DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kisah Willow Troto 28


__ADS_3

Troto tak sekalipun mengalihkan tatapannya pada wanita di atas panggung itu. Troto kembali kemejanya.


Mengapa wanita itu berada disana? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa? Banyak pertanyaan di otak Troto hingga ia melupakan misinya bersama Willow.


Troto menggenggam papan angka miliknya dengan keras. "150ribu koin emas" sang Mc kembali meneriakkan tawaran terakhir.


Tawaran dari lelaki tua dengan kumis tebalnya. Menatap ke arah barang lelangnya dengan tatapan menjijikan.


"150ribu koin emas pertama!" Mc telah meneriakkan jumlah tawaran menuju final. Senyuman pria tua itu semakin melebar. Troto semakin dibuat geram.


"150ribu koin emas kedua" wajah me sum lelaki tua itu membuat Troto semakin meradang. Ia melihat wanita yang sedang dilelang itu tertunduk tak berdaya, kusam dan lusuh.


"150ribu koin emas ke—"


"300RIBU KOIN EMAS!!" Ucap Troto memotong Mc. Si lelaki tua itu menatap nyalang Troto. Mc dibuat terkejut, tawaran yang pastinya tak tanggung-tanggung.


Wanita yang berada di panggung menatap Troto yang juga menatapnya. Lama mereka saling bertatapan. Tentu saja ia tak tahu siapa penawarnya itu. Lelaki dengan tuksedo.


"Baik, 300ribu koin emas pertama" lelaki tua itu mendesah kesal, tentu saja ia mempunyai banyak koin tapi untuk seorang budak manusia, jumlah itu tak sebanding dengan oa kehilangan koin-koin berharganya.


"300ribu koin emas kedua!" Wanita itu membuang tatapannya. Ia pasrah. Siapapun sama saja. Lelaki muda ataupun tua. Ia akan hanya menjadi seorang budak.


"300ribu koin emas, Ketiga! Tok!Tok!Tok!"


"Selamat untuk Tuan nomor 67, Anda mendapatkannya, nanti tim kami akan datang dan meminta mendata anda" ucap Mc lelang.


Troto menatap tajam wanita yang digiring seseorang untuk kembali masuk kedalam. Mata mereka kembali bertemu. Pandangan mereka terlepas saat tubuh lusuh itu sudah tidak terlihat lagi. Lalu terdengar suara sesuatu yang berat didorong masuk.


"Selanjutnya, barang ini, adalah barang peninggalan bangsa …. "


Mc melanjutkan acara lelangnya, Troto sudah tidak lagi fokus pada acaranya, tangannya menggenggam keras papan nomor.


Troto keluar ia akan menebus wanita itu. Di depan pintu kasino Troto melihat Luford dengan wajah mengeras. Decakan terdengar dari mulut Troto. Ia lupa dengan Willow.


"Kalian tidak berguna!" Teriakan Luford terdengar oleh Troto yang menyimpulkan wanitanya berhasil lolos. Troto akan menemui Willow nanti setelah masalahnya di pelelangan ini selesai.


"Zale, aku bertemu Popi" ucapnya pada earpiece nya.


"Hah!" Zale yang berada di seberang kembali mengorek kupingnya. Apa pendengarannya terganggu.


"Kau bilang bertemu Popi?" Tanya Zale.


"Dimana?"


"Pelelangan, aku membelinya disana, 300ribu koin emas."


"Gila! Jangan bilang kau masih—"


"Nggak ini—"

__ADS_1


"Bukannya kau sedang misi bersama Willow"


"Tuan Troto, silahkan ikuti saya" seseorang memanggilnya. Semuanya tentang segala apapun yang harus ia selesaikan telah beres.


Ia melihat Zale yang sudah berada di pintu kasino. "Sepertinya terjadi pertarungan, sudut itu hancur."


Zale malah fokus pada sudut dapur dimana, tempat Willow saling tembak dengan anak buah Luford. Ia mendekati Troto yang sedang menunggu barang yang ia beli.


"Tuan, silahkan, kami sangat senang bekerjasama dengan anda." Senyuman si pengurus. Sosok Wanita lusuh keluar dengan tangan yang dirantai. Rambut panjang hitam keriting berantakan.


Nafas Zale tercekat. "Popi?" Guman Zale.


"Kemarikan tanganmu, sekarang ia Tuanmu!" Ucap wanita yang membuka rantai pada tangan Popi.


Popi menemukan dua orang lelaki didepannya. Yang satu lelaki yang membelinya, yang satu terlihat lebih muda dengan rambut rapi. Mereka memiliki rambut keperakan.


Popi menatap keduannya. Ia berjalan mendekat. Tatapan Popi terlihat kosong dan lesu. Selama ia disekap, ia tak begitu banyak makan.


Tubuh Popi terhuyung dan ambruk. Dengan cepat Troto menangkap tubuh wanita kurus itu.


"Kau akan membawanya kemana?"


"Ke pondokku" tegas Troto. Ia menggendong dengan ringan tubuh ringkih itu.


"Kau juga menghilangkan ingatannya? Seperti Willow?"


"Dia yang pertama."


***


Willow bergegas menuju rumah Troto yang ia tempati. Perasaannya campur aduk. Mengendarai moto milik Troto. Ia memacu kendaraannya.


Ia keluar Giant Pipe dengan perasaan yang tak menentu. Ia tak ingin mempercayai, namun hingga kini Troto sekalipun tidak menghubungi dirinya.


Masih terlihat lebam kebiruan pada wajah Willow. Ia tak merasakan kesakitannya. Mencapai bukit Falldown ia memarkirkan motonya.


Ia beranjak ke rumah Troto yang ia tinggali. Tidak jauh dari bukit Falldown. Dalam diamnya Willow melangkah ke arah pondok Troto.


Willow menatap jendela pondok kayu tempat ia tinggal itu. Ia melihat adanya pergerakan didalam pondok.


"Kau tak usah melakukan apapun, istirahatlah" Willow melihat Troto berkata dingin. Pada wanita dengan rambut keriting panjang. Yang sibuk didapur.


"Saya budak Tuan, saya tidak bisa hanya tidur saja" jawab wanita itu menunduk takut. Troto melihat dengan tatapan iba.


"Kau disini Troto, Kau meninggalkanku semalam"


Willow masuk ke dalam pondok. Ia tidak bisa memberi cela pada kedua mantan kekasih itu.


"Kau disini?" Troto mendekati Willow. Memeluk erat Willow. Ia memerlukannya.

__ADS_1


"Lebih baik kau kembali ke kamarmu! Pulihkan tubuhmu, aku tak ingin kau menyusahkan diriku" ucap datar Troto dengan menarik Willow masuk dalam kamarnya.


Wanita itu menggunakan kamar kecil di ruang bawah. Ia menuruti ucapan Tuannya. Popi masuk dalam kamar. Ia menutup pintu kamarnya perlahan. Ia melepas apronnya dan meremas kain itu kuat.


Wajahnya mendongak tidak ada lagi keluguan, terlihat tatapan mata nyalang, dengan sesuatu licik dibaliknya.


Didalam kamar Troto. Lelaki itu masih memeluknya. Namun tidak seperti di hadapan wanita keriting tadi. Saat ini Willow melepaskan pelukan Troto.


"Jelaskan!" Willow menatap tajam pada Troto.


"Kau masih ingat yang aku katakan saat kita kembali bersama. Aku tidak akan melepaskanmu, dan kau pasti tahu aku bisa nekat" Ancamnya pada Troto.


"Aku benar tak ada apa … Wajahmu kenapa?"


Troto baru menyadari lebam pada wajah Troto. Ia menangkup wajah Willow dan memperhatikan setiap jengkalnya.


"Ck! Kau tak datang dan hampir saja anak buah Luford membunuhku, tapi sebelum dia membunuhku, kubunuh duluan dirinya."


"Itu wanitaku!" 


Puji Troto yang tidak membuat Willow terkesan. Ia sedang menunggu penjelasan dari lelakinya itu. Ia akan menyembunyikannya atau menjelaskan semuannya.


"Tidak usah, berkata manis! Aku masih menunggu penjelasan!" Ucap Willow tanpa basa-basi.


"Dia adalah cinta pertamaku, juga mantanku, namanya Claudy Popi. Ia sama sepertimu, Seorang manusia,"


Mengalirlah cerita jika Troto mengenal Popi saat dulu ia memantau dunia manusia, bertemu dan mereka menjalin hubungan, tapi memang hanya sebentar, lelaki itu kembali ke Guapo. Dan bertemu kembali saat di pelelangan itu.


"Dan kau menghapus ingatannya?" Tanya Willow, Troto mengangguk. Troto kembali menceritakan segalanya saat pelelangan pada Willow yang ia lihat tidak menunjukan tanda-tanda akan mengamuk.


"Kau merasa bersalah?"


Kembali Troto mengangguk "Dan kasihan" tambahnya, ia menarik wanita nya itu menuju ranjang dan kembali menariknya agar duduk diatas pangkuan lelaki itu.


"Ini masih sakit?" Troto mengelus memar pada wajah Willow. Dengusan keluar dari mulut Willow.


"Disini yang ingin meremukan kepala seseorang" Willow menunjuk ke dalam dadanya. Membuat Troto terkekeh, 


"Sayangku sadis sekali, tapi aku suka" lelaki itu mencuri satu kecupan. Kecupan-kecupan kecil yang berubah jadi Lamu tan dan Luma tan.


Tangan Willow merangkul leher Troto dan memperdalam ciuman mereka. Jemari Willow mulai ikut merambat pada rambut Troto.


"Rindu kamu" bisik Troto disela ciuman mereka.


BRAK! BRAK! TRAK!


"AW!" pekikan kencang menghentikan cumbuan pasangan itu. Troto menghapus sisa saliva pada bibir Willow. Dan kembali mengecupnya. Yang kembali melu mat kembali bibir Willow.


"Aaawww!" Pekik yang mirip jeritan itu. 

__ADS_1


"Sudah, itu lihat dulu mantan cinta pertamamu itu sedang apa, ayo kita lihat" Willow merapikan pakaiannya yang agak berantakan. Decakan terdengar dari Troto.


Tbc.


__ADS_2