DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Sihir dan Cahaya Ilusi


__ADS_3

Ia membuka pintu dengan susah payah, dan meletakannya diatas meja. Dan melihat buku itu, dengan tangan dipinggang.


"Kalau hanya baca aku bisa cepat, tapi untuk mengaingat? Entahlah!" Bharat menarik sebuah kursi kayu. Ia duduk disana. Netranya menatap buku itu.


"Konsentrasi Bharat" ia menyemangati dirinya. Dalam sekejap ada pancaran sinar kekuningan terang dari dahinya.


Dari buku tebal itu sinar keemasan juga terpancar dari sela-sela buku.


Mata Bharat melebar, namun kosong. Lalu buku tebal itu melayang dan terbuka dengan cepat lembar demi lembarnya. Tulisan emas keluar dari buku itu. Ia terbang melingkar membentuk spiral yang berputar.


Sinarnya terus memancar cantik, putih keemasan terpantul pada mata Bharat yang kosong. Tulisan itu terus berputar didepannya pas diatas kepalanya. Bharat mendongak.


Mulutnya merapalkan setiap lembar dengan tulisan yang keluar dari buku dan masuk ke dahinya. Bibirnya tak berhenti bergerak.


Kejadian beberapa menit itu pun selesai, Bharat menghempaskan punggungnya di kursi. Ternyata banyak energinya yang terkuras.


Sekarang dengan melihat sampul buku itu, Bharat bisa mengingat apa isi dari buku itu.


Tentang ilmu sihir turunan, salah satunya Bharat menguasai empat elemen bumi, dan didalam sana semua sihir dengan elemen tertulis.


Bharat merapalkan mantranya, dengan tangan kanan dihadapannya jari-jarinya bergerak dinamis.


Blazt!


Dari tangannya muncul api berwarna biru keputihan, sangat cantik, dan bibirnya masih bergerak. Kobaran apinya membesar.


Bharat tersentak. Ia panik. Ia dengan liar mengerakan telapak tangannya dengan kobaran semakin besar. Api itu menyambar ke ranjangnya dan kasurnya terbakar. Api merembet ke selimut. Menjalar dengan cepat.


"Bagaimana ini!" Ia berteriak.


Namun dikepalanya ia mendengar suara.


"Ikuti aku" bibir Bharat dengan sendirinya merapalkan mantranya, kobaran api ditangannya mengecil dan berubah menjadi gulungan air.


Bharat membidik kobaran api dengan tangannya. Dan api pun padam.

__ADS_1


"Kau sangat ceroboh!" Hardik Haiyla, jika si dewi tak menolongnya, habis sudah rumah Roxane jadi arang.


"Ingat mantra yang lain untuk menghilangkan asap dan memperbaiki ruanganmu ini! Perintah Haiyla.


Bharat kesal, denyut jantunga saja masih berlompatan. Ia hampir saja membakar dirinya. Dan si dewi malah mengomelinya.


Jari Bharat bergerak dengan gemulai. Ia ingat mantranya, dengan cepat ia merapalkan, dan asap masuk dalam telunjuknya. Bharat terdiam. Melihat semua keajaiban.


Asapnya telah hilang, ia mengamati jari telunjuk kanan tempat asap itu masuk. Tak ada yang aneh dengan jarinya.


"Kau terlalu lambat!"


Tubuhnya bergerak dengan sendirinya, dengan ringan tangannya bergerak indah. Cahaya kemilau muncul dari telapak tangannya.


Tangannya mengarah ketempat yang hangus terbakar. Cahaya itu membuat keadaan kamar Bharat kembali seperti semula.


Takjub! Tentu saja. Netranya berbinar dengan kemampuan yang ia miliki. Ada rasa bangga yang membuat bibir Bharat melengkung sempurna.


"Jangan sembarang kau gunakan kekuatanmu itu! Ada konsekuensi di baliknya jika kau gunakan untuk sesuatu yang tak baik" peringatan Haiyla.


Bharat menjatuhkan tubuhnya keranjang yang kembali seperti semula. Energinya tak ada lagi. Lemas ia ingin beristirahat. Euforia masih Bharat rasakan, ia memejamkan mata dengan senyuman dibibirnya.


Ia tak sabar nanti malam.


*


*


*


Marzon melangkah mengikuti Rooth. Si pohon jangkung kering itu berubah menjadi sosok manusia. Sedangkan Marzon yang manusia dalam dunia bawah ia selalu berwujud Lycan.


Rooth melanjutkan 'tour' dunia bawah, mengenalkan Raja baru pada wilayahnya. Perintah dari dewi penjaga mereka, Hecate.


Marzon menatap sekeliling pemandangan sungguh luar biasa. Kabut, kelam, itu yang ia pikir akan ia dapatkan didunia bawah, nyatanya du ia bawah sama seperti dunianya, hanya saja mahkluk yang berada didunia bawah.

__ADS_1


Mereka memiliki bentuk yang sangat jarang ia lihat. Dan hanya Marzon temukan dalam buku sejarah tua di perputakaan duniannya.


Sebuah barier melingkupi suatu bagunan, warnanya hijau terang dan bergerak indah, melingkupi bagunan itu. Marzon tertarik dan mendekat.


Ia akan menyetuhnya,


"JANGAN TUAN! Menjauh dari itu!" Seruan kencang Rooth, menghentika gerakan jari panjang Marzon yang ingin menyetuh cahaya itu. ia menarik tuannya untuk menjauh dari tempat itu.


"Tuan hati-hati dengan cahaya ilusi. Jika kau tersentuh sedikit kau akan ditariknya. Dan tak akan pernah kembali" ucap Rooth.


"Cahaya ilusi?"


Rooth hanya mengangguk. "Hanya sihir tinggi yang bisa menaklukan barier dari cahaya ilusi. Jika kau terjerat maka, susah kembali."


"Memang ada apa didalamnya"


"Katanya kau akan menjadi gila didalam sana, hanya duduk diam sambil tertawa aneh itu yang aku tahu" Rooth menjelaskan dengan berbisik.


"Jika sangat berbahaya mengapa kau mengajak aku kesini"


"Kau adalah Raja dunia bawah tuan, memang sepantasnya kau mengetahui seluk beluk dari dunia bawah."


Marzon mengangguk, namun matanya tak lepas dari barier Cahaya ilusi.


"Kau tahu dari mana, mereka yang masuk hanya duduk diam sambil tertawa aneh? Memang sudah ada yang pernah masuk dan keluar dengan selamat."


"Desas desusnya, jaman Raja Silkan, ia pernah masuk dan keluar dari sana, ia juga yang mengatakan kami harus hati-hati dengan cahaya ilusi itu."


"Raja Silkan?"


"Raja sebelum anda tuan, ia dikenal tangguh dan pemberani, memiliki sihir tingkat tinggi, namun ia menghilang, dan sebelumnya kedudukan Raja dikosongkan kemudian dewi Hecate datang dan membawa Anda Tuan" penjelasan panjang lebar dari Rooth.


Ini informasi baru untuk Marzon. Ia mendengarkan penuturan bawahannya itu dengan serius.


Namun rasa penasaran temtang cahaya ilusi tetap tinggal. Sekali lagi, Marzon menatap barier itu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2