
Menaiki kudanya Bharat menembus portal dimensi dimana ia akan bertemu dengan Sunna.
Sunna menyambutnya dengan lebih gagah dari sebelumnya, ia mengenakan pakaian armournya yang berwarna hitam, Moon Goddess itu juga bersiul hingga dari langit muncul kuda dengan rambut biru berkibar layaknya api.
Ringkikan kuda Sunna terdengar. Ia seperti memberi salam pada Bharat.
Kilauan warna warni merah kehijauan bisa ia lihat lagi, ia kembali ke Dragon eye tempat dimana kristal abadi berada. Meteor kristal adalah bagian dari kristal abadi.
"Saya akan menjelaskan, Atari, perempuan penjaga gunung, ia sangat hangat saat tahu kita berkunjung untuk melihat naga-naga yang berada disana, namun menjadi ganas saat Ratu memiliki pemikiran memiliki salah satu naga yang berada disana. Masalahnya Ratu harus memiliki naga itu."
"Intinya Ratu harus berhadapan dengan Atari." Bharat sudah menduga.
"Atari akan melihat bagaimana Ratu berinteraksi dengan Naga, juga pendekatan yang kau lakukan dan apa naga merasa nyaman didekatmu"
"Dapatkan kepercayaannya" ini baru masalah sesungguhnya, bagaimana bisa dia mendapatkan kepercayaannya itu.
"Dan Atari bukan lawan anda sesungguhnya, masih ada Dalgron dan Atari tidak ingin terlibat dengan Dalgron ini"
"Mereka memiliki kawasannya masing-masing, oke, sepertinya simulasi siap, Dan Ratu dituntut bermain cerdik"
Bharat dibuat bingung, ia memang berada diruangan kosong hanya ada dua kursi. Dan beberapa orang datang, kemudian menyingkirkan dua kursi itu juga mempersiapkan Bharat dengan alat yang mereka pasang ke tubuhnya.
Bharat tak sempat menolak. Saat dirinya seperti terlempar jauh ke dalam sebuah tempat. Sebuah ruangan ada ranjang disana, mungkin ruangan kamar. Ia menyentuh semua yang berada disana. Nyata.
Ia mengangkat gelas yang ada di depannya dan memecahkannya, Sunna dan yang lain nya, yang sedang mengawasi Bharat, membiarkan Bharat untuk terbiasa dengan suasana didalam sana.
"Ratu, ini hanya simulasi, bukan benar terjadi" ia bisa mendengar suara Sunna. Namun apa yang Bharat rasakan ini tak tampak hanya simulasi.
Bharat berada dalam pondok kayu, ia keluar kamar, dan masuk ke ruangan lainnya, ia melihat pada dindingnya terdapat beberapa senjata. Layaknya permainan ia bisa memasukkan pedang panjangnya dalam tas ukuran kecil.
Dan Bharat mengambil sebuah buku ramuan dan sihir. Juga beberapa perbekalan makanan. "Kami akan memantau,Ratu lakukan yang ada di petunjuk" Bharat mengangguk. Dan Simulasi dilakukan dalam tiga hari berturut-turut.
Hari ketiga Bharat meminta level akhir. Bukan meremehkan namun ia yakin pada dirinya ia bisa. Mengikuti simulasi ini, membuat kepercayaan dirinya bertambah.
Bharat melepas alat yang selama tiga hari ini menemaninya. Peluhnya meluruh, ini memang simulasi, namun berlari dan melakukan pertarungan, alat ini membuat dirinya melakukan dengan makhluk nyata. Sungguh canggih, dan sangat luar biasa.
Di dunia manusia saja yang berteknologi tinggi belum mampu menciptakan alat seperti ini. Dan banyak dari orang yang berada di Dragon Eye memandukan sihir dan teknologi yang dianggap ilegal di dunia manusia.
Manusia takut kalah bersaing dengan makhluk dunia bawah? Memalukan, jika itu alasannya.
Bharat kembali fokus kudanya berubah. Berwarna coklat pekat dengan kobaran kehijauan pada rambutnya.
Sunna dan Bharat menuju tempat Atari. Menunggang kuda masing-masing. Sunna hanya diam sejak mereka bertemu. Bahkan tanpa menyapanya.
Kuda mereka mulai naik terbang menuju langit, Bharat terkagum melihat Dragon eye dari atas. Kilauan kristal pada setiap bangunan terlihat indah.
"Bersiaplah Ratu!" Nada tinggi Sunna mengagetkan Bharat. Ia menengok ke depan dengan menggenggam keras tali kekangnya. Laju kuda semakin kencang dengan menukik ke atas.
Disana terlihat portal besar berbentuk bulat hitam seperti menyedot mereka.
__ADS_1
ZLENK!
Bharat merasa pusing di kepala. Ia menggoyangkan kepalanya pelan, ia tak pernah mengalami hal macam ini sebelumnya.
Angin membuat pegangannya pada tubuh sang kuda semakin kuat. Kibasan sayap kudanya menyadarkan Bharat bahwa kuda nya berubah menjadi kuda bersayap berwarna putih.
Ia pun juga. Sekarang ia mengenakan armournya. Berwarna putih. Ia melirik pada Sunna pun berubah. Dengan armour dan kuda bersayap hitam legam. Sangat kontras dengan dirinya.
Suara nyaring seperti siulan terdengar tak jauh pada puncak-puncak gunung yang tertutup awan, yang mereka lewati. Dan kudanya membawa Bharat terbang menyusuri bukit dan lembah-lembah yang lebih hijau.
"Berpegangan kuat Ratu kita akan tiba" Bharat memeluk leher kudanya. Kudanya menukik tajam, dan guncangan kecil ia rasakan. Ia menegakkan duduknya.
Suara air dengan deruan keras, air terjun, angin yang membawa air terpercik pada wajah Bharat. Udara menyegarkan. Pepohonan hijau yang memanjakan mata.
Suara siulan nyaring terdengar lagi. Saling bersahutan. Juga kepakan keras melewatinya, Didepan Bharat disuguhkan kumpulan Naga yang berterbangan.
Bharat menatap ke atasnya, di langit luas dengan banyaknya naga-naga hilir mudik. Mulutnya ternganga takjub.
"Ayo Ratu, kita akan bertemu Atari" Mereka meninggalkan kudanya di tempat itu. Dan Bharat mengikuti Sunna di belakang wanita itu.
"Sunna, Apa kabar?" Atari wanita dengan rambut kecoklatan panjang, Bharat tak melihat adanya keanehan.
Ia seperti layaknya manusia normal. Wanita berkulit kecoklatan, dengan mata besarnya, Ia bersiul membawa buah-buahan pada gerobak besar.
Dan kumpulan naga berukuran kecil berdatangan. Berlarian, saling mengejar satu dengan lain, bermain-main dengan apinya. Sungguh lucu. Terlihat seperti hewan peliharaan jinak.
Bharat ingin mendekat, namun teriakan dengan suara dalam yang menakutkan membekukan gerakan Bharat.
"Tidak ada yang bisa mengambil mereka!" Pekikan Atari.
"Siapa yang kau bawa ini Sunna?"
"Lancang sekali dia!"
"Jika tujuan kalian ingin mengambil salah satunya, lebih baik kalian pergi! PERGI!" Murkanya Atari dengan mudah melihat tujuan Sunna dan Bharat.
Bharat maju, "Iya aku ingin salah satunya." Bharat tak ingin terlalu basa basi. Dengan tenang ia menatap Atari, namun berbeda dengan Atari menganggap bahwa Bharat menantangnya.
Tanpa kata Atari menyerang Bharat. Sunna menyingkir. Ini pertarungan Bharat. Atari menyerang dengan kepalan tangannya, yang mengarah cepat ke wajah Bharat. Namun Bharat bisa lebih cepat menghindar.
Bharat lebih gesit. Ia menarik pakaian Atari, dari belakang merangkak naik ke atas dan mulai menyikut kepala Atari.
Atari mundur dengan nyeri pada kepalanya. Namun itu tidak melunturkan Atari untuk menyerang Bharat kembali. Ia belum puas.
Atari meraih tubuh Bharat.
"ARGH!" Melemparnya pada pepohonan besar, Bharat menggelinding di tanah, Bharat bangkit, sudut pelipisnya mengeluarkan darah. Ia terantuk kuat pada pohon tadi.
Kembali menyerang Atari dengan belati yang muncul di telapak tangannya. Belatinya menggores lengan Atari.
__ADS_1
Nafasnya tersengal. Kembali ia menyerang wajah Atari menonjok wajahnya dengan bagian belakang belatinya. Wajah Atari terlempar ke samping dengan sudut bibir berdarah. Bharat mengambil kuda-kuda, ia berjarak, waspada.
Bharat menyiapkan beberapa sigil sihir yang bisa simpan pada alat yang melingkar pada tangannya.
Bharat tak bisa dalam beberapa hari harus mengingat semua sihir dan sigil. Dan dengan menyimpan dan akan mengeluarkan sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Gelang yang bisa menyimpan gambar akan sangat berguna.
Dan ia menyerang Atari dengan sigil-sigilnya. Ia mengeluarkan bola api, bola api meluncur cepat mengenai tubuh Atari. Meledak,
Atari bersiul. Naga raksasa keabuan muncul. Ia menaikinya. Dan segera mendekat cepat dan tubuh Bharat dicengkram kuat oleh tangan naga.
"ARK!"
Bharat dibawa terbang tinggi. Bharat meronta. Ia menusukan pedangnya pada kulit naga itu tapi tidak berpengaruh. Dan ia disangkutkan pada pohon, diatas puncak gunung tinggi tertutup kabut. Pohon yang tak berdaun. Menjulang ke atas.
Lalu Atari memerintahkan naganya menyerang Bharat dengan semburan apinya. Bharat menelan salivanya. Dari tempatnya ia tak melihat tanah. Seberapa tinggi ia dibawa, ia tak berdaya.
Bharat terkejut Red datang dengan siulan panjang, melindungi dirinya.
Red melingkupi dirinya dengan sayap besarnya, ia tak tahu jika Red bisa membesarkan tubuhnya.
"Terima kasih Red!" Red menggigit pakaian Bharat dan melemparkan tubuhnya pada punggung Red.
Bharat mengendarai Phoenix nya. "Ayo kita serang Red!" Kiakan nyaring terdengar. Bharat mulai meluncurkan serangan bola api dan menyasar tubuh Naga.
Dan ia menyuruh Pheonixnya mendekati Atari dan naganya. Bharat memanjat Red dan setelah mendekat pada Atari dan Naganya. Ia melompat di punggung besar naga Atari.
Atari menarik tubuh Bharat hingga Bharat terpeleset dan terjatuh, ia meluncur ke bawah, namun tangannya meraih punuk runcing naga Atari. Ia bergelantung. Hampir saja ia akan jatuh.
Kembali ia merangkak perlahan memanjat punuk-punuk runcing. Atari tak tinggal diam ia juga melancarkan sigilnya. Dan Bharat terkena sigil Atari dan meluncur ke bawah. Bharat meraih apa saja untuk berpegangan. Dan punuk runcing itu menyelamatkannya. Ia bergelantung.
Red masih terus menyerang Naga Atari. Phoenix itu terbang mengitari naga raksasa itu. Naga raksasa merasakan kemarahan. Ia mengejar Red. Red memancingnya memasuki hutan dengan pohon tak berdaun dengan banyak ranting.
Atari tersenyum miring, melihat Bharat yang bergelantungan. Ia maju ingin menginjak tangan Bharat yang bertahan di punuk runcing naganya.
Naganya yang menabrak ranting-ranting pohon membuat agak oleng dan membuat Atari teegelincir dan meluncur ke bawah. Atari tak sempat meraih apapun.
Namun Bharat dengan gesit menangkap tangan Atari. Sekarang Bharat menopang dua tubuh dengan satu tangannya.
"Lebih baik kau perintahkan nagamu untuk mendarat, aku tak kuat lagi" Atari masih linglung, ia tak biasa ditolong oleh musuhnya.
"Cepat!"
Dan Atari sigap, ia meletakkan tangannya pada bibir dan bersiul nyaring. Mata sang naga yang garang setelah mendengarkan siulan Atari berubah melembut.
Ia langsung berhenti mengejar Red dan memposisikan diri, agar Atari dan Bharat bisa duduk dan tak bergelantung. Atari berdiri seimbang, ia mendudukan diri, dan mengelus naganya, "Helix kita kembali" Canggung meliputi Atari. Ia sudah kembali pada wujudnya kembali.
Sang naga mengepakkan sayapnya, untuk kembali ketempat awal Bharat tiba. Mereka turun disambut oleh Sunna. Senyuman yang terlihat menandakan Bharat pasti bisa menaklukkan Atari dan benar.
"Menginap lah kalian, Hari semakin gelap" Pernyataan Atari yang canggung danndibuat cuek membuat senyum Sunna melebar. "Kau berhasil Ratu" ucap Sunna dengan mengerling.
__ADS_1
Tbc.