
Wina menunggu Potka menyelesaikan cucian piringnya.
"Jadi?"
"Bukan hanya dirimu yang ingin menghancurkan penobatan Ratu. Tapi juga manusia lainnya" Potka memulai apa yang Wina ingin ketahui.
"Manusia lain? Marky?" Potka hanya mengangguk.
"Ya pasti, ia menginginkan semuanya," Potka membuka lemari es, dan mengeluarkan semangkok penuh buah-buahan.
Ia mengulurkan mangkok itu pada Wina. Wina mengangkat alisnya. Walau begitu ia menerima mangkok itu. Kembali Potka membuka laci dan mengambil dua buah garpu. Dan dua buah botol bir dingin.
Ia berjalan menuju ruangan dengan tungku api yang telah menyala.
"Apa yang sedang Marky rencanakan?"
"Menghancurkan penobatan dan mengambil Kristal Abadi atau Kristal Meteor"
"Dan kau ikut didalamnya?" Kembali Potka mengangguk.
Ketukan pintu terdengar. Potka dan Wina saling berpandangan. Kemudian perlahan Potka menuju pintu dengan Wina mengintip dari tempatnya.
Potka membuka pintu setelah tahu siapa tamunya. Morana muncul.
"Di luar dingin sekali" Morana melepas mantelnya. Lalu menggantungkan mantelnya itu ke tempat mantel-mantel berada.
"Malam aku tak menganggukan?" Morana masuk dalam dapur. Wina menatap Potka, "Ini rumah Morana, aku menyewanya" jelas Potka.
"Kau baru memberitahunya?" Morana yang mencari makanan dalam lemari es itu.
"Kalian sedang membahas apa? Aku tidak menganggukan?" Morana mengeluarkan sebuah wadah salad.
"Kau memakan tumbuhan?" Wina tak menyangka kucing putih itu bisa memakannya, Wina saja memuntahkan dan menyingkirkan sayur yang Potka beri. Ia memang manusia namun sisi serigalanya menolak keras.
"Yah, harus, pelatihan di militer Phoenix Way membuatmu bisa dan mau kemudian suka, jadi tak masalah" ia memasukkan segarpu besar sayuran pada mulutnya.
"Lagi pula sayur ini baik untuk pencernaan" lanjutnya mengunyah roti kering dalam saladnya.
"Melihat kau membicarakan sayuran, aku jadi ingat seorang teman" Wina mengingat Jo yang sangat suka membuat jus dan tahu manfaat si hijau dengan baik.
__ADS_1
"Aku pasti cocok dengannya jika kami bertemu" Wina hanya mengangguk dengan senyum sendu yang ia sembunyikan.
"Ngomong-ngomong, sudah sejauh mana persiapan manusia itu?" Kucing itu menggigit pearnya.
"Sudah melancarkan aksinya, dengan menyebarkan kemanapun" dengusan terdengar dari Potka.
"Kau mata-mata?" Wina menatap tajam pada Potka. "Benarkah?" Ia tak percaya lelaki di depannya ini seorang penyusup untuk Arctos ke Nokturnal.
"Banyak dari kami melakukan ini, namun dia berbeda. Ia diasingkan dan tetap membela kaumnya" jawab Morana. Potka meninggalkan dapur dan menuju ruang perapian.
Ia menjatuhkan diri pada kursi kayu didekat perapian. Wina dan Morana mengikuti Potka. Mereka menikmati kehangatan diruangan itu.
"Perang besar akan terjadi. Aku dengar Guapo menduduki High Majesty. Dan berani sekali mereka melakukan pemberontakan itu sebelum penobatan Ratu dan Raja."
"Itu sebuah peringatan bagi kami"
"Iya aku sudah mendengarnya. Itu dendam lama. Siapa tetua mereka sekarang? Zalekah? Aku rasa tak mungkin ia mau"
"Benar ia tak mau, tapi ada si adik sepertinya. Raskal" Morana mangkuk buah di meja dan memakan isinya.
"Kau sangat lapar? Mau aku buatkan omelet?" Melihat si kucing putih yang sedari ia datang selalu mengunyah.
"Jadi Wina kau akan berpihak pada siapa?" Ucapan si kucing menjadi serius. Morana tersenyum.
"Semoga kau sudah mendapatkan jawabannya sebelum perang itu terjadi" Morana beranjak ke dapurnya, meninggalkan Wina dengan pikiran yang rumit.
*
*
*
"Aku tak akan kembali, kau bisa membuat makananmu sendirikan?"
"Dan jika kau keluar berhati-hatilah" Potka kemudian melangkah keluar. Wina melihat Potka sudah membuatkannya sarapan.
Ia mendudukkan diri di kursinya.
"Pagi" Morana, ia tak mengenakan armornya. Wina hanya mengangkat alisnya.
__ADS_1
"Dia sudah berangkat?" Wina hanya mengangguk dengan menyesap teh hangatnya.
"Wah pancake dan roti lapis" seruan seseorang dari pintu dapur. Serigala masuk. Siapa dia? Wina langsung mengenali sebangsanya.
"Kau bangun sayang" Wina melirik Morana yang masuk dalam dekapan serigala itu.
"Kenalkan ia Olix, pasanganku, ia datang menjelang pagi setelah shift jaganya" penjelasan Morana tanpa diminta.
"Olix,?" Serigala itu mengulurkan tangannya pada Wina. "Wina" jawab singkatnya. Tanpa mau menyambut tangan Olix.
"Sudahlah ayo kita sarapan" celetuk Morana dari kecanggungan yang ada.
"Kemana Potka? Dia sangat rajin, pasti dapat shift pagi"
Plak!
Morana menampar tangan Olix karena akan mengambil roti lapisnya. Sedangkan ia telah memakan miliknya sendiri.
"Jangan berani kau sentuh milikku!" Garang Morana. Pada pasangannya itu. Olix dengan cepat mengangkat tangannya tanda ia tak akan berani. Mereka berdua lalu terkekeh bersamaan.
"Ehem!" Wina berdeham, untuk membuat pasangan itu menyadari ada dirinya juga disana.
Mereka tersenyum pada Wina. "Kau ada acara kemana setelah ini?" Tanya Morana pada Wina.
"Tak ada, mungkin berkeliling dengan Ritmi"
"Hah kau mengajak Ritmi?!" Mata Morana membola.
"Dasar buku tua, sudah dibilang untuk jaga Needle bees! Mana dia?"
"Ada di kamar" Wina menatap kepergian Morana ke kamarnya.
"RITMI!" suara teriakan Morana terdengar hingga dapur. Wina akan menyusul namun Olix, menghentikannya.
"Sudah jangan ikut campur, mereka akan saling berteriak, dan ini tidak akan berakhir dengan cepat, lebih baik disini" saran Olix.
"ADA APA KAU TERIAK PAGI-PAGI! KAU MERUSAK MIMPIKU!" Ritmi tak kalah nyaring membalas teriakan Morana.
Wina kembali menggigit roti lapis miliknya. Dan menatap Olix yang menghabiskan roti lapis milik Morana.
__ADS_1
Tbc.