DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Tewasnya Marky, apa semua berakhir?


__ADS_3

Berus yang tak merasakan lagi keberadaan Bharat, berarti Ratunya telah berhasil diterima.


Ia berdiri tegak, meletakkan tangan kanan pada dada, membiarkan Marky untuk melangkah ke tempat Bharat. Ia tak akan menemukan apapun disana.


Berus menghilang. Marzon memperlambat lajunya. Ia berdiri di atas pohon, dekat goa itu. Ia merasakan penerimaan, dan Ia pun menetap lama, tak merasakan keberadaan Bharat,


Marky masuk ke ruang berpendar. Ia tak menemukan apapun, kosong. "Brengsekk!" Makinya. Ia menengok dan tak menemukan si macan yang berkelahi dengannya tadi.


Amarah menguasainya. Ia meninju tembok goa, hingga buku-buku jarinya memerah. Bahkan dinding itu yang retak.


Bharat meletakkan Willow di dekat pohon, menatap Willow lama, kemudian kepalanya menatap ke arah kiri, dimana goa itu berada.


Netranya menajam, sosok dengan gaun berubah dengan sosok berarmor. Pedang besar dan lebar ia tancapkan ke tanah.


Kekuatan besar Marky, membuat Lora, Bharat dan Marzon bisa merasakan. Ternyata peperangan mereka belum berakhir.


Tapi mereka telah menandai Marky. "Mundur Marky kau belum mampu" ucap dalam kepala.


"Siapa kau?"


"Aku akan membantumu, Kita bertemu di pondokmu" ucap seseorang di kepala Marky.


Dan Marky meninggalkan goa. Walau kesal. Sedikit lagi harusnya ia bisa memiliki kekuatan besar yang ia inginkan.


Ia akan menemui seseorang itu, jika ia hanya penipu, ia akan menghabisinya di tempat. Ia kembali membelah hutan dengan gesit. Namun perlahan melambat dan menengok ke belakang.


Ia merasakan kekuatan dibelakang tubuhnya mengawasi. Tak ada yang aneh, ia kembali ke tempat persembunyiannya.


Marzon juga menghilang. Bertepatan Marky keluar goa.


*


*


*


Marky masuk pondoknya disana ia melihat Lamda dan seseorang tak ia kenal duduk diruang tamu.


Lamda berpamitan ke dalam. Meninggalkan keduannya. 


"Kau tadi yang berbicara dikepalaku?" Tanpa basa-basi Marky menebak.


Tarikan bibir dapat Marky lihat walau hanya sekilas. 


"Benar"


"Jadi kau bisa membuatku lebih kuat tanpa kristal itu?" Lelaki itu menggeleng, Marky mendekat walau masih berjarak. Ia merasa bingung dengan kekuatan orang didepannya ini.


"Perkenalkan Darius" lelaki itu mengulurkan tangan pada Marky.


"Marky"


"Kalau kau tak bisa membuatku kuat, lantas buat apa aku percaya padamu?" Darius tersenyum lebar.


"Aku akan membantumu memiliki kekuatan yang kau inginkan. Dan kau harus merebut kristal abadi untukku" Marky masih tak percaya.


Ia melangkah ke kamarnya. Mengabaikan Darius.


Membuka pintu kamarnya. Darius menyerang Marky. Ia mencekik leher pria itu. Ia merasakan rasa terbakar pada lehernya.


Darius dengan senyuman miring menarik cekikannya hingga kaki Marky tak menapak pada lantai.


"Hegh!" Ia memukul keras tangan Darius.


BRUGH!


Ia melepaskan cekikan pada leher Marky. Lelaki itu meraup banyak oksigen. Ia mengelus lehernya. "Aku bisa membuatmu menjadi seperti kami" tatapan tajam dengan nafas terburu.


"Tidak, aku bisa melakukannya sendiri" Marky masih tak percaya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan ini?" Darius mengherakakn telunjuknya, Marky berdiri tegak. Namun tangan dan kaki tak dapat ia gerakan.


"Heaaarkkk" Darius mengepalkan tangannya. Marky merasakan jantungnya diremas kuat. Menyakitkan.


"Lihatlah, jantungmu berdetak kencang di tanganku" Marky menyipit, menengkleng kepala, melihat ke arah gangan Darius.


Samar ia melihat jantung berdetak di tangan Darius. Lelaki itu meremasnya. Dan rasa menyakitkan itu kembali Marky rasakan.


"Aaaargh!" Dan sekali jentik. Marky membuka mata. Ia terduduk dengan peluh sebesar jagung. Nafasnya terengah.


"Bagaimana?" Marky menatap lurus-lurus. Mengamati sekeliling. Ia tertidur. Siksaan Darius hanya mimpi. Tapi sangat nyata.


"Kalau kau setuju, besok kembali ke goa itu" Darius menutup bukunya, lalu menghilang. Sedangkan Marky masih terdiam di ranjangnya.


*


*


*


Marky mendatangi Goa, ia masih tidak percaya dengan Darius namun siapa yang akan melewatkan peluang. Apapun akan ia lakukan demi ambisinya. Menguasai dunia.


Bahkan dunia bawah ini, ia akan menjadi yang terkuat dan tak akan ada satupun yang meremehkan dirinya.


"Kau datang" Darius sudah duduk di atas bebatuan dalam goa. Ia melompat turun. Berjalan lalu menujuk.


"Itu, kau lihat disana?" Tangannya menunjuk sesuatu. Pandangan Marky mengikuti telunjuk Darius.


"Disana lah kristal itu berada, melayang dan cantik, kau harus mengambilnya untukku" Darius kembali ke depan Marky.


"Aku akan memberimu kekuatan, kau pasti tak bisa melihat kristal itu kan?." Marky hanya mengangguk. 


"Tahan!" Tanpa kata lagi, Marky mundur beberapa langkah, rasanya ada kekuatan besar yang mendorongan dan ingin masuk kedalam tubuhnya.


Langkahnya terus mundur. Namun ia mengerahkan kekuatannya untuk menahan, tekanan dari kekuatan Darius.


"HAAARGH!"


Tubuh Marky melayang, sosoknya berubah, tak ada lagi kerutan juga rambut memutih. Sekarang sosok versi muda dari dirinya.


Cahaya kilat menyilaukan terpancar. Lalu gelap. Ia kembali menapak kaki di tanah.


Matanya terbuka berkilat merah. Dingin dan datar. 


"SIAPA KAU!" suara geraman berat terdengar. Sosok kebiruan muncul dengan mulut terbuka lebar, siap melahap siapapun pengusiknya.


"Lora? Apa kabar?" Kekehan dari Darius.


Wanita melayang itu menatap kearah Darius.


"Kau si perusuh rupanya? Sudah keluar dari hukumanmu heh?" Ejek Lora. Ia tak suka dengan Darius. Lelaki pembuat onar.


"Berani sekali kau mengusikku!!" Lora marah. Tawa menggema di sudut-sudut Goa. Tawa Darius. Lelaki itu menggerakan tangannya.


"Apa yang kau lakukan!" Bentak Lora dengan nada tinggi.


"Aku hanya bermain," ia membuat Lora merasakan terhimpit, wanita itu mencoba meronta, namun seperti apa yang Marky rasakan ia terikat, atau ada sesuatu yang menggenggam erat dirinya.


"Berani sekali seorang perusuh dan pencari perhatian sepertimu melawanku!"


"HAAARGH!" Raungan menyakitkan Lora menggema. Darius tak menggunakan kekuatan yang sama dengan Marky. Karena sosok Lora berbeda dengan sosok manusia. Ia juga bukan bangsa mutan atau dunia bawah. Ia di atas mereka , dan di bawah kaum Darius.


Tentu saja Darius dengan mudah melumpuhkannya. Dan Darius memperlihatkan jantung berwarna putih digenggamannya.


"Ughug" Lora tersedak oleh darahnya. Jantungnya berdetak kencang ditangan Darius.


"Si,sialaann!" Umpatnya.


"Kau tak akan bisa melawanku!" Aliran darah dari mulutnya disertai batuk menyakitkan.

__ADS_1


"Hei kau manusia! Kau hanya dimanfaatkan olehnya yang tak bisa memegang batu kristal abadi"


"AARK!!"


"KAU TERLALU BANYAK BICARA!"


SYUUTT …


"AARGH!" Pekikan Darius. Jantung yang berada ditangannya menghilang. Lora melayang dengan kesadaran yang menipis.


Tangan lelaki itu tertembus panah bercahaya.


Matanya bersimborok dengan mata dingin milik Haiyla.


"Kau tak pernah jera Darius!" Kembali Darius terkekeh.


"Haiyla, Haiyla, aku tak menyangka kau muncul hanya karena aku akan menghabisi cecunguk Lora"


"Ah bukan karena Lora, kau tak akan sepeduli itu, pasti karena batu di sana itu bukan?" Lanjutnya,


"Pastilah! Tak berbeda denganku, yang memanfaatkan lelaki dungu itu" Darius membenarkan perkataan Lora.


"Oh bonekamu datang" Darius melihat kedatangan Bharat. Wanita itu sudah dengan armornya. Siap berperang.


"Majulah Marky!" Jentikan jari. Marky menyerang Bharat. Kekuatannya semakin besar. Bharat dibuat mundur hingga ke sudut.


Trank!


Menahan serangan Marky, "Hyaah" ia mendorong pedang Marky. Untuk sesaat ia tersadar Marky terlihat lebih muda.


Disudut Marzon memperhatikan.


Ternyata Darius ikut membantu Marky.


Bharat menjatuhkan pedang Marky. Ia pun memasukkan pedangnya. Wajah meremehkan terlihat dari Bharat.


Marky menyerang dengan brutal. Bharat seperti belut, ia lincah dan dapat dengan mudah menyerang balik dengan gerakan gesit.


Dalam kepala Marky, Darius membisikkan jika incar sisi kirinya. Benar saja Bharat terpental kencang. Ia menyuruk ditanah. Dan kesempatan Marky untuk masuk dalam barier yang menyelimuti kristal abadi.


Namun serangan dua arah Marky terima. Dari Bharat dan Marzon. Darius ikut turun tangan menangani Marzon, amukan ia lampiaskan pada Marzon.


Marzon bisa melawan dengan mudah dan mengembalikan keadaan. Saat menunggu ia telah mengetahui bagaimana kekuatan yang dimiliki musuh.


Ia mengkopi semuanya dan kembali menyerang dengan kekuatan musuh. Marzon memperlihatkan jantung Darius di tangannya.


Lycan itu menjilat jantung Darius.


Keterkejutan terlihat dari bola mata Darius yang melebar. Ia tak menyangka ada yang bisa melakukan jurus miliknya.


"Lakukanlah!" Suara terdengar dari kepala Marzon. Seringaian terlihat dari moncong Lycan itu.


Ia pun memakan habis jantung Darius. Mata Darius membelalak kosong dan meluruh lalu menjadi abu.


Marky terdiam. Ia tersadar.


"Hhrg" rasa sakit menjalar cepat. Dari ujung kaki ke ujung rambut. Marky berteriak dengan menganga menatap atas. Asap hitam keluar dari mulutnya. Dan begitu juga tubuhnya yang menjadi keriput.


Tubuh Marky bergetar hebat. Kekuatan nya hilang tak tersisa. Kulitnya mengering dan ia tergeletak tak berdaya ditanah. Nafasnya putus-putus. Tapi kekehan nya terdengar nyaring.


Namun ia masih mencoba mengambil satu senjata api di kantongnya dan mengarahkan pada Bharat.


DOR!


Peluru yang meluncur itu berbalik hanya dengan hentakan kaki Bharat ke tanah. Peluru itu melesat dan menembus kepala Marky.


Bharat melakukan itu untuk Camy.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2