DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Terbukanya Hide Dome


__ADS_3

"Cam kau sudah datang" Setelah mereka dapat menyelamatkan Riby, Camy memerintahkan mereka bertemu di Hide Dome.


Mereka berhasil memperbaiki sistem untuk masuk ke dalam Hide Dome sesungguhnya.


Camy dan Jenny turun sedangkan Leon dan Riby berada diatas scooter Pedro yang akan membantu mereka membawa kedua orang itu.


"Aku telah mencoba dan ya kita berhasil Cam" Elle memeluk Camy entah ada rasa haru juga sedih mengingat tempat mereka kehilangan orang tua mereka.


Elle juga Amber dan Alex telah memasuki Hide Dome. Masih seperti dahulu tanpa adanya pertumbuhan, namun kosong. Entah apa yang terjadi. Mereka bertiga berfikir akan menemui kerangka-kerangka manusia namun nihil.


Bersih, hanya seperti kota mati, kota yang ditinggalkan penghuninya namun tetap sama, tak ada rumah reyot ataupun ilalang yang akan menghutan dan rumah yang ditumbuhi ilalang pun tak nampak.


Hanya ada debu. Itu saja.


Camy dan Jenny berjalan kearah portal dimensi Hide Dome. Ia berada di pintunya. Dada Camy berdebar kencang. Ia sering melihat keadaan Hide Dome dalam mimpinya namun ini, nyata, Camy melangkahlan kaki. Dan masuk dalam portal berwarna biru keunguan.


Camy telah berada didalam Hide Dome sesungguhnya. Yang ia lihat lapangan, lurus ada taman dimana ia melihat ayahnya yang bersimpuh dengan ibu dipangkuannya.


Camy berjalan perlahan. Menghirup udara yang sangat familiar. Sungguh rasa rindu menjalar dalam hatinya. Kenangan kembali menyeruak. Melihat tumbuhan sekitar juga bangunan-bangunan bahkan meja piknik menyembur kenangan.


Berkelebat gambar-gambar membuatnya sedikit limbung. Camy perlu duduk. Ia berjongkok. Elle dan yang lain segera mendekat pada Camy, cemas.


"Cam? Sakit kepalamu? Atau kita keluar saja?" Panik Alex.


Camy hanya menggeleng. "Tidak, hanya  sedikit ingin duduk, gambar dalam otakku sedari tadi tak berhenti berkelebatan"


"Kami menemukan penjara di salah satu raumah disini. Saat kemarin kami observasi" Amber menjelaskan.


"Dan telah aku hubungkan dengan sistem pusat DarkHole jadi bisa kau bawa pria itu kesana" Camy melirik Leon yang masih tak sadarkan diri. Sengaja mereka buat dia tertidur lebih lama. Mereka tahu ini adalah jebakan Black Sea.


Riby dengan senang hati menjadi umpan, "Dia biar aku saja yang mengurus" Riby sudah kembali sehat, obat yang Druw buat memang sangat ampuh.


"Di penjara itu ada meja oprasi bila kai ingin tahu," Elle mengangkat alisnya.


"Aku ingin memberinya syok terapi, beraninya memanfaatkan kebaikkanku, jika ia kemarin tak mengajakku ketempat-tempat yang menyenangkan bisa langsung aku penggal kepalanya, lalu kusatukan dengan kaktus milik Jo" Ya Riby telah sembuh, kesadisannya, membuktikan.


"Ayo ikuti aku" Alex mengarahkan pada tujuan Riby.


Camy berkeliling, menyusun berbagai gambar yang berkelebatan dalam otaknya, merangkai menjadi ingatan rasa nyeri masih terasa walau tak sesakit kemarin.


Camy melangkah kesebuah rumah dengan pagar putih dengan banyak tanaman hias. Ia memasuki pintu juga bercat putih itu. Ia bisa melihat kelebatan gadis kecil berlarian dengan rok putih. Bermain dan bercanda dengan ibu juga ayahnya, terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Camy melangkah kearah ruang tamu mengikuti Camy kecil berlari. Lalu Camy kecil memanggil ibunya, ibunya menanggapi dengan teriakan juga, Camy mendongak ia melihat lurus kedepan ada ruang keluarga yang menjadi satu dengan dapur juga ruang makan.


Camy kecil beelari menghampiri sang ibu, lalu memeluk kaki ibunya yang sedang memasak. Camy melihat dari sudut. Kenangan itu bagai film hologram.


Sang ayah yang turun dari lantai dua, menuju meja makan. Camy kecil sudah duduk dengan manis, tangannya menggenggam paha ayam dan memakan dengan senang. Ayahnya mengusap lembut kepalanya. Camy nerjalan mendekat ke arah meja makan, ia menarik kursinya.


Lalu keluarganya berkumpul pada sofa didepan televisi menghabiskan waktu menonton kartun kegemaran Camy, satu baskom besar popcorn menemani mereka bertiga.


"Cam" panggilan itu membiyarkan bayangan hologram yang ia lihat. "Ya Elle?"


"Sebaiknya kau beristirahat, Druw sedari tadi menghubungi dan meminta kita mengingatkanmu"


"Aku juga sudah membuatkan kalian sup hangat, cepat kembali" Elle meninggalkan Camy.


Camy beranjak dan menyusul Elle. Kupingnya panas pasti Druw sedang mengomel tentang dirinya pada yang lain.


*


*


*


Riby menunggu Leon sadar. Ia sudah duduk disampingnya. Geraman terdengar dari wajah singa itu. "Pagi" Sapa Riby dengan senyum manis.


Dengan gelisah Leon mengamati sekitarnya. Berada dimana dirinya? DarkHole kah?  Ia melihat Riby yangs edari tadi diam mengamati. Matanya menatap tajam pada Leon. Leon melihat sudut bibir Riby yang tertarik keatas.


Ada apa ini sebenarnya. Kenapa ia bisa disini?


"Leon bagaimana rasa ranjang barumu ini?"


Leon hanya diam ia sedang menyerna keadaannya. Otaknya masih beradaptasi. "Kau tahu Leon, aku sangat tertarik bergabung pada pembedahan yang ku lihat di Nokturnal pertama kali kita bertemu."


"Aku ingin sekali memggabungkan makhluk hidup tumbuhan dam hewan bagaimana jadinya" cerocos panjang lebar Riby.


"Mungkin ini kesempatan ku," Riby meletakkan beberapa pot dengan tumbuhan didalamnya.


"Kau bisa memilihnya salah satu," keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia telah melihat saat riby sedang melawan musuhnya dengan perlahan namun pasti membuat lawannya ambruk.


Leon bergidik ngeri saat Riby membuka dompet yamg ternyata kain berisi banyak senjata tajam. Leon melirik, jantungnya memompa kencang. Apa yanh akan Riby lakukan padannya. Apa Riby tahu keterlibatannya dengan Black Sea, kalau iya berarti tamat.


Ia mencoba menghubungi mutan senior dengan telepati. Namun semua menolaknya. Siaal.

__ADS_1


Selalu dia diperlakukan seperti ini. Banyak para mutan yang tak suka padanya. Ia merasa seniornya hanya iri karena ia bisa mendapat posisi di kantor pusat. Banyak juga cibiran mengenainya, tapi mana ia peduli.


Leon dengan hati bergetar takut, ia merasakan dingin pisau yang Riby sentuhkan pada dadanya.


"Kau becandakan? Kita teman kan?" Leon mencoba untuk mengulur waktunya.


"Teman yaaa awalnya, tapi siapa sangka aku mendapatkannya sekaligus dengam musuh." Sindir Riby.


"Kau tahu seberapa ingin ku ikut membedah saat psrtama kita bertemu?"


"Dan keinginan itu muncul lagi sekarang, lebih mengebu, kau harus memegang dadaku," Riby meraih tangan Leon dan meleyakkan didadanya.


"Bagaimana? Kau merasakannyakan? Sesenang ini aku kau yang membuka peluang ini, sebenarnya kau sangat penasaran dengan Alejandro, sodara setengahmu itu"


"Tapi kau sudah mewakilinya" lanjut Riby menambah gelisah pada diri Leon.


Di tempat lain, Lamorna berang, ia mengerahkan anak buahnya untuk mencari Leon. Namun hingga kini ia tak mendapati keberadaan bawahan favoritnya itu.


Ia terus mengerahkan banyak anak buah untuk mencari. Melihat bentengnya yang rusak juga membuatnya murka. Bukan lagi banyak dari mutan-mutan itu tak berdaya. "Dasar tak berguna!" makinya.


Ia berdiri. "Kalian keluar!" Ia mengusir beberapa mutan. Siaal hanya benteng ini yang bisa ia kendalikan. Walau ia masih dibawah Black Sea namun bukan lagi yang bisa dengan seenaknya memerintah.


Kemampuan anggota di Black Sea yang memang terpilih dibanding dengan benteng ini yang asal comot bagai bumi langit.


"DARIUS!" teriaknya. "Kau ganti semua pasukan yang berada disini dengan mutan terlatih! Apa tak ada?" Seruannya.


"Mereka yang terlatih dikirim ke Bats Side Nyonya" jelas Darius.


"Cari lagi! Benteng ini perlu penjaga-penjaga tangguh aku tak ingin ada uang bisa lolos jika masuk sini." Perintah Lamorna.


"Baik Nyonya"


"Lalu bagaimana? Kau sudah mendapat kabar dari Leon?"


"Belum ada Nyonya"


"CARI! APA KERJAMU! HAH!" makinya lagi.


"DarkHole! Selalu saja mengacau!"


"Nyonya saya mendengar di Black Sea, DarkHole telah menemukan formula yang diinginkan bos"

__ADS_1


"Ah i see, pantas saja Leonku mendekati anak bau kencur itu. Ternyata ia memiliki misinya" Lamorna memperlihatkan seringaian liciknya.


tbc.


__ADS_2