
Marzon mendapatkan tubuhnya sangat berat dan tak bisa bergerak. Ia mendengar suara wanita memanggil-manggil dirinya.
Ia membuka mata dan yang ia temukan, tubuhnya dipenuhi alat medis, terikat dengan besi pada pergelangan tangan dan kakinya.
Ia tak mengenakan sehelai benang pun pada tubuh atasnya dengan celana yang compang-camping dimana-mana,
Ruangan temaram dengan berbagai alat yang bekerja, suaranya memenuhi ruangan itu.
Ia merasa berat pada kepalanya. Entah alat apa yang berada dikepalanya ini.
"Marzon" ia masih mendengar suara itu memanggilnya. Ia pikir itu hanya halusinasi. Marzon meronta ia mencoba meloloskan diri dari kungkungan besi ini.
"Marzon" suara lirih,
Suara wanita? Siapa? Batin Marzon.
"Aku bisa membantumu" Suara itu kembali terdengar. Marzon hanya bisa mengerakan bola matanya.
Siapa kau? Tanyanya. Marzon antara sadar dan tidak.
"Aku akan membantumu" suara itu lagi.
"Aku akan melepas besi yang mengukung tubuhmu"
Krak!
Ctaz ...
Krak!
Krak!
Besi-besi yang mengukung tubuh Marzon hancur dengan sendirinya. Walau masih lemah, Marzon bangkit dari tempatnya. Ia berdiri dengan bersandar pada rangka besi tempatnya berbaring.
"Dengarkan aku! Kau lihat pada dinding didepanmu, lingkaran hitam, ujika kau melihat portal maka masuklah kesana!"
"Jangan ragu!"
"Portal hitam itu akan memberimu kebebasan"
Marzon yang awalnya ragu, mulai melangkahkan kakinya, kearah lubang berbentuk oval besar seukuran tubuh manusia dewasa.
__ADS_1
Hanya gelap yang Marzon liat. Ia berdiri, masih mengamati portal hitam dihadapannya. Rasa ragu seketika hilang saat ia teringat kata kebebasan dari wanita itu, entah siapa.
Marzon memasuki portal.
BLAM!
Seketika sunyi. Marzon tak mendengar suara apapun. Juga hanya gelap yang diterima retinanya.
Keraguan kembali memancar. Ada rasa cemas.
"Selamat datang di City of Shadow!" Kilatan cahaya dengan kuat masuk pada netra Marzon. Ia menyipit dan mengintip dari sela jemarinya.
Sosok wanita dengan gaun berwarna hitam. Gaun menjuntai yang bergerak karena tiupan angin. Dengan banyak hiasan batu merah delima ditubuhnya.
Alis mata Marzon menukik. Ia heran, tempat apa ini. Melihat wanita didepannya menambah kebingungannya.
Ia cantik, harusnya membuat lawan jenis terpanah namun tidak dengan Marzon. Ia lebih terfokus pada sekitarnya.
"Siapa kau?" Marzon tahu, suara wanita ini yang berkomunikasi dengannya.
"Aku Hecate," Wanita itu mengenalkan dirinya pada Marzon. Hanya sekilas pria itu memperhatikan Wanita cantik didepannya ini.
"Tempat apa ini?"
Di sudut sana ada sebuah kursi singgasana besar dengan ukiran dan hiasan berwarna perpaduan emas dan merah delima. Pilar-pilar besar juga kokoh mengelilingi bangunan ini.
"Ayo aku akan mengajakmu berkeliling" Hecate mengambil alih fokus Marzon kearahnya.
Mereka berada diluar bagunan megah, seperti istana ini. Hecate melemparkan serbuk berkilau pada Marzon.
Dan dengan cepat tubuhnya berubah menjadi Lycan.
"Kau terlalu banyak melamun Marzon, kemari! Ikuti aku!" Perintah Hecate.
Ia telah lebih dulu terbang dengan ringannya. Marzon mengikuti dibelakangnya, ia mengejar Hecate. Sembari memperhatikan kanan dan kirinya. Marzon tak bisa berkata-kata.
Hecate berjalan mendahului Marzon yang masih terpana dengan dunia bawah. Sangat kontras dengan namanya, Ternyata disini tak ada beda dengan tempatnya. ia masih bisa melihat matahari bersinar terik.
Marzon tak menyangka ada dunia yang tak pernah ia lihat. Selama ini, ia pikir dunia lampau, seperti ini telah ditinggalkan atau bahkan menghilang.
Karena banyak dari manusia lebih tertarik dengan telnologi juga robot yang membuat segalanya lebih praktis.
__ADS_1
"Mereka lupa bahwa kehidupan lampau telah lebih dahulu hidup dengan praktis. Kau lihat contohnya di sekelilingmu" Marzon tersentak. Sejak kapan Hecate sudah berada di sebelahnya. Dan dapat membaca pikirannya.
"Kami juga memiliki portal, dan bisa masuk ke dimensi manapun yang kami mau, Kau sudah membuktikannya bukan?"
"Bahkan teknologi kalian belum bisa melampaui kami" kemudian Hecate melayang menjauh.
Kalau dipikir, apa yang Hecate katakan, benar adanya. Dunia Marzon sangat mengandalkan mesin.
Ia melihat Hecate berhenti di sebuah danau luas yang suram. Banyak pohon-pohon kering berdiri didalam danau yang terlihat seperti rawa dengan banyak lumpur dan lumut.
Kabut tebal menutupi permukaan rawa menimbulkan kesan misterius.
"RHOOT!" Seruan kencang Hecate pada pinggir danau. Tak berapa lama, salah satu pohon yang hampir tumbang, disisi kiri itu bergerak bangun, ia bergerak menjulang keatas. Sangat tinggi.
Lalu dengan gerakan lambat ia mendekat. Pohon sangat tinggi itu penuh dengan lumpur juga lumut.
"Saya, Goddess" ia berdiri menjulang didepan Marzon juga Hecate.
"HEI PARA HOMALBUS, PERKENALKAN DIA PEMILIK SINGGASANA YANG BARU! LYCAN MARZON" Hecate mengumumkan dengan keras pada mereka melalui danau Sorow.
Danau ini akan membawa kabar ke semua ras dan klan yang berada dalam lingkup dunia bawah.
"Kami Homalbus siap mengabdi yang mulia, dan Saya Rhoot." Suara berat dari pohon sangat tinggi memperkenalkan diri pada Marzon.
Sejak Bharat menerima takdirnya, menjadi Ratu Putih, semua kehidupan lampau yang tersegel kembali terbuka.
Hecate salah satunya. Ia harus mencari sang pemilik singgasana di dunia bawah. Sama layaknya Haiyla yang juga mencari sang keturunan.
Kekacauan yang Nokturnal lakukan dengan mengambil Amarin dari desa Arctos berdampak banyak pada kehidupan lainnya.
Juga mengacaukan tatanan Selenic, alam para Moon Goddess. Kekuatan Amarin tak sebesar itu untuk menyegel kehidupan lain.
Namun alam semesta yang memberi izin dan membantu Amarin untuk menyegel kehidupan lain agar tidak dihancurkan oleh teknologi manusia yang merusak. Berharap suatu saat bisa dipulihkan oleh keturunannya.
Setelah mengumumkan itu, Hecate melanjutkan berkeliling untuk memperkenalkan Raja dunia bawah pada rakyatnya.
"Raja sekarang dari ras Lycan"
"Itu Raja yang baru"
"Ras Lycan"
__ADS_1
Banyak bisik- bisik yang terdengar dari kanan kirinya, Marzon sendiri juga tak mengerti dengan keadaanya saat ini.
Tbc.