
Camy membantu Berus. Ia menghentakkan pendang sosok burung hantu itu. Kekehan yang aneh menggelegar.
"Lama tak bertemu Camy" ucap burung hantu itu dengan pedang ia acungkan pada Camy.
Garis dahi Camy terlihat, alisnya menyatu. Ia menatap Jadex, burung hantu dengan armor. Yang berkelahi dengan Berus.
"Kau mengenalku?" Ucap Camy, Wanita itu datang disaat yang tepat. Berus tak menyangka Jadex yang berkhianat.
Ia sudah curiga adanya pengkhianat di dalam lingkaran Deep Inside. Ia dan yang pasukan khusus milik Phoenix Way.
Awalnya mereka hanya menduga. Namun semua terlihat jelas saat ini, tapi yang membuat Berus tak percaya adalah temuannya.
Jadex. Si bijaksana yang berkhianat. Ia tak menyangka. Kembali pada percakapan Camy.
Bharat dan Simon mengenalkan Camy pada tetua Hark juga para elit khusus. Manusia itu akan membantu pengamanan di Phoenix Way saat penobatan.
"Tentu saja aku mengenalmu, bahkan saat kau masih dikandungan." Jawaban Jadex membuat mata Camy memicing. Ia sama sekali tak pernah mengenal teman bapaknya yang seperti Jadex.
"Tak mungkin, aku tak mengenalmu" ucap Camy. Ia tak ingin tertipu.
"Mungkin kau mengenalku juga para tim DarkHole milikmu itu dengan penampilan ini," Jodoh menghempas tangannya di depan tubuhnya. Dan seketika sosok Jadex berubah menjadi Mr. Ruler.
"Mr. Ruler? Bukankah kau sudah mati? Jangan kau mengaku- ngaku!" Hardik Camy. Ia tak akan kalah dengan manipulasi Jadex.
"Atau kau mengenal sosok ini?"
__ADS_1
"Marky!"
"Iya itu diriku, apa kabar anak Aldy?" Sosok itu berubah menjadi Marky.
"Ternyata sangat nyaman hidup di dunia ini, aku sangat menikmatinya, orangnya ramah, rasanya sangat ingin aku hancurkan dan membangun satu cabang Nokturnal disini"
Camy menyalakan alat komunikasinya dengan Bharat. Dan wanita yangs edang menuju Deep inside itu mendengar ucapan Marky.
"Sinting!" Itu ucapan Bharat. "Sebentar lagi kami sampai Cam"
Bharay menatap Marzon yang menjauh, ia mungkin akan tiba lebih dulu. "Marzon kalau kau sampai lebih dulu, aku nitip satu hantaman untuk si pengkhianat!"
Marzon tanpa menunggu Bharat ia melompat lebih gesit dari pohon satu ke yang lain. Ia hanya mengangguk.
Zrrrtttt
Brak!
Brak!
"Woah siapa ini" dengan nafas tersenggal. Marky menunduk dengan pedangnya. Senyumannya mengerikan. Serangan dadakan membuat bibir Marky robek.
Namun pria itu bisa menghindar dengan cepat pula. Marky selama menjadi bangsa burung hantu merasakan kekuatannya meningkat. Ia tak merakasakan penyakit tua.
Ia tak muda lagi, jelas! Tapi sejak ia masuk dan mendapat klan dari dunia bawah. Ia semakin menyukai tubuh barunya.
__ADS_1
"Lycan?" Dengusan terdengar dari mulut Lycan yang menyerangnya dengan tiba-tiba.
"Lama tak bertemu Marky, kau ingin menjadi lebih mudah, huh!" Sindir Marzon.
"Apa kita saling mengenal, kehormatan sekali bisa mengenal lycan sepertimu" dengusan kencan Marzon terdengar. Lalu ia tertawa.
"Pujian yang memuakkan sekali Marky, kau sama dengan adikku yang sangat mengilai Jabatan"
"Braxton sama dengan kau makhluk serakah!" Ejek Marzon.
"Kau Marzon? Apa yang menyebabkan kau berubah sejelek ini" Marky balik mengejek Marzon.
Lycan itu mengeram. Tanpa peduli ia maju cepat dan menyerang Marky dengan agresif.
Menghantam, menampik pedang Marky, mengarahkan kakinya pada leher Marky. Ia tendang kuat lelaki itu, Marky roboh. Ia terjungkal dengan pedang yang jatuh di depannya.
Senyum terpatri di bibir Marzon. Senyim mengejek. "Sialaan kau!" Maki Marky.
Ia bangkig dan meladeni umpan Marzon. Tak lama Bharat melihat keadaan sengit antara Marzon dan Marky. Ia tak ingin mengganggu perang sengit itu.
Yang pasti ini akan menguntungkan kubu mereka. Berus mendapatkan perawatan dari Camy. Wanita itu menyumpal luka tusukan pada tubuh Berus dengan kain. Untuk sementara.
"Ark!" Teriakan menyakitkan dari Marzon terdengar disambut kekehan kesenangan dari Marky.
"Orso dan lainnya masih berjaga di base lain," ucap Camy pada Bharat.
__ADS_1
"BHARAT BELAKANGMU!"
Tbc.