DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kisah Willow Troto 5


__ADS_3

Willow berdandan menggoda, ini lebih mirip dirinya saat dulu di Nokturnal. Ia sudah berada didepan Bar tempatnya dan Liber bertemu.


Melangkah masuk, Willow mengedarkan pandangannya, ia mencari sosok Liber. Willow memicingkan mata dan mendapatkan targetnya.


Ia menuju bar dan memesan satu gelas martini. Mendapatkan minumannya ia menuju tempat Liber.


Willow menebar pesonanya, ia melangkah mendekati Liber ketukan sepatunya, membuat Liber mendongak dan cengiran Willow dapatkan.


"Kau datang! Sini-sini" ucapnya sambil terkekeh.


"Ah siaal! Mengapa kau mabuk!" Maki Willow ia melemparkan ke sofa sebelah Liber.


"Cepat katakan!" Paksa Willow pada Liber.


"Katakan apa?" Dahinya mengkerut. Lalu kembali tertawa.


"Aha kau Willow! Kau wanita Troto, kau tahu Willow, aku janji tak akan mendekati dirimu lagi" ucapan ngawur Liber yang membuat Willow penasaran. Lelaki itu mengangkat kedua tangannya,


Willow menyesap minumannya.


"Ya aku menyerah, ahahahaha, Maaf Tetua aku menyerah, benar, wanita ini yang mendekatiku, ahahhaha" Liber merebahkan dirinya diatas meja, mendorong gelas-gelas kosong dengan kepalanya.


"Kebenaran apa yang kau tau mengenaiku?" Willow bertanya.


"Kebenaran? Ah … Sssttt …" Liber bangun dengan susah payah menyeimbangkan tubuhnya yang tak bisa bergerak sesuai keinginannya.


"Willow kau lihat ini" Liber memperlihatkan tangannya yang lunglai. Ia menggantungkan tangannya dan dengan tangan satunya ia menyentuh dan memukul tangan lunglai itu, kemudian ia tertawa terbahak.


Willow menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa. Menghela nafasnya melihat kelakuan Liber. "Willow kau ada banyak," lagi ucapnya.


"Ah aku ingat tak boleh dekat-dekat denganmu" sentak Liber yang beringsut menjauhi Willow. Sudahlah cukup ia melihat kelakuan aneh Liber. Kembali menyesap minuman pahit namun membuatnya ketagihan.


Willow turun ke lantai dansa membiarkan Liber dengan kelakuannya. Willow menggoyangkan tubuhnya di kumpulan para penari.


Meliuk mengikuti dentuman musik kencang yang memekakkan telinga. Membuat para lelaki satu persatu mendekatinya melihat kemolekan tubuh Willow.


"Hai sendiri?" Seorang lelaki memepetnya. Tapi Willow tidak peduli, ia terus asik dengan tariannya.


"Boleh kenalan?" Ucap lelaki lainnya. Tetap saja tidak Willow gubris. Ia meninggalkan kungkungan lelaki itu dan masuk lebih dalam lantai dansa.


"Cantik sendirian?" Lelaki ketiga, ia melihat dua lelaki yang menggoda diawal ternyata tidak menyerah. Willow pura-pura mabuk. Ketiganya menggiring Willow keluar dari bar.


"Ayo kita antar kau pulang sayang, kau sudah mabuk" salah satu dari mereka berucap dengan senyuman me sum.


"Ah aku ingin melihat kaia membuka pakaian kalian" ucap Willow dengan nada manja. Ketiganya seperti mendapat lampu hijau, walau Willow tidak menjanjikan apapun untuk mereka.


Mereka dengan semangat membuka pakaian mereka. "Berdiri rapi disana! Ayo!" Para lelaki itu dibuat patuh.


Willow mulai mendekatinya, dan memperhatikan lengan mereka, dan memberi kecupan di pipi para lelaki itu. Lalu pergi begitu saja.


"Hei mau kemana kau!" Salah satunya mengejar Willow dan menarik lengannya kasar.

__ADS_1


Willow menatapnya dengan dingin, "Lepaskan tangan kotormu dariku, sebelum kupatahkan tanganmu" ujarnya datar.


Bukannya melepaskan tangan Willow lelaki itu malah menarik Willow dan memaksa mencium Willow.


Kedua lelaki yang lain ikut mendekat. Saat Willow meronta.


"Kau tak bisa mempermainkan kami sayang"


"Ayo layani kami nanti kau akan kami lepaskan" Yang ini mengendusi rambut Willow.


Willow berdiri diam, matanya menatap menusuk. Kepalanya melengos saat ketiga lelaki itu ingin menciumnya. Tangannya ia turunkan dan pedang tajam keluar dari kukunya dan menusuk tubuh lelaki disamping kanan dan kirinya.


"ARK!" Tubuhya luruh.


KRAK!


Lalu dengan cepat Willow mematahkan leher lelaki di depannya.


Willow melangkahi mayat yang bergelimpangan di depannya. Dengan sesekali menghapus bekas ciuman ketiga lelaki bajing4n yang telah tewas ia bunuh.


"Keluarlah" ucap Willow. Disana Liber keluar dengan wajah pias. 


"Tuan Liber, suka dengan tontonanmu? Tapi maaf aku menghabisi pesuruhmu" ucap tenang Willow yang mengerikan.


Gerakannya cepat. Ia sudah mencekik Liber dengan lengannya. "Jadi kebenaran apa yang membuatmu harus menjebakku?" Seringaian melihat korbannya berkeringat dingin.


"Kau tahu, Rasanya sangat menyenangkan, ada kepuasan ketika cecunguk macam kalian ini musna" ucap Willow yang membuat Liber susah payah meneguk salivanya sendiri.


"Ada apa ini?" suara berat dan dalam menyela intimidasi Willow pada Liber.


"Kami hanya bersenang-senang kau ingin ikut tetua?" Jawab Willow dengan senyum yang tak sampai mata. Ia melepaskan lengannya pada leher Liber.


"Mengerikan juga caramu bersenang-senang ya?" Willow tak menanggapi ucapan Zale, Liber mengusap lehernya yang terasa perih, ia tidak tahu Willow setangguh itu.


"Siapa kau? Asisten Tetua? Aku lihat kau selalu mengekori tetua" ucap Willow membuat Zale kesal. Tapi, benar yang Willow katakan, ia selalu mengekori Troto.


"Benar, aku asisten si muka seram itu" Willow mengangguk-angguk, Willow melenggang begitu saja akan meninggalkan tempat itu. Urusannya dengan Liber telah selesai.


"Ikut dengannku, kau bersihkan kekacauan yang kau buat, dan kau jangan mengikutiku lagi!" Troto menyeret Willow untuk mengikutinya.


Zale menepuk bahu Liber. "Aku sudah bilang dia bukan tandinganmu, kau keras kepala, siapkan dirimu, tetua pasti akan membuat pelajaran untukmu" kembali, wajah Liber memutih, darahnya seperti disedot habis.


"Oh ya dan jangan coba melarikan diri. Kau tahu seperti apa mengerikan tetua kita yang satu itu" ucap Zale sebelum pergi. Tubuh lelaki itu bergetar hebat. Ketakutan menguasainya.


Willow tak mengerti mengapa lelaki ini menyeretnya. Tapi yang membuatnya selalu bingung, ia tidak pernah protes apapun yang lelaki itu lakukan padanya.


Malah setiap Troto menyentuhnya, debaran jantungnya meliar membawa endorfin menyenangkan otaknya.


"Ssssss" rasa nyeri di kepalanya kembali muncul. Ia menunduk, kepalanya menggeleng.


Troto menghentikan langkahnya. Melihat keadaan Willow. 

__ADS_1


"Ada apa? Ada yang sakit?"


"Kepalaku, nyeri" kembali Willow menggelengkan kepalanya. Menghalalkan segala nyeri namun tidak kunjung menghilangkan kesakitannya.


Hup.


Troto mengangkat tubuh Willow ia masuk dalam salah satu pondok. Cukup besar. Dan bentuk berbeda dari pondok kebanyakan.


"Ini pondok siapa?"


"Ini kantor kerjaku" Troto menurunkan Willow di sofa berbahan kulit berwarna kecoklatan. Kelebatan memori kembali tergambar.


Potongan-potongan gambar dirinya dengan lelaki tato bunga. Melihat bagaimana ia di dalam gambar itu. Willow menyimpulkan kalau lelaki itu adalah kekasihnya.


Willow semakin menjambak rambutnya mencoba menghilangkan kesakitannya. Tangan besar melingkupi tanganya. Willow mendongak.


"Troto ini menyakitkan" ucap lirih Willow. Matanya berkaca. Tak tahan Troto membawa masuk tubuh Willow ke pelukannya. Ia merengkuh erat tubuh Willow.


"Maaf" bisik suara berat itu bergetar. Nyeri kepala Willow berangsur membaik. Ia masih betah dalam dekapan Troto. Lelaki itu tak melepaskannya sedikitpun.


Walau Willow tidak mengerti arti dari kata maaf yang Troto guman kan beberapa kali itu. Juga banyaknya kecupan yang Troto sarangkan pada kepalanya.


Kembali rasa rindu menyeruak. Rasa yang sangat ia damba, ia merasa kenyamanan juga aman. Ia tak ingin melepaskannya.


"Troto, kau tahu sesuatu tentangku bukan? Kau lelaki dengan tato bunga yang selalu berkelebatan di otaku bukan?" Ucap Willow. Ia sudah tak ingin lagi bermain tebak-tebakan. Ia ingin tahu sebenarnya ada apa dengan dirinya.


Hentakan kencang membuat tubuh Willow menjauh dari Troto. Lelaki itu melangkah jauh tanpa kata. Kembali dingin dan kejam.


"Ahk" rintihnya. Membuat Troto kembali mendekat. 


"Kepalamu masih sakit?" Bisa Willow lihat wajah khawatir itu. Wajah dingin yang terlihat hangat itu.


"Benar itu kamu" Willow menangkup wajah Troto. 


"Kau tahu, saat aku memegangmu jantungku meliar dengan sendirinya, rasa rindu juga ikut datang seperti hembusan angin laut yang kencang."


"Aku,aku, merasa kita dekat, tapi aku tidak mengingat siapa kamu? Rasanya sangat menyiksa" tak terasa air mata Willow menetes.


"Sebenarnya aku kenapa?" 


"Troto, kau ada di—" 


Keduanya melihat ke arah pintu yang terbuka di sana ada Shera dengan gaun tipisnya, Troto menangkup tangan Willow dan melepaskan dari tubuhnya. Ia menjauh.


"Keluar!" Ucapnya.


"Hah!"


"KELUAR!" Bentak Troto. Namun Willow hanya diam pada tempatnya.


"KELUAR AKU BILANG!" Willow beranjak dan berlari keluar. Bisa ia lihat pandangan jijik Shera padanya, Hatinya sakit. Teramat sakit pada pengusiran Troto.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2