
Menginjakkan kaki, Bharat memasuki portal dimensi. Suasana gelap. Pohon-pohon menjulang tinggi.
Suasana temaram, sunyi. Dengan langit percampuran warna hitam dan jingga. Angin dingin berhembus kencang menerbangkan rambut Bharat.
Membawanya masuk dalam hutan itu. Sangat misterius. Netranya awas.
BRUK!
BRUK!
DRUAK!
Suara gebrakan besar dari belakangnya membuat Bharat waspada, ia menghindar, tubuhnya menggelinding di tanah.
Tepat didepannya. Ia melihat capit raksasa menancap ke tanah.
Langit semakin terang, sinarnya masuk dalam sela-sela pohon tinggi. Ia menyorot pada mahkluk yang menyerangnya.
Monster kepiting hutan, ia menyerang Bharat dengan capitnya, mengarahkan benda keeas itu pada tubuh Bharat.
Dengan cepat Bharat bisa menghindarinya. Bharat mengeluarkan pedang miliknya.
TRANK!
TRANK!
Ia menangkis capit, Bharat lalu serangan pada kakinya membuat konsentrasi Bharat terbagi.
Beberapa Capit dengan ukuran lebih kecil muncul dari tanah, ia mencekal kaki Bharat. Wanita itu menganyunkan pedangnya dan menancapkan pada kepala kepiting itu.
Tak ada lagi serangan dari kepiting besar yang sibuk menggali tanah itu. Kelakuan yang aneh, Pikir Bharat. Kepiting raksasa itu memakan tanah dan membuatnya menjadi bola-bola.
Peluh membanjiri dahinya. Bharat mundur, mengamati gerakan musuh. Kepiting raksasa itu mengerahkan anak buahnya.
Lalu muncul kepiting dengan ukuran lebih kecil. Dari dalam tanah, Menyerbu Bharat. Bharat menepis kepiting-kepiting itu yang tidak berkurang dan makin bertambah, kepiting itu terus saja muncul dari dalam tanah.
Nafasnya menderu, ia terus menyingkirkan kepiting itu. Bharat menancapkan pedangnya pada tanah. Untuk sekedar bernafas. Kakinya nyeri. Ia biarkan.
Ia menendang kepiting yang msih saja mendekat. Nafasnya terputus-putus. Ia berlari pincang.
__ADS_1
Menyabet, menusuk apapun itu.
Lengkingan suara membuat Bharat memandang kepiting raksasa yang sedang berkubang dalam tanah.
Bharat melompat untuk bersembunyi. Kepiting yang menyerbunya, semakin tak terkira banyaknya. Nahas kakinya dicapit, dan Bharat terguling ditanah, dan tak berapa lama ia terkubur hidup-hidup oleh ribuan kepiting.
"Argh!"
"Argh!" Tendangan, tonjokan ia kerahkan, ia tak ingin berakhir disini.
Terdengar siulan nyaring di udara, samar, Bharat masih berjibaku dengan capit-capit yang agresif ingin mencabiknya hidup-hidup.
Capitnya melukai lengan bharat, goresannya yang cukup dalam, darah telah mengering menghiasi selurih tubuh Bharat.
Lalu ia merasakan hangat, dan mendorong tumpukan kepiting itu tak sesusah tadi. Ia menangkap kepiting yang mati, hangus terbakar.
Bharat berdiri. Netranya menangkap, seekor burung Phoenix menyemburkan api pada kepiting-kepiting yang menyerangnya.
Bharat menatap takjub, ia mengikuti kemana Phoenix itu terbang. Dan Phoenix itu menghampiri Bharat.
Bharat mundur selangkah dengan lengannya menutupi kepala. Phoenix itu menujuh dirinya seakan-akan menyerangnya. Cepat.
Kaki Phoenix itu mencengkram lengan Bharat erat. Dan membawanya terbang, Bharat refleks mengulurkan tangan memeluk kaki Phoenix yang berukuran lumayan besar itu.
Phoenix itu meletakkan Bharat di salah satu dahan pohon dan jauh dari jangkauan kepiting.
Phoenix itu meninggalkan Bharat dan ia kembali membakar gunungan kepiting.
Ia melompat dari pohon satu ke pohon lainnya, dengan kepiting yang terus mengikuti di bawahnya.
Ia sudah berada di atas pohon tak jauh dari kepiting raksasa yang sedang berkubang. Dan ternyata ia sedang bertelur. Bola-bola yang awal dilihatnya adalah telur, Telur-telur itu menetas dan menyerang Bharat.
Bharat menemukan target aslinya. Thaja. Netranya menangkap ukiran nama itu di tempurung kepiting hitam raksasa yang sedang bertelur dibawahnya.
Tubuh mengalami luka yang tak begitu serius tapi tenaganya terkuras karena luka itu.
Ia harus cepat. Kepiting itu mendengkur. Masih dengan mengeluarkan ratusan telur.
"Itu adalah Phoenix milikmu, gunakan bulunya untuk menggambar mantramu, dan tusuk pada nama Thaja." Haiyla tak meninggalkannya.
__ADS_1
Nyaring terdengar suara dari sang Phoenix. Burung Phoenix itu sudah berada di sebelahnya. Seperti tahu jika Bharat memerlukannya. Bharat mendekatkan tangannya. Ia mengelus kepala mahkluk mitologi itu.
Phoenix itu mendekatkan kepalanya pada tangan Bharat. Membuat senyuman mengembang di wajahnya. Ia kembali mengelus, "Hey Red, nice to meet you"
Red naman yang tercetus peetama kali ia mengelus kepala Phoenix itu. Dan sepeetinya si burung juga setuju, setelahnya siulan panjang terdengar dari Phoenix itu.
ZRAK!
Dan siulan itu membangunkan sang induk kepiting. "Kita harus bekerja Red! Si induk terbangun"
"Aku mengambil bulumu ya" dan Phoenix itu, melebarkan sayapnya dan kepalanya mendekat pada sayapnya dan mencabut bulunya sendiri dengan mulut lalu memberikannya pada Bharat.
"Terima kasih Red" Bharat menerimanya. "Kau siap?" Jawaban nyaring Bharat terima.
Bharat menggambarkan sigilnya pada pedang dengan bulu Phoenix. Mantra telah ia lavalkan. Dan ia meniupka pada pedangnya.
Kilatan cahaya kemerahan keluar dari pedangnya. Ia merasakan kekuatan pada dirinya bertambah. Dan ia ayunkan pedangnya dengan lihai.
"HEAH!!!!"
Bharat melopat dan menjatuhkan diri tepat diatas indukan kepiting. Pedang Bharat dengan mulus menusuk tengah tempurung kepiting itu.
Mata indukan itu bergerak tak beraturan, lengkingan nyaring terdengar.
KRAK! KRAK! DRAK!
Tempurungnya retak dan tubuh indukan kepiting hutan itu terbelah. Sinar berbentuk bulat melayang dari tubuh kepiting yang terbelah.
Benda itu berpedar merah keemasan. Lalu ia meluncur cepat masuk kedalam tubuh Bharat.
Tubuhnya merasa terdorong. Ia memeriksa tubuhnya, takut itu adalah serangan dari indukan kepiting itu.
Tapi tubuhnya baik-baik saja, ia tak merasa ada yang sakit. Ia merasa bugar. Lelah ditubuhnya lenyap, namun lukanya masih ada.
"Selamat Bharat kau berhasil lolos" Haiyla memberinya selamat. "Dan ini belum berakhir, Masih ada Misi paling akhir, tapi misi ini akan diputuskan nanti, antara kalian berdua" lanjut Moon Goddess itu dalam kepala Bharat.
"Misi? Lagi? Kalian berdua?" Otaknya bertanya, tantangan apalagi yang harus ia taklukkan.
"Portalnya terbuka, Ayo Red kita pulang" Bharat buang rasa penasarannya, nanti juga Haiyla memberitahu dirinya Dan juga tentang sinar berbentuk bulat yang masuk dalam dirinya.
__ADS_1
Tbc.