
Troto dan Raskal menyusup ke tempat Luford. Mereka berjalan mengendap dengan senjata di tangannya.
Semakin masuk kedalam gedung milik Luford. Bangunan tinggi itu menyatu antara markas dan kediaman Luford.
Sebuah pintu. Mereka berdua masuk kedalamnya. Suasana gelap. Mereka melangkah ke tengah. Hanya sinar dari pintu yang menerangi ruangan itu.
BRAK!
Suara kencang besi menghantam lantai terdengar memekakan kuping mereka.
Clak!
Lampu menyala. Silau. Mata Troto dan Raskal menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk dalam mata mereka. Mereka masuk dalam sekapan kurungan besi.
"Selamat datang Tetua dan Kapten"
Trak! Trak! Trak!
"Apa-apaan ini Luford!" Troto mengayinkan pedangnya dan menghantamkan pada besi-besi kurungan itu. Namun pedangnya tak bisa memotong besi itu. Tergores saja tidak.
"Lepaskan kami!" Teriak Raskal.
Tempat itu sudah dikepung oleh anak buah Luford. Menodongkan senjata mereka pada kedua tawanan yang berada di kurungan besi.
"Kalian sangat berani datang ke tempatku"
"Memang kenapa kami tidak berani?"
"Bawa dia kemari!"
Troto dan Raskal melihat sosok wanita yang dijambak masuk dalam ruangannya.
"Willow?" Seringaian terlihat dari si penjambak.
"Halo lama tidak bertemu" sapa sosok lelaki itu.
"Argh!" Willow merasakan akar rambutnya tertarik. Ia ingin menyusul Troto dan Raskal, setelahntahu dari Raflesia. Namun ia disergab dari belakang. Dan diseret kemari.
__ADS_1
"Hilton! Rupanya dirimu"
"Pengecut sepertimu akhirnya berani keluar dati tempat persembunyianmu!" Ejek Raskal.
"Tidak berubahnya Hilton, pengecut memang sifat alamimu!"
"Hargh!"
Tarikan pada rambut Willow mengencang. Raskal memang bren gsek! Lelaki itu sedang memprovokasi dan willow yang mendapatkan hukumannya. Ia melirik tajam Raskal.
Willow memegangi tangan Hilton. Menahan agar tidak lagi menariknya. Tapi bukannya mengendur Hilton semakin mengencangkan jambakannya.
"Tetua, kau akan melihat aku menghabisi kekasihmu ini"
"Hilton! Kau janji memberikan wanita itu padaku!" Luford protes ia tak tahu jika Hilton menggunakan wanita yangbia incar sebagai sandranya.
"Luford lupakan wanita tidak berguna ini! Kau tak membutuhkannya. Biarkan tetua kita melihat bagaimana wanitanya tercabik dan menjadi makanan monster-monster milikmu itu."
"Keluarkan monsternya!" Perintah Hilton.
Tiga kurungan besi keluar dengan penutup mengelilingi kurungan itu.
"Aku dengan senang hati, memberikan pilihan padamu ingin melihat bagaimana wanitamu ini mati!"
Tawa Hilton mengelegar.
"Kau ingin kurungan hitam? Kurungan abu atau kurungan hijau tua?"
"Kalian gila!"
"Lepaskan dia!"
"Arrkh!"
"Kalau kalian tidak memilih, bagaiman jika aku saja yang memilih?"
"Hmm kira-kira mana yang paling sadis? Aku sedang ingin melihat pembantaian sadis jadi aku memilih Hitam? Bagaimana menurutmu Luford?"
__ADS_1
"Kau seperti tidak rela Luford!"
Lurofd menatap tajam Hilton.
"Kau menjadi lemah karena dia!"
Hilton menarik rambut Willow kasar. Wanita itu bisa merasakan beberapa helai rambutnya tercabut bersamaan. Rambutnya kusut. Karena cengkraman Hilton.
"Sakit! Bede bah sialaan!" Maki Willow.
"Rupanya kau bisa berbicara, taoi sayang sekali. Aku ingin menghabisimu sekarang juga jadinya!"
"Lepaskan dia!"
Dengan sekali kendali Luford menghancurkan kandang hitam itu. Sosok gesit keluar, menuju Willow dan Hilton.
Bugh!
Brak!
Bukan menghantam Willow tapi malah menghantam Hilton hingga lelaki itu terpental jauh. Menabrak pilar-pilar besar yang mengelilingi ruangan itu.
Willow melihat mahkluk yang gesit, sosok hitam. Ia berada diatas kurungan Troto dan Raskal.
Meletakkan bom diatas sana. Dan kemudian menjauh. Raskal dan Troto berlindung pada mantel yang dapat melindungi mereka.
DOOM!
BRAK! BRAK! BRAK!
Trang! Trang!
Kurungan Yroto dan Raskal hancur.
Raskal dan Troto keluar. Kejadiannya sungguh cepat.
"SERANG! KALIAN JANGAN DIAM SAJA!" Perintah Luford.
__ADS_1
Tbc.