
Setelah semalam ia menjaga Wina, tak ada tanda-tanda efek dari formula tersebut.
Ia tak sendiri, ada Bill, Ethan, dan Luke, mereka juga senantiasa menunggu kemunculan efek formula tersebut.
Dan menjelang fajar tak Wina masih terlelap. Potka keluar ruangan ia ingin mencari udara segar juga kopi.
Potka beranjak dari tempatnya, "Mau kemana kau?" tanya Ethan.
"Menyeduh kopi" jawab singkat Potka. Ia lalu keluar ruangan.
Mengusir kantuk karena setelah ini mungkin efeknya terlihat.
Akhirnya ia tahu, ternyata Bill adalah ketua dari tim milik Wina.
Tapi dimana ia sekarang, sebuah bangunan tak kalah tak terawat sama seperti bagunan pertama, bangunan yang Wina tempati.
Ia tetap melangkahkan kakinya, ada sebuah gapura disana, di tumbuhi tanaman liar disekelilingnya, juga lumut yang muncul pada semen lembab.
Potka terus berjalan. Ia disuguhi dengan pemandangan air mancur yang bercat kusam tak terpakai. Banyak ilalang tumbuh didalam kolam itu.
Air mancur cukup besar, dikelilingi bangunan besar disekitarnya. Potka juga melihat lurus kedepan ada sebuah pintu kayu dengan bayak ukiran berdiri kokoh.
Pitka keaeah pintu itu. Ia mendekat dan melihat kenop pintu kuningan yang masih menempel apik pada pintunya.
Potka mendorong pintu itu dan terbuka.
Sssrrrttt ...
Kret ... kret ...
Agak susah dan berat. Potla melongok kedalam. Ia hanya menemukan koridor. Potka berbalik, sepertinya tak ada apapun didalam, ia memutuskan kembali ke tujuan awal, mencari kopi.
"AKH!" pekukan wanita terdengar saat Potka akan menutup pintu itu.
Potka mengernyitkan dahi. Matanya menelisik ke lorong, rasa penasaran akhirnya membuat Potka memasuk kedalam.
__ADS_1
Hanya ada lorong dengan dinding tinggi layaknya bagunan besar dan beton dimana-mana.
Lorong ini berliku, seperti labirin dan untungnya tak bercabang. Setelah Potka menyusuri lorong itu. Ia melihat ruangan gelap diujung. Potka terus masuk.
Dan hanya gelap yang Potka temukan. Ia menekan alat yang seperti senter pada pergelangan tangannya.
Potka mulai mengarahkan senter itu kearah dalam, Potka menemukan sebuah tangga yang mengarah ke bawah. Potka menuruni tangga itu.
BLAR!
Setiap lima tangga tang Potka lewati makan obor yang berada didinding akan menyala. Membantu penerangan Potka.
Potka terus turun. Hingga ia menapakkan kaki ditangga terbawah dan zada genangan air yang memebasahi sepatunya.
Bunyi ceplakan air saat Potka melangkah mengema diseluruh ruangan.
Ia memasuki sebuah ruangan tanpa pintu, disana ia melihat ruangan dengan terali besi berjejer.
Penjara? Dapat ditebak, ia seorang pasukan elite yang mengerti dengan hal ini.
KRANK ...
KRANK ...
Benturan besi dengan besi memekakkan telinga. Potka semakin penasaran.
Krincing! Krincing!
KRANK!
Gebrakan terdengar. Sepertinya tawanan tempat ini ingin melepaskan diri.
"Marky! Marky! Lepaskan aku! Marky! Siaalan!" Seruan rancu, Potka semakin mendekat.
"Lepaskan aku brengs3k!" Makinya,
__ADS_1
KRANK!
"AKAN KUBUNUH KAU MARKY LEPASKAN AKU! BIA DAP!"
"HUAAAHAHAHA ..."
"KAU TAKUT DENGANKU KAN!"
"DASAR BAJI NGAN!"
"HUAHAHAHA ... "
Tangan dengan kuku hitam dan kotor menjulur dari dalam penjara, menghentikan langkah Potka. Ia mengintip untuk sesaat.
Potka melebarkan kedua netranya, ia tak menyangka akan melihat sosok yang ia kenal.
Terkejut, yang Potka tahu, sosok ini sedang merasakan kegembiraan karena mendapati saingan politiknya tewas.
Yang Potka dengar, Sosok ini sedang menjalankan anak perusahaan Nokturnal yang sempat di ambil alih oleh saingannya itu.
Dan melihat penampakan yang berbeda membuat Potka bertanya, mengapa ia berada ditempat ini.
Terpenjara dalam ruangan gelap dan lembab ini,
"Kalian semua pengkhianat! Kau membawaku ke tempat mengerikan ini!" Lirihnya dengan kepala menempel pada jeruji besi, rambut acak-acakan, benar-benar seperti kaum bawah.
"Akan aku bunuh kau Marky, pria tua!" Makinya.
"Marky ... Marky ... aku tahu aku akan menyelamatkanku, kan?" Sosok itu mendengar langkah kaki Potka berkecipakan di genang air.
"Marky cepat buka pintu ini" melasnya, berpura-pura baik.
"Marky cepat, kita ada rapat" rancu sosok itu.
Potka sudah berada di depan sosok itu, ia susah payah menelan salivanya,
__ADS_1
"Lamorna?" Wanita itu mendongak, menatap Potka lalu menyengir dengan wajah yang kotor.
Tbc.