
Willow dan Troto keluar kamar dan melihat Popi terduduk dilantai dengan rintihan juga tangan yang ngipasin kakinya.
"Kau tak apa?" Zale mendekati, ia bahkan ikut berjongkok. Disamping Popi.
"Bisa berdiri?" Zale mengulurkan bantuannya. Rahang Popi mengeras. Namun ia samarkan. Harusnya bukan lelaki ini yang menolongnya.
Troto dan Willow melihat dapur yang berantakan dengan panci juga air yang berhamburan di lantai.
"Kau disini?" Ucap Troto pada Zale. Ia tak menghiraukan rintihan Popi.
"Ada apa ini?" Seorang wanita tua masuk, ia melihat tempat kerja nya ramai dan berantakan.
"Willow, Troto, Zale? Kalian tidak di Giant Pipe? Lho siapa wanita ini?" Tanya Bibi Lomi. Penasaran dengan wanita yang dipapah oleh Zale.
"Dia budak yang aku beli" Troto berucap dingin. Lomi hanya menatap bergantian Troto Zale dan Willow yang menatap perubahan Popi. Troto pun juga menangkap perubahan wajah Popi.
Lelaki itu menatap sang kekasih. Tersenyum manis pada kekasihnya.
"Kami akan menginap di sini bi, sekalian Willow menyembuhkan lebamnya."
"Zale kau urus dia, aku akan mengurusi kekasihku ini" ucap menggoda Troto pada Willow.
"Saya tidak apa Tuan, Aahk … " pekiknya dengan sengaja, Popi ingin menghentikan kedua sejoli yang akan pergi itu. Wajahnya menunduk dengan mengurut kakinya yang ia buat terluka itu. Sangat perih.
Tapi sepasang sejoli itu tidak sama sekali menghiraukannya. "Kau tak apa?" Zale mengikuti permainan Popi. Ia mengamati tindakan Popi. Dan Zale pun mengetahui jika Popi menyembunyikan sesuatu yang membahayakan.
"Aku akan panggil tabib, ah tidak, Bi Lomi bukannya kau memiliki krim api? Aku rasa sangat cocok untuk kulit yang tersiram air panas."
__ADS_1
"Kau benar Zale, krim itu pasti manjur, ini, bi i selalu membawanya kemana-mana" ucap bibi Lomi menyerahkan tempat berisi krim api.
"Ini akan membuat luka mu dingin" Zale memapah Popi ke kamarnya dan mendudukan wanita itu diranjangnya.
Zale kembali keluar, lalu kembali, ia membuka tutup tempat krim, "tarik rokmu" ucap Zale. Popi menyanggupi, wanita itu menarik sedikit roknya.
Zale mengambil krim itu dengan kayu pipih, dan mengoleskan krim api pada luka Popi. Efek dingin langsung terasa di kaki Popi. Tapi wanita itu tidak tahu. Rasa panas yang lebih membakar akan segera ia rasakan.
Memang itu efek dari krim api ini, jangan meragukan khasiat krim api. Setelahnya akan menyiksa tapi tidak lama. Lalu akan segera pulih.
"Istirahatlah, mungkin ada efek hangat biarkan saja, krim itu sedang bekerja. Besok kau akan langsung pulih, aku tinggal jika ada apa-apa, panggil saja Bi Lomi"
Popi mengangguk dengan tampang yang ia buat polos dan sedikit takut. Zale mendekati Bi Lomi.
"Ini krimnya bi, tolong awasi dia, sepertinya akan berulah" ucap Zale berbisik.
"Kanapa Troto membawanya kemari?"
"Wanita itu? Si bandit yang juga memfitnah Troto?"
"Ya itu dia, makanya kita perlu pengawasan ekstra" ucap Zale lirih. Bi Lomi mengangguk.
Popi mendengar percakapan Lomi dengan Zale, walau tak semua ia dengar, Hanya tentang, ia yang memiliki hubungan dengan Troto. Tapi mengapa ia tak ingat apapun, apa benar ingatannya dihilangkan seperti kata orang itu? Ia memiliki ide, dan akan menggunakannya. Untuk kelancaran misinya.
***
Kembali Popi selalu saja membuat ulah dengan cara mendekati Troto. Sedangkan Willow tak merasa Troto akan meninggalkannya, jadi daripada ia cemburu malah sebaliknya Popi yang dibuat kesal.
__ADS_1
Seperti saat ini, Popi sengaja tertidur di meja makan, menunggu kepulangan Troto dan Willow. Ia sengaja menunggu Troto. Karena Willow pagi tadi pamit kembali ke Giant Pipe. Melanjutkan misinya.
Troto masuk ke pondoknya. Ia melihat Popi yang tertidur di meja makan dengan banyak piring di meja makan. Yang rata-rata makanan kesukaan Willow dan Lomi.
Ia hanya melewati wanita itu, tidak berniat membangunkannya. Popi menunggu, tapi Tidak ada pergerakan dari Troto.
Seharusnya tak begini!
Harusnya Troto membangunkannya dan ia akan berpura-pura terbangun dan mengigau. Memanggil Troto dengan sebutan sayang, lalu membuat sebuah kesempatan merayu lelaki dingin itu! Itu rencana awalnya!
Popi sibuk dengan pikirannya, ia lupa saat ini sedang pura-pura tidur untuk menarik perhatian Troto, kemudian ia tersadar jika langkah kaki Troto menjauh.
Tidak bisa dibiarkan! Ia sudah memasak masakan kesukaan Troto yang juga menjadi senjatanya. ia membangunkan diri dengan menjatuhkan kepalanya pada meja.
DAK!
"Sss … ah Tuan kau sudah kembali?" Popi mengusap jidatnya yang nyeri. Ia menggeleng harusnya ia tak membenturkan kepalanya keras.
"Hmn"
"Tuan, tunggu? Saya memasakkan makan malam kesukaan Tuan," ucapnya girang. Troto mengernyitkan dahinya.
"Aku tak pernah menyukai makanan manis, iti kesukaan Bi Lomi dan kekasihku, ia sangat suka kue coklat, kau simpan saja, aku sudah makan diluar" Troto kembali melangkah ke kamarnya.
Popi mengepalkan tangannya. "Wanita tua itu membodohinya! Lihat saja aku akan membalasnya" desis Popi. Ia memasukkan semua makanan yang ia beli dari toko kue itu ke dalam lemari pendingin.
Setelah membereskan segalanya ia pun masuk kedalam kamarnya. Rasa kesal ia limpahkan pada bantal yang ia gunakan. Bulu-bulu beterbangan keluar dari bantal yang jebol.
__ADS_1
"Aaargh!" Jeritan dalam bantal. Ia menutupinya agar tidak terdengar keluar. Kesal dan murka rencananya gagal.
Tbc.