DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Benang Takdir


__ADS_3

"Auw ... sayang jangan menatapku begitu, malu ah, itu ada timmu disini." Genit Wina.


Dehaman canggung terdengar bersautan. Dua wanita itu melihat ketua yang mereka kagumi bermesraan dengan wanita lain.


Wina mengerling kemudian beranjak dari tempatnya, ia berpapasan dengan wajah yang dingin. Ia melirik sejenak, tak menemukan wajah ramah disana, dua wanita yang menatapnya nyalang.


Wina memperlihatkan senyuman mengejeknya. Dan berlalu. Ini baru permulaan.


"Mana laporannya?" Tagih Potka. Mereka berdua hanya saling pandang. G mengaruk kepala belakangnya.


Merasa tak ada yang mendekat dan menjelaskan tentang laporan yang ia minta, Potka mendongak, ia menatap kedua wanita didepannya, bergantian.


"Kenapa diam saja! Kemarikan laporan kalian!" Potka menjulurkan tangannya. Namun mereka hanya diam.


"Ada apa?" Masih mereka tak ada yang menjawab.


"Kalian punya mulut kan! Bisu kalian!" Kesal. Potka sepenuhnya melihat pada keduannya yang tampak gelisa.


"Maaf ketua, kau dan wanita serigala itu berhubungan?" Nic, akhirnya dari kedua wanita itu mengeluarkan suaranya. Walau saat itu juga Potka menjadi murka.


"Lebih baik urusi pekerjaan kalian! Dan jangan kemari kalau bukan untuk masalah penting!" Bentaknya pada kedua wanita yang hanya bisa menunduk.


"Rosty, bacakan jadwalku!" Teriakan yang membuat seorang pria berlari kedalam.


"Baik Ketua!" Rosty akan membacakan jadwal Potka.


"Usir mereka!" Perintah Potka dengan wajah dinginnya.


"Silahkan" Rosty mengiring kedua wanita itu yang tampak muram keluar ruangan Potka.


*


*


*


Potka keluar dari kendaraannya. Ia melangkah kesebuah bangunan yang terbengkalai.


Buat apa Wina ingin bertemu dengannya ditempat ini.


Potka mendekati pintu tinggi didepannya. "Ketuk tiga kali pada pintu, jika kau sampai" itu pesan yang Wina katakan.


Potka melakukan apa yang Wina minta. Ia mengetuk pintu itu tiga kali. Potka mundur satu langkah. Ia melihat kearah pintu namun tidak ada reaksi apapun dengan pintu itu.


Potka mendekat saat ia ingin mengetuk lagi. Terdengar dengungan yang semakin lama semakin kencang.


Buzzzz ...


Ada pintu kecil yang terbuka, asap keluar dari sana, hembusan angin dingin menerpa wajah Potka.

__ADS_1


Sesuatu yang tak Potka masuk dalam prediksinya. Pintu ini canggih, ia bisa melihat dari saat terbuka, mereka menggunakan teknologi yang bagus.


Potka terkecoh dengan pikirannya yang mengira ini hanya gedung terbengkalai.


Potka tanpa ragu melangkah masuk. Ia ingin tahu apa sebenarnya tempat ini. Dan Wina, tak habis pikir, wanita itu memiliki gedung seperti ini.


"Aku tahu kau pasti datang." Wina menyambutnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku" ia tak ingin basa-basi. Potka menekan segala penasaran dalam dirinya. Ia tak ingin Wina tahu apa yang ada diotaknya.


"Potka, to the point sekali" ejek Wina.


"Cepat katakan, atau aku akan pergi" bukannya takut dengan ancaman Potka yang seperti anak kecil merajuk. Wina mendengus geli.


"Kau pergi dan akan aku hancurkan Arctos." Potka mengepal tangannya. Murka dengan ancaman Wina.


"Ya, Yah, aku akan langsung saja" Wina mengangkat tangannya, ia menyerah mengusik Potka.


"Kau pasukan elite kan?" Lanjut Wina.


"Langsung! Tak usah berbelit" Potka tegas.


"Benar-benar, hormon tak stabil sepertinya," bisik lirih Wina menatap Potka kesal.


"Kau jadi bodyguardku!"


Potka tertawa kencang, "Aku memang Pasukan elite perang, bukan bodyguard!"


"Ah ... dan, aku bukan bahan penelitianmu! 3 hari lagi aku akan pindah kesini dan kau juga." Lanjutnya.


"Sudah itu saja, jika kau mau pergi silahkan, namun 3 hari lagi aku menunggumu disini" Potka meninggalkan gedung itu. Ia merasa terhina, Wina memintanya menjadi penjaga.


Ia bukan kembali ke tempatnya melainkan ke Nokturnal. Amarah menyelimuti diri Potka, Ia merasa harga dirinya Wina hina. Ia tidak akan mau menjadi penjaga. Pasti wanita itu becanda. Pikir Potka.


Sampai di Nokturnal, ia langsung ke ruangan Marky. Ia melihat Patrik disana.


"Bos ada? Aku ingin bertemu" Potka tak menunghi jawaban. Ia langsung menerobos namun Patrik segera menahannya.


"Bos sedang sibuk, ia tak bisa diganggu" Potka menatap Patrik tak suka.


"Kau ingin berbicara tentang Wina?" Patrik menebaknya. Ia telah dihubungi oleh Wina perihal Potka yang tak mau menjadi penjaga Wina.


"Kau memang harus menjaganya" ucap Patrik lagi. Alis Potka menyatu. Ada guratan kemarahan diwajahnya.


"Kau menghinaku! Aku pasukan elite khusus!" Hardik Potka pada Patrik.


"Tugasku berperang bukan sebagai penjaga!" Lanjutnya.


"Tidak mulai kini kau menjaga Wina!" Suara tua terdengar dari belakang Potka. Ia membelakangi pintu ruangan Marky. Disana Marky berdiri, mengenakan topi juga cerutu ditangannya.

__ADS_1


Final. Potka hanya bisa menerima keputusan Bosnya itu.


"Ayo kita pergi" Marky melangkah meninggalkan Potka tak memberi Potka kesempatan menolak. Patrik segera menyusul Marky.


Kesal dan amarah mengelayuti kepulangan Potka dari Nokturnal. Ia bukan ke laboratoriumnya. Melainkan ke desa Arctos.


Saat sadar ia berada ditepi sungai, dimana biasa ia menghabiskan waktu, dulu saat masih tinggal di desa Arctos.


"Ck! Siaal kau! Hyaaah!" Potka mendekat pada suara makian itu. Ia mengintip. Melihat Bharat, tim DarkHole.


Bharat berdiri dengan terdiam. Lalu


Whoosss ...


Ia melambung perlahan lalu dari dalam tubuhnya keluar melesat cepat cahaya putih.


Dan cahaya itu berputar mengelilingi tubuh Bharat.


Potka terpaku ditempatnya. Ia menatap peristiwa yang aneh dan langkah itu.


Cahaya keputihan itu menjelma menjadi seorang wanita rambut panjang berwarna putih dengan gaun lembutnya yang terayun oleh angin.


"Siapa disana?" Ucap wanita berambut putih itu. Menengok kearah tempat Potka mengintip.


Potka dengan refleks bersembunyi di balik pohon besar. Jantungnya berdetak cepat. Ia merasa tak segarusnya ia melihat ini semua.


Whooosss ...


"Aha! Kau disini." Wanita rambut putih itu melayang diatasnya. Melihat kearah Potka yang hanya terdiam.


"Siapa kau anak muda?" Ia berdiri dihadapan Potka. Mendekat dan semakin mendekat. "Kau berbau musuh" Potka tanpa sadar membaui tubuhnya.


"Tapi ... sepertinya kau memiliki benang takdir!" Kerutan terlihat didahi Potka. Tak mengerti dengan ucapan wanita rambut putih itu.


"Kau siapa? Mengapa kau keluar dari tubuhnya" Potka melirik kearah Bharat yang melayang tak sadarkan diri.


"Aku, kau tak mengenalku? Haiyla Moon Goddess penjaga keseimbangan Arctos"


"Kalian selalu menyukaiku kan?" Tanyanya lagi. Potka hanya mengangguk, terhipnotis.


"Kau terikat takdir tapi kau berbau musuh" Haiyla melayang kearah Bharat dan masuk lagi ketubuh Bharat. Menyidahkan pertanyaan pada benak Potka.


"Terikat takdir tapi berbau musuh?" Potka menelan salivanya susah payah. Sebenarnya apa yang yerjadi padanya belakangan ini?


Banyak teka-teki disini. Belum lagi ia harus menjadi penjaga Wina. Penelitiannya gagal. Apa lago sekarang dengan ucapan wanita rambut putih membuat otaknya harus mencari jawaban lagi.


Potka bersandar pada pohon besar itu. Setelah melihat Bharat yang sadaekan diri lalu meninggalkan tempat itu.


Potka mengacak rambutnya. Ia sangat bingung.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2