningan.

__ADS_1


Nafasnya terlihat memburu dengan kepalan tangan disamping kanan dan kiri.


"Berisik!" Pekikan suara berat yang bukan suaranya. Didalam kepalanya Haiyla terus saja berbicara untuk menyadarkan dan mengontrol kekuatannya. Bharat sudah menahannya. Ia fokus untuk menekan kekuatannya. Rasanya sungguh berat.


Saat matanya menatap Wina yang meringkuk didepannya. Dorongan amarah lolos dan merasuki tubuh Bharat.


Sinar kuning kemerahan menguar dari tubuhnya. Bharat berubah. Rambutnya berwarna kekuningan, ia mengenakan gaun panjang dengan berbagai hiasan emas bermata delima, menghiasi seluruh tubuhnya.


Kukunya meruncing, yang tak kala menakutkannya. Serigaian dengan giginya juga menajam, ia perlihatkan pada mangsanya. Ini tentu bukan Haiyla, Siapa ini, Bharat masih bisa merasakan kehadiran sosok lain dalam tubuhnya.


Matanya menatap nyalang kearah Wina. Dengan perlahan ia mengankat tangan kiri. Seolah Wina berada ditangan ramping dengan kuku runcing itu, ia mencengkram kuat.


Dan disudut sana Wina merasakan kesakitan pada seluruh tubuhnya seolah tulangnya remuk.


"AARGH ... " teriakan keras terdengar seperti lolongan minta tolong. Tak ada satupun dari mereka yang bisa menolongnya.


Nafasnya tersenggal, Wajahnya telah memerah, matanya berair. ia seperti dicekik. Wina memegangi lehernya. Berusaha melepaskan cekikan yang tak terlihat.


"HECATE!" Bentak Haiyla yang muncul disebelah Bharat. Ia melihat Haiyla dan menyeringai menakutkan.


"Hentikan! Atau kau berhadapan denganku"


"Senang rasanya bisa kembali, kau tak mengatakan keturunan putih telah kau temukan Haiyla, Mahina pasti sangat menyukainya" Hecate adalah salah satu Moon Goddess seperti Haiyla. Ia penguasa ras sihir hitam dan ras bawah tanah, kaum Lycan.


Ia tertarik dengan kekuatan besar yang Bharat pancarkan, kekuatan yang selama ini tak pernah lagi ia rasakan sejak serigala putih itu menghilang.


Dengan senang hati ia merasuk dalam tubuh Bharat. Merasa gembira bisa merasakan lagi. Kekuatan yang siap ia hisap habis energinya.


"Keluar dari tubuh anak ini Hecate, kau tahu sendiri ia belum siap bertemu Mahina" Haiyla mengertak makhluk yang menguasai tubuh Bharat.


"Bagus! Serahkan anak ini pada kami, kami akan membuatnya menjadi yang terkuat, bukan seperti ibunya yang kau biarkan lari begitu saja"


Ejek Hecate pada Haiyla. ia bisa merasakan kekuatan dari serigala putih dalam tubuh Bharat.


Ia tak salah, Haiyla tak mengelak. Senyum menyeringai ia perlihatkan lagi.


"Jangan memprovokasi diriku! Ini tugasku!" Desis Haiyla marah.


"Okay ... okay ... aku kan pergi" Bharat melayang mundur dengan kedua tangannya mengankat, tanda menyerah.

__ADS_1


"Jangan katakan apapun pada Mahina"


"Aku tak janji" kemudian tubuh Bharat melemas, ia mendarat perlahan di tanah.


"Aku serahkan anak ini pada kalian" Haiyla kemudian menghilang hanya meninggalkan asap putih.


Simon dan lainnya berlari menyelamatkan tubuh Bharat. Mereka tak mengira akan melihat Bharat yang dirasuki oleh Hecate dan melihat penampakan Haiyla Moon Goddess.


"Hei Ricky kau bantu Wina, jangan bengong!" Manuel mengomel pada Ricky yang hanya mematung ditempatnya.


"Biarkan ada Almaz dan Jordan yang membawa Wina, kita fokus pada Bharat dulu" Raven meletakkan tubuh Bharat pada tubuh serigala Manuel.


Mereka membawa Wina dan Bharat masuk kedalam rumah Roxane. Bharat masih belum siuman sedangkan Wina masih beristirahat di kamar yang telah disediakan oleh Roxane.


Hanya ada Roxane yang membantunya mengompres memar pada leher Wina. "Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua?"


"Aku pun juga tak mengerti tiba-tiba dia menyerangku" Wina tak mengaku, ia akan berpura-pura tak mengerti tentang situasi yang terjadi. Mencari aman.


Roxane hanya mengangguk dan membawa nampan kosong. Setelah Wina meminum minuman hangat yang ia bawa untuk menenangkan diri.


"Jordan apa itu tadi Moon Goddess?" Ricky yang masih tak bisa mengalihkan pikirannya dari Haiyla. Ia terpukau bahkan mungkin terpesona.


"Apa aku bisa mengimprintnya?" Pertanyaan konyol Ricky yang langsung mendapatkan jitakan menyakitkan dari Jordan.


"Aow" ia mengelus bekas jitakan Jordan.


"Apa ku bilang, tunggu kau melihatnya, baru kau akan terpesona" Manuel ikut bergabung dalam obrolan, menunggu diluar kamar Bharat yang sedang menerima energi dari Simon.


"Sana bantu Elder, kau masih muda siapa tahu Elder membutuhkan energimu itu"


"Cih! Aku memang terpesona, tapi bukan dengan wanita itu, namun dengan Haiyla Moon Goddess." Elaknya.


"Kau tahu dengan membantu Ratu berarti kau juga membantu Moon Goddess Haiyla." Jordan membuat harapan Ricky naik.


"Iya semoga ia melihat tekatmu" Harapan Ricky yang melambing dihempas begitu saja oleh Raven. Didalam sana Simon dan  Almaz sedang memberikan energinya pada Bharat.


Hecate mengambil seluruh kekuatan yang ada didirinya. Bharat merasa sangat tak berdaya. Ia merasa saat Hecate mengambil alih tubuhnya, Moon Goddes itu, mencibir dirinya. Karena dengan mudah diambil alih.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2