DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kekalahan Ricky


__ADS_3

Jadi selama ini, bukan dirinya. Melainkan ada yang lain. Apa yang malam itu menyerangnya? Kekuatannya sangat besar hingga ia tercekik dan melayang.


Rahang Wina mengetat. Kekuatan yang sangat besar itu harusnya milik dirinya. Bukan Bharat!


Rasa iri bercampur dengan kemarahan, membibit dalam hati Wina. Tapi ia bisa mengkontrol dengan baik. Walau masih terlihat di pancaran matanya.


"Iya Ratu Putih. Kau akan tahu kalau kau tidak jadi pahlawan kesiangan disini" Raven ikut menanggapi.


Bharat sudah berada diposisinya. Ia akan melawan Ricky dengan kekuatannya saja. Karena bila disuruh membuktikan ia sendiripun tak tahu bagaimana caranya.


Karena Haiyla mengatakan prosesnya akan memakan waktu yang lama Ricky yang impulsif menyerang dengan tiba-tiba. Ia menyerang Bharat. Tubuhnya yang lebih besar dari Bharat berhasil mengkungkung tubuh Bharat.


Dengan tumitnya Bharat mendengkul dagu Ricky. Dengan cepat Bharta bangkit. Tonjokan kepalan tangan ia arahkannlagi pada pipinya dan membuat Ricky memuntahkan darah.


Ia menyerang Bharat dengan menonjok rahang wanita itu. Bharat merasakan kepalanya pening sesaat.


Sorakan kesakitan terdengar dari pinggir. Apalagi dari para wanita yang memaki Ricky. Ricky merasa diatas angin. Ia mengejek Bharat.


"Ratu" dengus mengejek.


Ricky menarik tubuh bharat hingga ia jatuh terlentang. Ricky meninjunya namun Bharat berhasol menghindar. Sekali lagi dengan tumitnya ia mendengkul perut Ricky.


Bharat kembali berdiri. Begitupun dengan Ricky ia kembali menyerang. Ricky berlari kearahnya dengan menunduk. Seperti sapi beringas.


Bharat menegakkan kuda-kudanya. Dan ketika Ricky mendekat ia memegang pinggang Ricky dengan kedua tanganya dan membalikkan badan yang lebih besar darinya itu dengan mudah.


Ricky terlempar ke atas kepalanya dan terjatuh ke tanah dengan posisi terlentang. Sorakan kesakitan terdengar dari pinggir area. Membuat amarah Ricky tersulut.


"Sudahlah menyerah saja kau bocah!" Teriak kencang Almaz. Ia tahu Ricky sudah babak belur. Bharat juga berantakan. Walau tak ada luka serius.


Amarah yang tersulut itu membuat dengam cepat berubah shift, Ricky mengeram, ia menakuti Bharat. Dan dibalas dengan senyuman miring meremehkan oleh Bharat.


Serigala coklat besar itu berlari kearah Bharat. Tidak diperbolehkan menggunakan senjata. Bharat hanya berlari menghindari semua serangan Ricky.


"Ini tak adil," kesal Selena, peraturan Ricky yang tak memperbolehkan menggunakan senjata. Sengaja ingin membuat Bharat kalah.


"Iya bocah kekanakan! Walaupun kau menang, nyatanya kau kalah! Yang pasti jangan merusak tanamanku!" Linka kembali masuk ke dalam rumah, ia tak berminat menonton pertarungan lelucon itu.


Ricky berhasil mengigit kaki Bharat dan melemparkan tubuh Bharat layaknya kertas.


(Aku akan memberimu kekuatan!) Haiyla yang berbicara dengan batin Bharat. Mata Bharay berkilat kebiruan.

__ADS_1


Ia yang terlempat ke udara. Dengan gerakan cepat dan anggun berpijak pada lembar bulu milik Ricky yang rontok.


Bharat melayang tubuhnya mendarat tepat pada punggung Ricky. Lalu sikunya mengapit leher Ricky. Ricky berontak.


Bila saja Ricky bukan keluarga maka ia kan dengan cepat mematahkan lehernya.


Ia hanya melemahkan pernafasan Ricky hingga serigala besar itu tersungkur. Ia kembali mencoba membanting tubuh Bharay dengan sengaja menabrakkan tubuhnya pada pohon.


Namun ia kalah gesit dengan Bharata yang menghindar, ia melayang.


Nafas Ricky memburu ia melihat Bharat yang berada diatasnya.


Ia menyerang Bharat. Bharat pun ikut menyerang. Mereka bertabrakan, siku Bharat kembali berada di leher Ricky.


Mereka mendarat di tanah dengan Ricky yang terkungkung oleh tubuh Bharat. Dengan posisi terlentang, Bharat ada diatas tubuh serigala. Bharat menekan aliran udara Ricky. Semakin Bharat menekan, semakin Ricky meronta, tak bisa bernafas.


Suara ngik-ngik terdengar dari Ricky.


"Aku lepaskan jika kau tak menyerangku dan kita akhiri disini! Atau kau ... "


Mata serigala coklat itu berair, nafasnya tercekat. Geraman semakin membuatnya semakin susah bernafas.


Bharat menjauh. Ricky kebali berdiri. Kepalanya menggeleng, ia menvoba menemukan udara.


Dan ia berganti shift. Ricky terbatuk. Ia terlihat lemas. Lehernya memar, cengkraman Bharat sangat kencang. Seperti bukan tangan wanita.


Ricky merasa seperti dicengkram besi yang semakin lama semakin mencekiknya.


"Bagaimana? Kau puas?" Almaz mendekat pada Ricky yang masih mengelus leher memarnya.


Almaz melihat keadaan leher Ricky. "Sebenarnya Ratu bisa saja langsung mematahkan lehermu saat itu juga. Tapi ia tak bisa, kau bukan musuh"


"Kau sadarkan dari kilatan kebiruan dimatanya? Kau tak boleh sembaranagn lagi Ricky" Simon beranjak dari tempatnya.


Ada Wina dan Potka yang menatap punggung Bharat. Dan kehausan. Tubuhnya terasa lengket ia ingin mandi.


(Thanks) Bharat berterima kasih pada Haiyla yang ikut turun tangan membantunya.


(Ini tugasku, jangan sungkan) sudut bibir Bharat terangkat. Ia tak merasakan kelelahan. 180 derajat berbeda jika dilihat dari penampakannya yang sangat berantakan.


"Akhirnya ia tak akan penasaran lagi denganmu Ratu tapi kedepannya ia akansemakin tak menyukaimu" Komentar Raven.

__ADS_1


"Yang pasti tidak mengusikku aku tak masalah," Bharat melangkah kekamarnya.


"Kau tadi hanya menggunakan kekuatanmu saja kan Ratu, kau sadar kekuatanmu harus dibendungkan makanya sekilas Haiyla muncul tapi bukan membantumu bertarung, tapi lebih ke mengendalikan amarah dirimu" celetuk Raven yang membuat Bharat menghentikan langkahnya menaiki tangga.


"Kau sangat pintar, lebih baik pergunakan itu untuk memperdalam kekuatanmu untuk membentengi desa, lebih banyak lebih baik" Bharat membalasnya telak.


Secara diam-diam Raven sangat tertarik dengan batu kristal, ia sedang meneliti apa yang dapat membuat kekuatan batu itu bertambah. Tidak ada satu dari mereka yang tahu tentang ini.


Potka berada di pondok Simon. "Maksud dari Ratu Putih?" Simon mendongak, melihat Potka yang meminta penjelasannya, ia melepas kaca mata bacanya.


"Sudah kau baca buku yang ku beri?" Potka mengangguk. "Sama yang terlulis disana"


"Kalian telah menemukan Ratu Putih" Potka masih menerka, Wina. Satu nama yang harusnya muncul diotaknya, namun melihat pertaruangan Ricky dan percakapan mereka. Bisa jadi, Bharat adalah Ratu Putih.


"Iya," Potka menunggu Simon meneruskan kata-katanya. Ia menunggu.


"Siapa? Ratu itu? Apakah Bharat? Tim DarkHole?" Tatapan tajam Potka berikan pada Simon.


"Kau sudah tahu"


"Lalu apa maksudmu memberiku buku itu? Apa ini berhubungan dengan Wina berada disini?"


"Wah Nokturnal sangat bangga pasti mempunyai pekerja yang secerdas dirimu" Simon kembali mengenakan kacamata bacanya.


"Kau tahu mereka masuk list terkuat DPO pasukan elite Nokturnal?"


"Bukannya kau juga termasuk dalam tim itu, pasukan elite yang membuatmu rela meninggalkan desa" Simon sarkas.


"Ini membahayakan desa!" Simon menatap Potka. Anak angkatnya ini sangat lucu.


"Sedari dulu kau harusnya sadar dengan kau kembali kemari itu saja membahayakan desa, sekarang apa pedulimu" jawaban tenang tapi menohok membuat Potka terdiam.


"Kau pernah menyangka Wina adalah keturunan Amarin?"


"Apa saat aku kesini itu, kau bisa merasakannya?" Potka menarik kursi. Ia harus segera mengetahui agar ua bisa mengambil keputusan apa yang akan ia buat.


"Tidak, tapi aku telah bertemu denganya" Simon tak meneruskannya,


"Jadi? Kalian ... "


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2