DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Phoenix


__ADS_3

Bharat menepuk kepala Amora, anak Orso. Anak perempuan manis itu menuntun Bharat berkeliling dan menunjukan tempat terbaik dalam Phoenix Way melibat kawanan Phoenix.


Dan yang pasti Marzon dalam wujud manusianya. Ia juga tertarik dengan hewan mitologi itu.


"Disana!" Pekik senangnya. Amora bocah beruang itu berlari kearah tempat pemberian makan liar untuk phoenix.


Bharat menyiapkan bungkusan yang Berus berikan kemarin saat makan malam.


Bharat menuangkan. Tak lama, beberapa Phoenix muncul dan menikmati makanan yang Bharat berikan.


"Mereka memang memiliki majikan, dan akan pulang dengan sendirinya, untik makanan kita bisa memberinya di tempat-tempat yang telah disediakan" Bharat mengingat penggalan kejadian di makan malam, mereka asik membahas Phoenix. Dari pada membahas tentang pengukuhan Bharat dan Marzon.


"Lagi Onty latu, beli yang bayaaakkk, disana ada onik skecil-skecil" Amora menarik bawah baju Bharat.


"Ongkel Belus Ola mau liat onik skecil" ia berlari pada Berus dan mengangkat kedua tangannya. Ia minta gendong, agar Berus membawanya melihat sarang anak Phoenix.


"Ayo pegangan yang kencang" Berus dengan ringan memanjat pohon tempat Phoenix bersarang.


Saat Berus dan Amora kembali. Ditangan kecil yang terbuka anak phoenix muncul kepalanya yang botak menyembul, suae mencicit tinggi. Menimbulkan senyum.


"Mereka kembali terlahir tadi pagi." Berus terus menjelaskan. Mereka seakan sedang mengadakan tur belajar tentang Phoenix.


*


*


*


Wanita berlari di tengah pasar, ia dikejar olwh sekawanan sosok besar dibelakangnya. Tak ada satupun orang yang melihatnya berusaha menyelamatkan wanita itu.


Ia terus membelah kerumunan padat itu. Mencari jalan keluar. Tangannya masih terikat besi dengan rantai yang menggantung disana.

__ADS_1


"Cepat kejar wanita itu!"


"Jangan sampai lolos! Atau kita yang akan dihukum!" suara kencang salah seorang pengejarnya memperingati yang lain.


Wanita itu terus berlari. Baju yang ia kenankan sudah tak enak dipandang. Nafasnya menderu. Ia tak bisa hanya berlari saja.


Ia menyibak pintu kain lalu masuk kedalamnya. Ia mengintip dan melihat beberapa pengejarnya mengikutinya.


Ia berlari lebih kedalam yang ternyata sebuah lorong labirin tanpa atap. Dinding sempit kanan dan kirinya, sebagian dihiasi lubang yang seperti jendela.


"Itu dia!" Ia terlihat deri luar dan dibelakangnya ia melihat dua sosok besar. Mau tak mau ia harus turun tangan. Derapan kaki dibelakangnya semakin mendekat.


Satu sosok meraih tangannya. Dengan cekatan wanita itu membalik tangan penarik dan menguncinya ke belakang. Badan kecilnya serasa bukan tandingan sosok lelaki besar itu.


Lelaki itu meringis kesakitan dan juga meremehkan wanita itu. Namun sekalia melimpat ke bahu lelaki itu ia mengakup kepala lawan dengan kedua tangannya  lalu dengan cepat memutar kepala sang lawan hingga tewas.


Lawannya meruluh ditanah, tak lama ada kepalan tangan yang ingin melukainya dengan sabit yang lawan lain itu bawa.


Lawannya tak diberi kesempatan untuk membalas. Ia mengeluarkan satu per satu jurusnya. Lawannya mulai mundur. Sesekali ia meliah lawan yang mengejarnya dari jendela yang mereka lewati.


Lawannya lunglai, ia banyak terluka dari serangan wanita itu, ia mundur selangkah itu kesempatan wanita itu, ia menendang dadanya hingga tubuh besar itu twrpental ketembok dan membuat lubang menganga di temboknya.


Para musuhnya mendekat dengan menghunakan tembok yang menganga itu. Wanita itu berlari untuk melarikan diri. Degupan jantungnya semakin kencang dengan nafas berat ia terus berlari.


Hingga ia tersudut dijalan buntu. Nafasnya beriringan dengan nafas lawannya yang terdengar semakin mendekat. Ada kekehan mengejek.


"Cepat tangkap!" Wanita itu lelah. Matanya meliar mencari cela untuk kabur. Tak ada tenaga untuk melawan saat ini.


Ia mendapatkan celanya, ia berlari ke arah salah satu lawan, namun perhitungannya salah. Rambut wanita itu dijambak.


Ia dibanting ke tanah. "Ark!"

__ADS_1


Kembali sosok besar yang menarik rambut itu menghajar perut wanita itu.


"Uhug!"


Ia terbatuk, darah segar keluar dari mulutnya. Ia menyipitkan matanya saat ia melihat lawannya sudah melepaskan tinjuannya yang mengarah pada wajahnya.


"ARGH!"


BRAK!


BRAK!


SRANK! TRANK! TRANK!


"WINA! KAU BISA BERDIRI?" Ya wanita itu Wina yang menjadi tawanan klan Trudy. Ia berani mengacau. Alasannya ia ingin menguji kemampuannya. Namun ia lengah dan masuk dalam penjara bawah tanah klan Trudy.


Namun ia bisa melepaskan diri. Dari penjara pengap, gelap dan bau itu.


Wina mengangguk, ia melebarkan netranya, lelaki didepannya itu mengangkat bahunya dan menyandarkan tubuhnya ke tembok, "Potka" gumam Wina. Yang masih susah mengatir nafas dan rasa nyeri di ulu hati.


Penyerang itu semakin brutal. Paus-paus itu tak terima kawannya tewas. Mereka menerjang Potka. Namun dengan dingin ia mengeluarkan senjatanya. Pistol dengan peredam.


Potka menebak semua targetnya dan melumpuhkannya. Ia terlaku fokus pada lawan yang berada didepan.


"DI BELAKANG!" teriak Wina. Terlambat! Potka sudah terdorong kedepan. Dan berguling ke tanah.


"Sial kau kurang cepat!" Potka memaki wanita yang dengan angkuhnya mengangkat bahunya.


Potka berbalik dan menembak penyerangnya, tak pandang bulu. Satu per satu lawan mereka tumbang.


Dan Potka mengedarkan pandangan tajamnya dan tak satupun dari mereka akan menyerang lagi. Ia meraih lengan Wina dan menariknya pergi dari tempat itu. Mereka mencari tempat aman. Dan kembali ke markas.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2