
Henry telah kembali, ia tak menemukan apa-apa, Nokturnal tak tahu, bahwa Darkhole membuat seal agar terowongan itu tak terlihat dari luar.
Seal yang Camy buat sama dengan seal yang ia temukan pada jurnal sang ayah. Info dari Bharat yang mendapatkan pengelihatan bahwa ia melihat melihat robot manusia di hutan dekat Hide Dome. Juga Melihat gedung Nokturnal. Camy tak ingin sesuatu yang buruk terjadi maka ia memasangkan seal ozon.
Bornt Marky yang mendapat laporan bahwa Henry pulang dengan tangan kosong pun curiga, tak mungkin, terowongan itu berada di daerah tempat ia datangi, tak mungkin ia salah, atau kah ingatannya menurun, ia memeliki ingatan fotografis, jadi hanya satu. Seal. Pikirnya.
DarkHole membuat seal agar ia tak menemukan keberadaan terowongan itu. "Dasar licik. Keparat kau bapak dan anak sama saja!" Makinya,
"Jangan kira aku tak bisa menghancurkan seal ozon temuanku itu!" Marky segera menuju tempat tinggalnya yang ada di Monts Side. Ia melewati beberapa orang yang menunduk menghormatinya.
Degan tergesa ia membuka pintu dan menuju lab yang ada di tempatnya ini. Mengeluarkan cairan dari dalam pendingin. Dan beejalan menuju ke arah lemari kaca yang penuh dengan berbagai macam temuannya.
"Hai sudah lama" setelah ia memegang jabatan tertinggi di Nokturnal, ia tak menyentuh labnya. Ia sibuk mencari dana investasi, sibuk melibas semua yang menghalangi. Sibuk membangun Nokturnal yang menjadi obsesinya bisa menjadi nomor satu didunia.
Sekarang ia membuka kembali semua yang telah lama ia tinggalkan. Marky mengelus, temuannya. Matanya menatap lurus kedepan. "Mari kita mulai" senyuman angkuh tercetak di wajahnya.
*
*
__ADS_1
*
Camy meremas foto yang ada ditangannya. Ternyata musuh yang ia cari ada didepan matanya. Camy merasakan kemarahannya. Ia melangkah dari rumahnya ke tempat Riby.
"Riby lepaskan dia" Riby hanya melongo. Ia sedang sibuk dengan penelitiannya. Sedangkan Leon masih dengan alat yang Riby buat, berkutat dengan drama yang otaknya ciptakan.
"Ada apa?" Ia menatap lurus pada Camy. Tak mengerti pemikiran Camy.
"Biarkan ia pulang dan menyebarkan tempat ini aku ingin bertemu dengan pemilik Nokturnal disini"
"Kau serius?"
Riby mematikan alatnya dan Leon lalu tertidur nyenyak. Riby membuka rantai yang berada di tubuh Leon dan pergi begitu saja. Ia akan memantau dari 'Tenda' mereka.
Leon akhirnya terbangun. Kesadarannya kembali kepalanya berat, matanya tertutup entah apa, ia mencopotnya, seperti VR. Cahaya menyorot matanya, Leon memicing perlahan dan mendapati tak ada seorang pun di sekitaranya, Riby pun tak ada.
Ia melihat tangan, kaki dan tubuhnya sudah tak terikat lagi. Ia turun, dari meja besi oprasi. Ia hanya menggunakan celana panjang tanpa atasan. Ia awas, rasanya sangat mengerikan jika ia tetap disini. Kesempatan bagus.
Berjalan perlahan menuju pintu. Memantau sekitarnya. Tak ada penjaga. Ia berjalan cepat ini waktunya ia melarikan diri. Ia keluar rumah. Menuju lapangan luas lalu ia masuk kehutan, malam gelap, hanya cahaya bulan yang meneranginya.
__ADS_1
Ia berjalan dijalan setapak. Sesekali berlari. Melihat kebelakang, dan berjalan lagi. Ia tak melihat jalannya. Beberapakali ia tersungkur namun tak ingin berhenti ia bangkit dan berjalan dan berlari walu tertatih.
Nagasnya memburu, tersenggal. Ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar. Mengambil oksigen yang sangat tipis. Ia mendengar suara di belakangnya, tak ingin tertangkap. Kembali ia melangkah.
Ia melihat sebuah pintu besi, Leon semakin cepat mendekati pintu itu. Ia melihat sekeliling dengan tatapan awasnya. Riby menikmati pelarian Leon dengan keripik kentang juga sekotak pizza hangat.
Leon membuka pintu itu, terowongan gelap menyapanya. Ada rasa ragu dalam dirinya. Namun ia melihat kebelakang dan ia tak akan kembali ketempatnya disekap.
Leon masuk ke dalam perlahan dengan pintu yang juga perlahan menutup. Ia berjalan ragu. Tapi ia terus melangkah.
Ia mengikuti terowongan itu, hingga ia melihat ada setitik cahaya, ia berleri kencang menuju cahaya yang semakin lama, bukannya mendekat malah pergi.
"Tunggu!" Gaumannya bergema menyeramkan. Ia pun ikut terkejut. Sesaat ia memperlambat lajunya. Gamang, Leon mulai lelah, apa ia menyerah saja, tidak! otaknya memerintahkan untuk terus berjalan. Dalam hati ia tak mau menyerah. Ia harus bisa keluar dari sini. Ia mempercepat larinya.
Senyumannya tersungging ia menemukan pepohonan didepan matanya juga berbagai tenda juga adanya kotak pizza yang terbuka, masih ada beberapa potong yang ada diatas bangku.
Ia pikir mungkin itu milik penjaga yang tak habis. Leon yang lapar meraih dan melahapnya. Dengan mata yang juga masih mawas ke sekitarnya.
Kemuadian ia berlari lagi masuk dalam hutan dengan tangannya mengenggam pizza juga mulut yang penuh dengan pizza itu.
__ADS_1
tbc.