
Lima tahun aku cinta mati padanya.
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Menuruti apapun yang dilarangnya. Menjadi terbaik, agar tak mengecewakannya.
Mengubah apapun yang tak disukainya dariku. Ya aku sebodoh itu. Memaafkan segala kesalahannya. Selalu berada disampingnya, Hingga nanti aku lepaskan.
Kenalkan aku Willow Mendes. Dan pacarku, kami tinggal serumah, Daniel Greyson.
"Apa yang kau gunakan itu?" Pekiknya, kami akan menonton, aku menggunakan rok sedengkul dengan keds, dan sweater berleher sabrina dengan sedikit lip balm juga blush on, Biasa saja. Daniel tak suka.
Daniel melemparkan celana jeans hitam juga hoodie padaku, aku memerimannya. Aku menganti pakaianku. "Hapus riasan tebalmu itu, aku tak suka!"
"Ayo jangan lambat" lagi ia berkata cukup keras padaku. Aku mengikutinya.
Kata temanku Daniel terlalu mengekangku juga terlalu posesif padaku. Mendengar itu aku malah merasa senang. Hingga tak sadar pada sekitarku lagi.
Daniel adalah poros duniaku. Aku tak peduli bagaimana sekelilingku berjalan.
"Kau mudah di bodohi Wanita kampung" Brenda, menegak kopinya, setelah memperlihatkan fotonya bersama Danie juga keluarga Daniel berlibur bersama.
Aku mengenakan kemeja katun putih yang aku kancing rapi hingga leher, itu aturan Daniel jika ingin keluar apartemen kami, juga dengan kulot hitam panjang.
Ya dia selalu menyuruhku mengenakan pakaian yang tertutup. Jika diluar. Sedangkan apa yang digunakan Brenda sangat bertolak belakang denganku.
Perih rasanya.
"Kamu pernah dikenalkan pada ibu, juga keluarganya? Pasti tidak kan, kasihan sekali." Asap mengepul. Brenda menghisap rokoknya berkali.
"Bahkan ia tak mengakuimu, Saat kau ulang tahun minggu lalu kau pikir kemana Daniel? Ia bersamaku setelah acara ulang tahun perusahaannya"
Brenda menghembuskan asap rokoknya yang tebal membumbung tinggi.
"Pela cur!" Geram ku, ku remas lembaran foto itu.
Tawa Brenda mengelak "Kau kalah dengan pela cur ini sayangnya"
Air mataku deras meluncur. Selama ini aku terlalu mempercayainya. Dering ponsel Brenda mengalihkan perhatianku.
"Iya Daniel" Aku menatapnya tajam. Ia meletakkan ponselnya dimeja. Suara pacarku terdengar.
"Hai sayang kamu dimana?" Suara lembut Daniel. Nafasku tercekat. Aku mengenali suara itu. "Ketemu?" Brenda menaikan bibirnya kemenangan mutlak ada ditangannya.
"Nggak ah kan tadi malam sudah" Tatapannya menatapku yang hancur didepannya sangat menyenangkan mungkin baginya, Brenda berada diatas angin.
Aku tahu. Tapi air mata sialan ini tak bisa kuhentikan. Semalam pacarku itu, Marah padaku karena ceroboh, aku lupa mematikan kompor sampai pastanya hangus.
Daniel mendiamkanku dan pergi begitu saja, kembali saat tengah malam. Aku menungguinya di sofa ruang tamu, saat bangun sudah pagi dan melihatnya masih tertidur di ranjang.
"Mau quickie? Kalau gitu jemput aku"
"Okay sayang kamu"
DEG!
SUDAH CUKUP! Aku menghapus air mataku.
"Kalau kau ingin bukti nyata, kau bisa ikuti kami" aku hanya meliriknya saat kudengar perkataan itu, ku ambil tasku, meletakan beberapa lembar uang dengan kasar. Aku beranjak menuju parkiran.
Daniel memang posesif tapi aku tak memungkiri bahwa dia seorang mata keranjang. Sudah sering aku memergokinya sedang menggoda wanita lain. Ia selalu meminta maaf tetapi juga marah padaku. kadang memukulku.
Apa yang aku lakukan? Aku memaafkannya. Tapi tidak melupakannya. Dan melihat sekarang Daniel keluar dari mobilnya bergegas masuk ke kafe itu kemudian menarik tergesah Brenda. Membuat diriku seperti disiram air es.
Aku melihatnya memepet Brenda ke pintu mobil dan ******* bibir wanita itu. Sakit. Perih. Tangisanku yang terdengar sangat pilu ditelingaku sendiri.
Kenapa Daniel? Apa kurangku? Aku selalu menjadi yang terbaik untukmu. Selalu mematuhimu, kemudian aku mendongak, mataku menatap tajam kearah mereka yang masih saling ******* menjijikan.
Daniel mendorong Brenda kedalam mobil, berjalan ke kursi kemudi dan mobil itu meluncur kencang. Aku mengikutinya.
Hingga tiba dipelataran hotel bintang 5. Daniel dengan langkah lebarnya menuju lantai atas dengan Brenda di pelukannya.
Aku mengenakan topiku. Daniel tak menyadari aku dibelakngnya, karena sedang asik merasai bibir si Ja lang.
Tanganku terkepal, memutih. Mengikuti dibelakang mereka.
Aku berada didepan pintu kamar yang Daniel dan Brenda masuki. Aku membukannya kencang. Gebrakan menghentikan aktifitas mereka.
"Daniel?" Air mataku mengalir deras.
"Dengan pela cur mana lagi sekarang Daniel" Teriakku mengisi kesunyian kamar, Daniel terkejut.
"Sayang.. ini ...ini tak seperti yang kau lihat" Daniel bergegas berdiri, ia mengambil kemejanya,
"Sudahlah Daniel akui saja, hubungan kita padanya" Brenda menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sebagian telan jang.
"Aku mohon Sayang, aku tak ada apa-apa dengan dia,"
Aku hanya melihatnya dengan kecewa. Daniel mengusap wajahnya.
"Maaf aku khilaf" pasti menurutnya aku akan dengan gampang memaafkannya. Pasti ia akan mendekat padaku. Dan memelas.
"Sayang maaf" ia mendekat. Aku menepis tangannya.
"Daniel" panggilku dingin.
"Kamu ingat perjanjian terakhir kita" Daniel mengangguk ragu. Tubuhnya kaku ditempat tak lagi mendekat padaku.
Aku mengusap pelan air mataku, aaahh... sandiwara ini sangat memuakkan. Aku menuju sofa. Meyilangkan kakiku.
Membuka tas mungilku. Dan mengeluarkan surat perjanjianku dan Daniel.
"Kamu harus menikahiku hari ini juga" meletakkan kertas perjanjian di meja sebelahku.
"APA?" Pekikan Brenda terdengar dari ranjangnya.
"Apa maksud wanita tak berguna ini Daniel?" Brenda mendekat dengan selimut masih menutupi tubuhnya yang menjijikan itu.
"Tenang Brenda, ia akan menceraikan aku segera, Kau tenang saja" Kataku. Aku tersenyum padanya. Hilang sudah rasa sedih melihat sang pacar selingkuh.
"Jelaskan padaku Daniel, apa maksud wanita kampung ini?" Geram Brenda.
"Pengacaraku berkata aku bisa menalakmu setelah 3 hari menikah"
"Dan jangan lupa kompensasi perceraian kita" Aku menepuk pundaknya, Aku meninggalkan mereka, Daniel terduduk lemas dengan mengacak rambutnya.
Aku memberikan lembaran surat itu pada Brenda.
"Baca dan pahami" aku menunjukkan senyuman manisku padanya.
Dahi Brenda mengerut. Sesaat membaca surat itu,
"Daniel katakan ini tak benar? Bagaimana bisa wanita kampung itu menguasai semua asetmu dan keluargamu" Masih kudengar jeritan kemarahan Brenda. Kau bahkan tak mendapatkan ampasnya, seringaiku, berjalan keluar hotel.
"Aku akan ke lab" putusku diponsel.
Aku bertahan hanya untuk saat melepasnya nanti aku tak sakit, aku akan selalu memaafkan segala kesalahannya, aku akan selalu disampingnya dan aku merasa cukup muak. Ini saatnya pergi
Aku sepertinya lupa, kalau dulu aku sosok pembangkang.
Iya dia dengan tak sadar membangunkannya.
Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku.
*
*
*
Aku mematut diriku di cermin sekali lagi, aku sudah tak tinggal dengan Daniel. Lucunya kami telah menjadi suami istri padahal.
Aku tinggal di apartemenku sendiri. Sebelum aku bertemu dengan Daniel. Aku menyewakannya empat tahun lalu dan kosong setahun belakangan.
__ADS_1
Aku menggunakan rok ketat sepaha, dengan lengan panjang transparan. Rambut kuceplon dengan bandana menghiasinya, aku bebas sekarang menggunakan apapun.
Telponku berdering.
"Hal..."
"Aku dibawah"
Sekali lagi memoles lipstik pada bibirku ini.
"Kau mau membawaku kemana Daniel?" Kataku malas. Tanpa basa basi aku duduk di jok belakang.
"Kalian akan bercerai hari ini" suara melengking perempuan menjawab pertayaanku. Ya Brenda ada bersama kami.
"Lihatlah dia sayang jadi makin seperti ja lang. Tak bersamamu dia semakin liar" dengusan meremehkan, Brenda memperlihatkan keintimannya bersama Daniel. Memuakkan.
"Kekantor pengacaramu, kita bercerai hari ini" Oh dia memilih wanita ini ternyata ketimbang melanjutkan pernikahan ini. Aku memutar malas bola mataku.
"Selesai! pernikahan kalian berakhir. Sah, Aset Bapak Daniel telah berpindah nama. Aturan yang telah kalian sepakati," Aku menyalami tangan Pak Slamet. Pengcara keluargaku.
"Jika terjadi sesuatu dalam tiga hari setelah kesepakatan di sepakati dengan pihak pertama, maka akan ada pembatalan, ini maksutnya apa pak Slamet?"
"Ya jaga diri anda, Nyonya"
Sial! Aku kecolongan. menatap tajam pada kedua orang didepanku. Pantas saja, mereka bersiap membunuhku, Ayo kita bermain. aku tersenyum.
"Apa apaan ini, kenapa perusahaanku juga menjadi namamu," lengkingan itu lagi, aku menutup kupingku yang sakit. Brenda murka.
"Karena perusahaan anda mendapat kucuran dari perusahaan utama Dan'sCrop."
Daniel mengambil lembaran yang telah ia tanda tangani itu dengan kemarahan.
"Dasar wanita licik" Hina Daniel padaku.
"Harusnya kau lebih teliti bapak Daniel, aku beri waktu 3 hari, keluarlah kau dan juga keluargamu, dari milikku" Tegasku.
"Tak apa sayang kalian tinggalah dirumahku," aku mendengus mendengar suara genit menjijikan itu.
"Rumah dan seluruh aset anda adalah milik Nyonya Willow, nona" Pak Slamet menjelaskan.
"Keluarlah kalian dari milikku, aku kasih waktu 3 hari. Jika tidak aku yang akan membuang seluruh barang kalian."
"Terima kasih Pak" aku menyalami pak Slamet. Kemudian keluar. Tak mengindahkan kemurkaan kedua orang dibelakangku.
*
*
*
"Harusnya aku membawa mobilku" gerutuku. Melihat mobil Daniel melaju kencang bersama wanitannya.
Ternyata menyiapkan diri agar lepas dari Daniel, segampang ini. Aku kira move on akan memakanku hidup-hidup.
Aku berjalan ke arah halte. Menunggu bis, aku sering menaikinya, ini caraku menghibur diri, berkeliling kota hingga malam.
Ini kulakukan saat Daniel keluar kota. Entah benar keluar kota atau ke pelukan wanita-wanita lain. Sudah bukan urusanku lagi.
Ini masih sore tapi sangat dingin. Kurapatkan mantelku, harusnyaku membawa syal tebal. Huh! Dinginnya.
TIN!
Suara klakson menghentikan langkahku. Alisku mengkerut. Daniel.
"Ayo naik aku antar" Datar. Tapi aku naik juga ke mobilnya.
"Mana wanita itu?" Daniel tak menjawabnya,
Aku melihat jalan bukan kearah rumahku. "Mau kemana?" Aku memandangnya.
Tak ada debaran lagi. Saat melihatnya. "Sebentar ikut aku temui klien" lagi-lagi aku dahiku mengkerut.
"Sebentar saja" Aku mengiyakan. Di perjalanan mobil kami dihadang oleh mobil van, keluar beberapa orang dengan pakaian serba hitam.
"Keluar! Cepat" Teriak dari sisi Daniel.
"Siapa mereka Daniel?"
"Aku... aku juga tak tahu, bentar kau disini dulu, aku akan mengurusnya" aku mengangguk.
Beberapa saat aku melihat Daniel yang dipukuli. Aku melihat, tak ada kunci mobil, Daniel membawanya, Ck! Menyusahkan.
Aku berakting ketakutan, secepat ini kau ingin melenyapkanku Daniel, Saat dengan paksa, seorang membuka pintuku, secepat membekuk tengkukku dan semua gelap.
*
*
*
BYUR!
Bruk!
"Bangun kau wanita!"
Dingin!
Kubuka mataku, air dingin menetes pada rambutku yang basah, juga seluruh tubuhku.
Memandang kedepan, kulihat algojo berdiri. "Selamat pagi kalian berdua, nyenyak tidurnya" aku melihat kesampingku, Daniel yang babak belur juga melirikku.
Si algojo menarik daguku, "Kau cantik juga"
Aku menyentak tangannya, malas juga marah, seenaknya saja dia menyentuhku. Ku amati sekelilingku.
"Wah galak, menantang" menjijikan.
Si algojo meninggalkan kami.
Gretek... grak..grak...
"Hmmm..nhhhmn" aku menaikkan alisku, apa yang dia lakukan. Daniel berusaha membebaskan dirinya.
Aku mengirim pesan pada Lab.
"Kau diculik?" Tanya Amber.
(Iya, tolong aktifkan Nafigasiku)
"Aku akan suruh Nemon saja"
(Okey)
Daniel masih terus membebaskan diri, membuang tenaga saja.
Si algojo datang lagi. Melihat Daniel berusaha melepaskan diri. Ia mendekat dan memukul Daniel.
Bah! Pasti sakit terkena knuckle besi si algojo.
Lalu algojo menyeretnya keluar. Mau dibawa kemana? Meninggalkanku sendiri huh!
"Saya datang madam" suara Nemon mengintruksiku.
(Kau datang dengan Peri peri)
"Iya madam"
(Suruh kesini bantu aku melepaskan ini)
"Siap Madam"
__ADS_1
Tak lama robot capung hinggap di pahaku.
(Peri peri lepaskan ikatanku)
Si capung terbang ke kakiku dan memotong ikatan kakiku, dan memotong ikatan tanganku.
Aku merentangkan tanganku keatas, Hah.. nyamannya.
(Peri peri antar aku ke Nemon)
"Waktu anda hanya setengah menit Madam"
(Ya terima kasih Nemon, itu sangat cukup)
(Ayo peri peri)
Aku beranjak, dengan laser dikukuku aku merusak pintu itu.
Aku berlari mengikuti peri-peri,
"Madam ada 5 orang musuh didepan anda" Nemon memperingatiku.
(Oke)
Aku menyiapkan diri. Aku tidak selemah itu. Kalau aku lemah, Drakhole tak akan merekrutku.
Kusiapkan senjata imutku.
"Hai" Kusapa mereka sebelum mereka menembakku aku telah menembaki kepala mereka.
Ck! Terlalu cepat! Makiku.
Kulewati mereka, Daniel? nanti saja lah,
Aku sudah berada dalam Nemon. Mobil super canggih. Ia seperti Pedro. Memiliki kemampuan yang luar biasa.
"Perlihatkan padaku kamera cctv mereka"
"Telusuri tempat ini Nemon, cari Daniel, aku diculik bersamannya"
"Pantas saja kau tak melawan" Wina yang kini menimpalinya.
"Ya terlalu merepotkan jika ia tahu" kekehku.
"Baik Madam"
"Apa kalau aku bilang, Daniel dan wanita itu dibalik penculikanmu, apa kau akan bilang merepotkan?" Amber menghentikan jariku yang sedari tadi menari di atas keybordku.
"Tak usah kau beri tahu dia, Amber, Willy pasti sudah menyadarinya, ia terlalu mengenal selicik apa pria bucinannya itu" Camy bersuara disebrang sana.
Orang yang menemukan aku saat Daniel memaki dan memukuliku dipinggir jalan sepi.
Aku tersenyum miring. "Kenapa kalau kau tahu, tak kau lawan" Tumben si putri es ini penasaran.
"Ah aku tahu kau ingin melenyapkannya perlahan kan Willy, kau memang menakutkan" Wina bergidik, padahal aku dengannya sama. Ada ada saja mereka ini.
"Ah kalian merusak kesenanganku" aku menyandar pada kursi Nemon.
Tawa terdengar dari seberang sambungan. Daniel merasa aku yang ia ikat padahal aku yang memperdayanya sejak dulu, ini yang dibilang Wina aku menakutkan.
Aku menikmati keposesifan Daniel. Tapi aku mulai bosan. Aku ingin mencari lebih.
Pemukulan dipinggir jalan itu pun Camy yang memperingatkanku, setelah Daniel pergi. Untuk keselamatan Daniel.
"Hei kau, apa yang kau lakukan!" Camy menahan tangan Daniel. Yang akan memukulku. Aku meliriknya kesal. Camy melirikku, ah ia tahu.
"Urusi urusanmu sendiri nona" Daniel berdecih,
"Ayo cepat" kemudian pergi lebih dulu.
Camy tahu, aku suka kekerasan.
"Mau bergabung denganku" aku meliriknya tak bersahabat, siapa dia, merusak kesenanganku.
"Aku akan menyediakan apa yang kau ingin kan" Ucapnya santai.
"Tahu apa kau" aku tak harus menutupi kekesalanku.
"Ayolah Willow Mendes, anak Mafia dengan kelainan masokis akut" aku mengeram dia tahu terlalu banyak.
"Aku setuju, apa tawaranmu?" Senyuman Camy mengatakan 'kau tak akan menyesal'
Ingatan pertemuanku dengan Camy pertama kali, Kembali aku menonton cctv,
Daniel yang memolosi ikatan didepan algojo, menepuk pelan bahu algojo, algojo memberikan jasnya, lalu meunduk hormat.
Senyuman jumawa terukir dibibir Daniel. Bersenanglah sekarang bed3bah. Kau dan mereka akan dapat hadiah manis dariku.
*
*
*
DOR
DOR
DOR
"I was nineteen in a white dress when you told me I'm your princess"
Nyanyianku nyaring diantara derai ketakutan juga tangisan.
DOR
Satu korban, peluruku menembus matanya. teriakkan semakin nyaring.
DOR
"So I played right in to your fantasy"
Kutembak lengan kirinya Daniel.
DOR
"WAS YOUR GOOD GIRL"
"ARGH" Kutembak paha kirinya.
DOR
Sudut bibirku naik tanpa kusadari. Seringaian muncul. Melihat matanya yang membola tak percaya, menyiksa keluarganya dengan pedih, kemudian membantai semuanya didepan matanya.
Ah a good night, aku mengangkat gelas wine ku. Hellaaa untuk ku.
"Da da da da da da..."
Sambil mengelengkan kepalaku mengikuti irama juga gelas Wine ku.
"I FORGOT I WAS A BAD *****... TRAGIC"
"BREAKING ALL THE RULES COUSE THEY WERE ONLY HABITS"
"CINDERELLA'S DEAD NOW, CASKET"
SREET...
Aku mendekat pada Daniel yang bersimpuh bergetar, lidahnya hilang.
"YOU... THOUGHT THE SHOE... FIT BUT I..."
__ADS_1
aku tergelak kencang didepan wajah semrawut Daniel. aku berjongkok, mendekat pada telinganya.
"You don't know I was a bad *****... Beb" bisikku.