
"Bisa nanti kita bertemu" ucap Willow pada Raflesia.
"Okey, kau datang saja ke kamar Troto aku akan berada di Giant Pipe selama tiga hari, atau bisa lebih" ucap Raflesia santai.
Willow menatap duyung itu lama lalu mengangguk. Ia pun pergi begitu saja. Ia habiskan seharian dengan latihan dan latihan.
Willow kembali ke kamarnya. Tubuhnya terasa lengket penuh keringat. Ia melepas pakaian dan mengambil handuknya.
Mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Membuat ototnya rileks, aroma sabunnya menguar. Tak lama Willow selesai, mengenakan handuk, ia menuju ke lemari pendingin.
Mengambil satu kaleng bir dingin dan meneguknya, rasa pahit dingin menjalari rongga tenggorokannya.
"Aku baru tahu kekasihku terlalu seksi"
Rengkuhan membuat Willow tersentak. Bisikan berat dengan nafas hangat membelai lehernya. Troto memeluk erat dari belakang. Juga meremas pinggangnya.
Willow merasakan kecupan hangat pada bahunya yang terbuka. Kecupan itu menjalar naik ke telinganya.
******* sensual membuat Willow mendongak mende sah. Tapi Willow teringat Raflesia yang menggunakan kamar Troto.
Wanita itu menjauhkan wajah Troto dari tubuhnya. Ia lalu membalik tubuhnya menjadi berhadapan dengan lelaki itu.
Troto siap menyerang bibir Willow namun Willow meraup wajah Troto dengan tangannya.
"Tunggu! Bisa kau jelaskan mengapa Raflesia tinggal di kamarmu?"
Troto menatap lama wanitanya itu. Lalu mengambil tangan Willow yang ada di wajahnya dan mengecup jemari Willow.
Willow menunggu, tapi Troto yang sudah tinggi di puncak. Tak menanggapi. Matanya lelaki itu berkabut.
Tapi Willow ingin mendengar. Ia menarik tangannya. Dan berdiri dengan pose yang menantang ingin diterjang.
"Ia tak ingin menggunakan kamar yang tak pernah dipakai katanya, sedari dulu sudah begitu, bukan hanya kamarku, tapi kamar siapapun yang mau meminjamkannya pada Raflesia."
"Lalu kau akan tidur dimana?"
"Disini"
Kembali Troto mendorong tubuh Willow hingga punggungnya menabrak pelan lemari, lelaki itu mengungkung tubuh Willow dan menyerang dengan ciuman yang panas.
Mereka saling bergulat bibir. Tangan Troto yang sedari tadi meremas pinggangnya mulai naik ke atas.
Dengan sentuhan ringan handuk Willow meluruh. Tapi Willow menahannya. Ia menatap Troto dengan terengah
"Aku tak bisa sekarang"
__ADS_1
Nafasnya putus-putus. Bibirnya sudah bengkak.
"Aku ada janji"
Saat Troto tidak mendengar dan terus mengecupi bahu Willow.
"Troto please"
Geraman Troto terdengar. Walau ia masih saja berkutat di curuk leher Willow.
"Sorry"
"Janji setelah aku kembali okey"
Lelaki itu masih tak ingin melepas Willow. Rasa pening di kepala. Dengan nafas menderu hangat menyentuh kulit bahu Willow.
Tatapan Troto tak rela. Willow berbisik kata "sorry" saat mata mereka saling menatap. Willow mengelus wajah Troto yang terlihat seperti anak anjing, memelas. Willow tak tega.
"Quickie" bisik Willow, ia melihat binaran pada bola mata Troto. Benar-benar.
*
*
*
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan padaku"
"Dan siapa wanita di sebelahmu itu?" Raflesia menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Kami ingin tahu tentang tunanganmu, Luford." Lime berkata.
"Aku Lime, kami memiliki Misi dan targetnya Luford" lanjut Lime.
"Ah … begitu rupanya."
"Kalian harus lebih berhati-hati. Ia tidak seperti dikatakan oleh rumor. Sedikit berbeda. Tapi untuk kekejaman dan sadis, itu benar"
"Kelicikan juga ia teliti, tapi soal berganti wanita, itu juga benar" Willow dan Lime dibuat bingung.
Wanita itu mengatakan rumor yang ada tidak benar tapi semua yang ia katakan sama dengan rumor itu sendiri.
"Jadi yang kau maksud itu, Luford susah ditebak?"
Raflesia mengangguk. Hanya bagian dari Luford berganti wanita setiap malamnya itu memang benar. Tapi bukan untuk lelaki itu nikmati melainkan untuk menjadi pakan monster-monsternya.
__ADS_1
Monster hasil eksperimennya, bentukan mutan yang berbahaya. Raflesia pernah melihatnya sendiri. Mendatangi Luford pada saat ia sedang memberi makan monster miliknya.
"Aku tunangan itu hanya untuk kepentingan bisnis" ucap Raflesia.
"Maaf jika aku tidak membantu banyak, tapi kalian berdua harus hati-hati, lelaki itu kalau sudah terobsesi menjadi sangat menakutkan" peringatan Raflesia.
*
*
*
"Tuan penjagaan wanita itu diperketat"
Laporan dari anak buahnya. Luford melambaikan tangan memerintahkan anak buahnya untuk pergi.
Foto Willow terpampang di layar besar miliknya. Juga berceceran gambar-gambar Willow dengan banyak sudut.
Luford menyesap winenya. Menggoyangkan cairan merah gelap itu. Dan mencium aroma yang menguar. Matanya menatap lurus gambar Willow.
Ketukan terdengar. Ia menatap gelasnya dan kembali memutar-mutar winenya.
"Tuan, ada nona Flesi" asisten Luford,
"Hai sayang" Raflesia menatap gambar Willow yang ada di layar.
"Siapa dia sayang?" Ucap Flesi manja. Ia sudah duduk dipangkuan Luford.
"Okeeeyyy aku tak akan ikut campur"
Raflesia mendapatkan lirikan tajam, membuat dirinya menutup mulut dan menggeleng manja.
"Pintar" Luford meletakkan gelas winenya di meja, tangannya memegang pinggang Raflesia.
Raflesia mengecup pipi Luford. Dan lelaki itu melu mat bibir Raflesia. Suasana memanas, ruangan diisi dengan suara percintaan panas membara.
Ia membawa Raflesia ke ranjang yang ada di ruangan kerjanya.
"Willow" mata Raflesia yang terpejam membuka lebar. Mendengar lenguhan Luford. Lelaki itu tertidur sesaat setelah pelepasannya.
Raflesia terduduk di samping ranjang, mengenakan kembali pakaiannya. Ia menatap wajah Luford yang pulas.
Raflesia berjalan keluar ia akan pulang ke rumahnya. Namun gambar Willow di meja kerja Luford menghentikan langkahnya. Ia mengulurkan tangan dan mengambil beberapa lembar gambar.
Willow harus berhati-hati. Tunangannya telah terobsesi dengannya.
__ADS_1
Tbc.