
Troto mengamati Willow dari kursinya. Ia menatap tajam kelakuan Luford. Ia masih tak rela Willow mendapatkan misi untuk menggoda bandit macam Luford.
Lelang pun dibuka. Troto memiliki misi untuk memenangkan lelang suatu benda yang milik desa Guapo.
Matanya masih mengarah pada Willow. Juga pada Luford. Ia tidak tidak terlalu memperhatikan apa yang selanjutnya dilelang, setelah ia mendapatkan benda yang dimaksud.
Ia melihat wanitanya beranjak, dan akan mengikutinya. Mata Troto menatap malas pada panggung lelang.
"Para tamu undangan saat yang ditunggu, deretkan semua dibelakang layar!" Ucap Mc lelang. Mereka melelang apapun, manusia, monster, organ langkah dan semuanya.
"Mereka sangat terawat, bernilai, mulus tanpa cela, mereka terbaik diantara yang terbaik!"
Troto sudah beranjak,
"Buka layar!" Kain beludru merah yang terlihat berat itu terhempas jatuh. Sosok itu berdiri dengan kain minim yang bahkan tak bisa menutupi tubuh mereka.
Mereka maju, perlahan dengan dorongan kasar dari para penjaga. Tubuh gemetar ringkih, memiliki nomor yang tertempel pada tubuh mereka. Tangan dan kaki mereka dirantai.
Gemuruh para peserta lelang riuh rendah. Troto melirik ke arah panggung, mereka bahkan melelang manusia.
Tubuh Troto terpaku, matanya melebar, tatapannya lurus nanar ke satu arah.
"Popi" bisiknya,
"Lelang dibuka! Silahkan maju nomor 3!" Wanita manusia maju, rambut hitam sebahu berjalan maju perlahan karena ancaman benda tajam di punggungnya.
"Silakah akan saya buka dengan angka 500 koin emas!"
***
Willow berhasil memberi jarak antara dirinya atas kejaran Luford. Ia menunggu Troto. Seperti rencana mereka akan keluar pelelangan setelah mendapatkan benda desa Guapo.
Tapi Willow belum juga melihat kedatangan Troto. Ia sudah menanggalkan gaun emasnya dan membakarnya dalam sekali lepas.
Willow mengawasi cctv. Ia melihat pergerakan Luford. Ia tak bisa lagi untuk menunggu Troto. Willow menyelinap keluar. Ia dengan gaun berwarna hitam juga topeng hitam.
Ia menyampirkan rambutnya ke samping. Dan mulai memasuki ruang kasino. Ia telah mencari pintu lain, ada di dalam sebuah dapur kasino. Ia harus melewati kasino.
Willow jalan dengan tenang. Matanya meliar melihat para bawahan Luford yang sedang kelimpungan mencarinya. Sampai tatapannya menangkap satu bawahan Luford yang selalu didekat Luford menyeringai menatapnya. Dengan cepat Willow membuang tatapannya kearah lain.
"Siaal!"
Willow mengumpat. Ia terlalu cepat memutuskan pandangannya. Ia menatap kembali, dan terus menatap bawahan Luford yang berbicara pada earpiecenya.
Willow melipir cepat masuk kedalam dapur kasino. "Disana!" Siaal! Umpat Willow dalam hati.
Dor! Dor!
Trank! Trank!
Dor! Dor!
Trank!
Hujanan pelur menghiasi dapur. Teriakkan juga jeritan menghiasi dapur kasino, para koki dan pelayan berhamburan kabur keluar dari dapur, ada juga yang menunduk.
"Kejar!"
__ADS_1
"Cepat dapatkan!"
Willow bersembunyi di samping kulkas. Ia mengambil balerina yang ada di pahanya. Ia mengokang, dan menembaki bertubi anak buah Luford.
Willow masuk lebih dalam, lorong ruang pipa air. Ia menembaki siapa pun yang menghalanginya. Willow berlari menghindari. Di antara pipa-pipa.
Tembakan menyasar pada pipa. Pipa yang tertembak menyembur air. Melihat itu. Dengan cepat Willow menembaki pipa-pipa di dekat anak buah Luford.
Untuk menghambat mereka mengejar Willow. Wanita itu menyobek bawah pakaiannya yang menjuntai mengganggu. Ia kembali meraih senjata yang lain.
Anak buah Luford yang menyeringai padanya ternyata tidak begitu saja menyerah lelaki itu mengejar Willow.
Peluru terus berhujanan. Willow kehabisan peluru, ia akan mengganti dengan peluru baru tapi anak buah Luford berada disampingnya. Ia menyerang Willow dengan tinjuan.
"ARK!"
BRAK!
Willow yang basah dengan nafas memburu itu, lengah. Tubuhnya terkena serangan dan terpental pada pipa-pipa. Ballerina terjatuh. Ia meluncur menjauh dari Willow.
"Wanita cantik! Kau akan aku seret pada bos ku" ucap lelaki dengan rambut rapi ala prajurit itu.
Willow menatap nyalang pada lelaki itu. Willow mendengus meremehkan. "Coba saja kalau bisa! Seret aku pada bos bodohmu itu" si rambut cepak itu kembali menyerang Willow tapi dengan gerakan gesit.
Sicepak kembali menyerang dan mengenaik wajah Willow. Wanita itu mundur beberapa langkah dengan menunduk. Ia mendongak melihat Si cepak menyeringai.
Willow menghapus darah pada sudut bibirnya. Ia meludahkan darahnya ke lantai. Tatapan nyalang ia lempar pada lelaki itu.
Willow dengan ringan mengayunkan kakinya. Tendangan yang akan menuju perut si cepak bisa lelaki itu tepis. Dengan seringaiannya ia menatap Willow yang juga menyeringai. lelaki itu menangkap umpan Willow.
Willow mengayunkan lagi satu kakinya pada leher lelaki itu ia bertumpu pada kekuatan tangan si cepak yang menggenggam kakinya
Willow memutar tubuhnya untuk menaiki leher si cepak dan menjepit leher lelaki itu dengan pahanya. Dengan gerakan cepat ia menempelkan pistol kecilnya pada kepala si cepak.
"Dor! Kau kena!" Ucapnya sebelum si cepak memberontak lebih gila, dan peluru sudah menembus kepala si cepak dengan cepat. Otak dan darah lelaki itu berhamburan.
Si cepak meluruh, jatuh kedepan. Willow yang berada di leher lelaki itu, Mendarat mulus ke lantai. Ia memutar tubuhnya, melihat si cepak yang tak lagi bernyawa.
Ia mengambil alat komunikasi si cepak dan memasangkannya pada telingannya. Ia menekan alat komunikasi itu.
"Sangat payah! Kau mengerahkan anak buahmu tapi tak ada satupun yang bisa menangkapku!"
"JA L4NG SIALAAN! DIMANA KAU!"
"Ah, ini tak menarik, jika aku memberitahumu, Tuan Luford!" Willow berada di pintu keluarnya.
"Agak membosankan, untuk hari ini, sampai disini! Kau sungguh payah ternyata." Willow berada di motonya. Ia bisa mendengar makian dari Luford, Ia membuang earpiece milik si cepak dan menginjaknya hingga hancur.
Willow menaiki motonya sebelum anak buah Luford berdatangan. Willow kembali ke markas Giant pipe.
***
Ia sudah berada di kantin Giant Pipe. Tak ada lagi yang berani menantangnya. Walau kasak kusuk masih terdengar jelas. Ia bisa melihat Shelbi juga Lime, Willow menghampiri mereka.
"Will, kau tampak … berantakan." Ucap Shelbi melihat wajah Willow yang bengkak dan kebiruan.
"Anak buah si bedeb4h pasti!" Sahut Lime. Ia menyendokkan sup hangatnya.
__ADS_1
"Yah, sudah ku tembak kepalanya!" Willow menyantap makanannya meski perih ia harus makan.
"Ternyata ia tak tertarik pada Lime? Aku kira ia pasti denganmu Lime, dari yang aku dengar ia tak suka wanita tipe penggoda"
"Jika si bedeb4h itu memilihku, sudah aku habisi lebih cepat!" Ucap Lime, wanita barbie itu memang bermulut tajam.
"Benar ia tak suka denganku, aku mengirimkan surat kaleng, ia bahkan mengancam akan memotong tubuh menjijikanku dan memberikan pada monsternya"
Entah mengapa Willow merasa nyaman bersama mereka. Ia ingin mengobrol. Ia sejak semalam tak melihat Troto, pun saat ini dikantin ia tak menemukan kekasihnya itu.
"Pantas saja ia tak menghiraukan Lime."
"Aku dengar kau bersama tetua kemarin, Will? Ia tak menjagamu dengan baik? Sampai wajahmu jadi korbannya"
"Aku tak kembali bersamanya," Willow kembali menyesap sup hangatnya.
"Lalu bagaimana dengan kau?" Shelbi terdiam untuk sesaat.
"Agak susah, tapi aku akan melakukan yang kau lakukan Will, menembaknya mati." Shelbi dengan muram.
"Jangan terlalu terbawa perasaan dengan musuh" Lime memperingati Shelbi. Wanita itu menghela nafas panjang.
"Bagaimana jika aku jatuh cinta?" Shelbi sudah mendapatkan jawaban dari tatapan kedua rekannya. Ia akan tamat.
Shelbi menelungkup. Saat bersamaan Sonya dan Shera melewatinya.
"Kasihan doa akan dicampakan seperti dirimu." Tawa terdengar dari Sonya dengan wajah yang masih terlihat bekas keberingasan Willow.
Mereka duduk tak jauh dari Willow. "Aku dengar kemarin kau ada misi dengan Tetua?" Willow hanya menatap Sonya malas.
"Hei kau sudah merasa di atas angin huh!" Sonya terus saja mengoceh.
"Jangan terlalu sombong! Merebut ya pasti akan direbut!" Tawa tergelak membuat semua mata tertuju pada Sonya.
"Kau tahu kemana kekasihmu itu?" Willow masih tidak menghiraukan ucapan Sonya.
"Dia sedang berada dirumahnya, dengan seorang wanita, cinta pertamanya, dan kau akan senasib atau bahkan lebih buruk dari Shera. Dicampakan begitu saja" Sonya terlihat sangat bahagia.
"Kau jika tak ingin kembali hancur wajahmu itu, lebih baik diam!" Shelbi menghadrik Sonya.
"Ah, kau punya teman sekarang! Bilang pada temanmu itu untuk menyiapkan diri ia akan ditendang dari sini!"
Sonya menunjuk bahu Shelbi. Ia merasa kedudukannya lebih tinggi dari Shelbi. Ia tak takut dengan teman-teman Willow yang dianggapnya rendahan.
"Kau membicarakan dirimu heh! Tanpa jabatan dari orang tua, kau tak akan bisa masuk ke Giant Pipe!" Ucap Lime.
Sonya tak bisa membantah Lime, jabatan orang tua Lime lebih tinggi dari jabatan orang tuanya.
Ia bukannya Sonya yang ingin sekali masuk Gian pipe, Lime masuk dengan cara rekomendasi, mirip Willow, mereka masuk dengan kemampuan mereka.
Dan Shelbi pun sama. Namun ia masuk lewat jalur pendaftaran dan Jonny dengan nilai teratas.
"Apa bedanya denganmu?" Sonya menantang Lime. Lime beranjak dari tempatnya.
"Keributan apa ini!" Suara menggelegar terdengar dari pintu kantin.
Tbc.
__ADS_1