DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Tujuannya Semakin Dekat


__ADS_3

Paloma merangkul pundak Raflesia ia sangat bangga dengan bintangnya ini. Klubnya semakin ramai.


Apalagi banyak kalangan atas berdatangan ke klubnya. Seperti saat ini ia dan Raflesia sedang dijamu oleh para pejabat tinggi itu.


Mereka tak sengaja bertemu saat akan merayakan keberhasilan Raflesia bersama Alex.


Alex ia yinggalkan sendori di meja yang sudah ia pesan. Ia tak bida menolak ajakan para pengisaha kaya itu. Ia tak sebodoh itu menolak berkumpul dengan kalangan atas.


Raflesia sebenarnya enggan. Ia melirik para hidung belang tua berharya itu dengan sinis. Rencana uang ia susun berantakan sekarang.


"Cantik minumlah seteguk" ucap pria botak dengan perut buncit itu memegang lengan mulus Raflesia.


Ia menyentak tangan kasar itu. Pria itu hanya tertawa aneh. Mabuk berat.


"Kau tak boleh kasar seperti itu, manis?" Pria tua itu ingin menyosor pada Raflesia namin dengan mudah Raflesia menghindar. Ia bisa saja mematahkan leher tua bangka itu.


"Hey kemana kau cantik! Kau ingin sekali kukejar ya?" Pria tua itu berdiri, menegakkan tubuhnya susah payah. Melangkah pun sepertinya ia tak mampu.


Ia mendekat pada pria tua yangbsudah tersenyum mengelikan dan dengan gerakan tangan seringan bulu ia melumpuhkan pria tua itu.


Tubuh pria itu terjatu di sofa dan tak sadarkan diri. "Menyusahkan!" Makinya sinis.


Ia kembali ketempat Alex yang sedang menikmati makanan meeeka yang telah penuh dimeja. "Sudah selesai? Kau tak diapa-apakan oleh pria me sum bau tanah itu kan?" Alex bertanya.


Raflesia tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Pasti pria itu yang sekarang --seharusnya-- tak akan berani menyentuhnya.


Ia berhasil mematahkan beberapa jarinya.

__ADS_1


"Sufah lupakan pria memuakkan itu, mungkin saat sadar esok, akan menjerit seperti wanita"


Alex memindai, mengerikannsekali wanita disampingnya ini, ia tak melihat raut ketakutan diwajahnya.


Apa ia salah, yang ia temukan tdai walau sekilas raut wajah dingin dan datar.


"Lalu kemana Paloma?" Jika dalam klub mereka akan memanggil Paloma dengan sebutan Madam, dan pada saat seperti ini mereka akan berkelakar layaknya sahabat.


"Entah aku disuruh menikmati makanan ini, dan dia pergi dengan lelaki, berangkulan mesra. Keluar dari sini"


"Siallan ia meninggalkan ku dengan lelaki tua bau tanah dan ia pergi dengan kekasihnya!" Raflesia membanting tubuhnya ke kursi disamping Alex.


Menuguk gelas didepannya hingga tandas. "Sudahlah Flesi, makanlah dulu, sebenarnya jija kau tak menampakan hidungkau dalam eaktu 10 menit aku akan menyusulmu kedalam."


"Menyusul?" Raflesia mulai menamcapkan garpunya pada paha ayam yang mengiurkan.


"Iya aku akan langsung membuat pertunjukan yang tak akan mereka lupakan seumur hidup mereka.


"Mau kau apakan memang? Jika kau menyusulku kedalam? Kau hancurkan mereka didalam." Rafleaia menelisik. Meliriknya datar.


"Bisa jadi" Alex pasti akan melakukan sesuatu yang besar dan menambah musuh. Ia menghentakkan bahunya.


Kembali mereka menikmati makanannya dalam diam. Alex tahu wanita didepannya ini tangguh. Beberapa waktu Alex mendengar dari cerita Paloma, bahwa Flesi ingin dicarikan seorang yangbbisa mengajarkannya beladiri.


Dan tak main-main Paloma memberikan pelatih beladiri dari kesatuan khusus dari Nokturnal. Dan Alex dapat melihat hasilnya. Wanita di depannya ini tak selemah dahulu saat pertama mereka bertemu.


Alexpun tak bodoh, dengan wanita didepannya yang terlihat lemah. Selera makannya pun lenyap. Ia meletakkan pisau dan garpunya diatas piring dan menyeka mulutnya.

__ADS_1


"Kau selesai? Padahal aku baru mulai" Alex berdiri dari bangkunya. "Ya seleraku hilang, aku akan pergi"


"Oh aku juga kalau begitu, makanan ini akan menjadi lemak dalm tubuhku esok dan berpengaruh pada kecantikanku" padahal ia telah menghabiskannsatu ekor ayam seorang diri.


"Aku akan mengambil buah saja"


Sampai dikendaraan masing-masing, Alex pun pamit. Dan Raflesia tentu tidak akan melepaskannya begitu saja.


Suruhannya akan mengikuti Alex. Ia masih ingin tahu dimana Alex tinggal dan menghancurkan kediaman Alex seperti Alex menghancurkan tempat kekasihnya.


Dan ya Raflesia ingin tahu siapa kekasih wanita itu, dan akan menjeratnya dengan kemampuan nyanyian duyung yang ia miliki.


Jika  saatnya datang ia tak akan membiarkan Alex begitu saja. Didalam kendaraannya Raflesia mencengkram kemudi kuat.


"Ikuti jangan sampai hilang!"


"Baik Nona" suara dari sebrang sana. Yang berada tak jauh dari kendaraan Alex.


Ia menghentikan kendaraannya saat kendaraan Alex juga berhenti dan masuk kedalam hutan dibawah sana.


Mau tak mau ia ikuti juga. Jangan sampai ia kehilangan lagi sepeeti sebelum-sebelumnya.


Kendaraan Alex berhenti didekat sebuah kendaraan lain. Seorang pria keluar dari kendaraan itu. Dan begitu juga Alex.


Mereka berbicara dengan akrab. Dan sesekali saling memukul layaknya kekasih dimata pesuruh Raflesia.


Ia merekam dan memotret semua itu untuk diberikan pada Raflesia. Raflesia dengan segera menerima kiriman dari pesuruhnya. Sudut bibirnya terangkat, angkuh licik.

__ADS_1


"Cari tahu tentang pria ini" perintahnya pada soseorang disebrang sana. Kembali bibirnya tertarik miring. Tujuannya semakin dekat.


Tbc.


__ADS_2