DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kisah Willow Troto 18


__ADS_3

Rambut berantakan, ia mendengar langkah kaki diarah dapur, pasti bibi Lomi sudah datang, pikir Willow.


Ia masukan ke kamar mandi, membersihkan diri. Ia ingin ke sungai yang berada ditengah hutan.


Pasti sangat menyegarkan, siang nanti ia berenang disana. Willow menuruni tangga mencium aroma masakan.


"Pagi Bi" ucap Willow yang mendekat pada lemari es yang berada di ruang makan. Ia tak melihat sosok yang ia sapa, lebih tinggi, bongsor dan berkulit kecoklatan, dengan tato menghiasi punggung yang menantang, tak mengenakan pakaian itu.


"Bisa hangatkan susu in—" Willow mendekat, ia menghentikan ayunan kakinya, saat sosok bibi Lomi tidak seperti bibi Lomi.


Kulit punggung coklat dengan penuh tato tribal, berdiri, menengok kepadanya, lalu melepaskan pisaunya, dan mengambil botol susu dari tangan Willow.


"Pagi, sarapan mu sebentar lagi siap" Willow masih mematung di tempatnya. Melihat sosok di depannya yang sibuk memanaskan susu untuknya.


"Kau tunggulah di meja makan" sosok itu mendorong tubuh Willow dengan gelas dengan susu hangat di tangannya.


Menarik kursinya dan meletakkan gelas susu itu di depan wanita yang masih saja diam. Willow segera menyadarkan dirinya.


"Dimana bibi Lomi?" Tanyanya dingin. Matanya menatap susu di depannya yang mengepul sedikit asap.


"Aku meliburkannya tiga hari" ucap sosok itu yang kembali berkutat dengan acara memotongnya.


"Lalu apa yang kau lakukan disini?" Hardik Willow. Ada apa dengan lelaki ini, mengapa dengan sesuka hati mengatur hidupnya.


Meliburkan bibi Lomi, siapa dia melakukan hal itu!


Hingga saat ini Willow tak menyadari jika dirinya tinggal atas pengawasan Troto. Ya, sosok itu adalah sosok Troto. Troto yang mendorongnya menjauh. Dan sekarang ada apa ini?


Willow masih sibuk dengan pikiran dan menunggu jawaban Troto.


"Kita sarapan dulu" saat mata tajam.Willow menghunus dirinya. Ia meletakkan satu piring omelet dan roti lapis juga satu mangkuk sup panas. Kepulan sup menghantarkan aroma lezat di hidung Willow.


Suara nyaring dari perut Willow, membuat kedua nya saling menatap. Mata Willow melebar panik, semburat merah menjalari pipinya. Bersamaan dengan sudut bibir Troto terangkat. Kekehan renyahnya membuat Willow terpesona.


"Makanlah" ia menyendokkan omelet ke mulut Willow, Wanita itu lama terdiam, dan Troto tak menyerah. Akhirnya Willow membuka mulutnya, sendok penuh omelet masuk dalam mulutnya, Willow mengunyah lambat. Rasa gurih menyebar ke seluruh mulutnya.


Troto menunggu, kemudian menyuapkan lagi sendok ke depan mulutnya. Willow menatap sendok dan meraihnya.


"Aku bisa sendiri" ia melahap omelet rakus, Troto menepuk puncak kepala Willow.

__ADS_1


Ia  tersenyum teduh. Dan duduk dihadapan Willow seperti semalam di rumah Lomi.


Troto sudah menghabiskan sarapannya. "Sekarang jelaskan mengapa kau disini, dan meliburkan Bibi Lomi sesuka hatimu?" Ucap Willow meletakkan sendoknya. Sup di mangkuknya masih tersisa sedikit.


Ia melihat Troto telah menyelesaikan sarapannya, ia tak sabar lagi menunggu alasan apa yang akan lelaki itu katakan tentang keberadaannya di rumahnya ini.


"Aku hanya membantu dirinya beristirahat. Selama kau tinggal ia selalu datang dan membersihkan rumah ini" ucapnya ringan.


"Kau siapa? Bibi Lomi bekerja untukku!" Hardik tak terima Willow. Sebenarnya ia tak sebegitunya terganggu jika Bibi Lomi libur. Willow tak sadar tatapan Troto mendingin padanya. 


Tapi karena sosok itu yang tidak ada angin, tidak ada badai, tiba-tiba datang dan melakukan sesuatu yang aneh. Seperti saat ini membuat sarapan untuk Willow.


"Kita tidak sedekat itu, seolah kau bisa bertindak sesuka hatimu, kita hanya dua orang asing, kau ta—" ucapan Willow terhenti.


Troto telah membungkam mulut bawel wanitanya itu. Dengan mulutnya. Troto hanya menempelkan bibirnya pada Willow. Tak lama ia mundur. Melihat tak ada penolakan dari Willow. Ia kembali menyatukan kedua bibir mereka. Lelaki itu tak suka dengan ucapan Willow.


Kecupan menjadi *******, semakin lama ******* itu semakin menuntut. Tangan Willow yang awalnya diam, merambat naik, satu tangannya yang lain sudah memeluk leher Troto dan memasukan jemarinya pada rambut lebat keperakan milik Troto.


Troto melenguh, dan memperdalam ciumannya. Troto mengangkat tubuh Willow, membuat wanita yang sedang larut dalam ciuman Troto melompat dalam gendongan Troto.


Willow merasakan kerinduan. Inilah yang ia tunggu selama ini. Penantiannya selama ini pada sosok Troto. Banyak pertanyaan pada otaknya, tapi kehangatan kelembutan yang Troto berikan membuatnya terbuai.


Mata willow berkabut. Ia menarik tubuh besar itu dan kembali melompat pada pelukan Troto dan ******* bibir Troto yang ia sukai. Mereka bergelut panas diatas ranjangnya.


*


*


*


"Kenapa?" Tanya Willow dengan suara serak. Mereka menghabiskan waktu seharian hanya diranjang. Mereka masih berbaring di kasur dengan saling memeluk.


"Kenapa apa?" Willow menjadikan lengan Troto sebagai bantal. Lelaki iti mengelus kepala Willow.


"Kau mendorongku menjauh, dan berpasangan dengan Shera. Kenapa kau kemari?"


"Aku tak boleh pulang kerumah ku?" Ucap lelaki itu. Willow memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Troto.


"Pulang kerumahku?" Tautan alis Willow tampak dalam. Troto mengulurkan tangannya dan mengusap kerutan di dahi Willow.

__ADS_1


"Iya ini rumahku, sayang" ia gemas melihat tampang terkejut Willow, tawa terdengar dari Troto.


"Tidak mungkin!" Pekiknya.


"Ini rumah yang Brxton sewa dulu!" Lanjutnya dengan suara meninggi.


"Benar, dan dia menyewa rumahku" jelas Troto. "Jadi selama ini aku tinggal dirumahmu" Troto mengangguk, ia menarik Willow agar kembali berbaring dan masuk dalam pelukannya lalu mengecup kepala wanitanya. 


Willow menurut. "Lalu hubunganmu dengan Shera?" Kembali Willow memainkan jarinya di tato yang berada dada Troto.


"Aku tak ada hubungan dengannya, aku telah membatalkan pertunanganku" kembali Willow menatap terkejut Troto. Senyuman hal pertama yang ditangkap Williw dari wajah Troto.


Dan Troto mengangkat kepalanya mencuri kecupan di bibir Willow. Lalu kembali tersenyum melihat Willow melebarkan mata. 


"Kau sakit?" Willow mengulurkan tangannya menempelkan pada dahi Troto. Lelaki itu dengan tampang polos hanya menggeleng.


"Jangan-jangan kepalamu terantuk sesuatu saat penyelamatan sang putri kemarin?" Troto kembali menggeleng, Willow tak percaya. Ia mendudukan tubuhnya dan meraih kepala Troto untik memeriksanya.


"Tidak ada yang luka" gumannya.


"Memang" Ia menggenggam tangan Willow dan menyentak ke arahnya. Willow tertarik dan duduk di atas pangkuan Troto.


"Kamu cantik," tangan Troto membelai wajah Willow, tangan satunya meremas pelan pinggang Willow. Tatapan Troto menggelap. Willow mengerti. Dan kembali mereka saling *******. Lembut perlahan berubah menjadi menuntun dan panas. Kembali mereka bergulat.


Setelah bergulat hebat mereka kembali tertidur, Troto terbangun oleh suara perut Willow yang nyaring. Ia menatap wajah tertidur wanitanya. Ia mengelus dengan terkekeh. Ini rasanya pulang.


"Sayang, bangun, ayo aku akan memasakanmu" suara bisikan Troto pada kuping Willow. Lenguhan terganggu keluar dari bibir Willow yang kembali bergelung dalam pelukan hangat Troto.


Ia menarik tangannya, ia akan kekamar mandi. Tapi rengkuhan pelukan Willow pada perutnya tidak bisa dilepas. Wanita itu merengkuh Troto lebih erat.


"Ayo, kau tak lapar memang, huh?" Troto kembali duduk menunggu Willow melepaskannya. Ia mengusap kepala Willow sayang, memperhatikan Willow dengan senyumannya.


Troto yakin ia akan memperjuangkan Willow, tak peduli jika ia tak sebangsa, nyatanya Willow telah menjadi bangsanya.


Jika ia diturunkan dari posisinya menjadi tetuapun tak mengapa. Bahkan Troto siap jika harus meninggalkan Guapo. Ia pun telah memikirkan akan tinggal di pinggiran Phoenix Way bersama Willow.


"Ayo bangun sayang"


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2