
Dengan cepat Marzon menarik kasar senjata juga pasukan itu ikut terseret kedepan wajah Marzon. Ia mengendus. Moncongnya itu memperlihatkan giginya yang besar dan runcing, dengan benang-benang liur membanjiri mulutnya.
Ia mengeram didepan wajah pasukan yang sudah pucat pasih itu. Lalu melolong kencang, hembusan kencang menerpa wajah pasukan itu lalu Marzon melempar tubuh dalam genggamannya itu pada batang pohon.
BRAK! KRAK!
"ARGH ... " suara tulang patah juga kesakitan pasukan itu, sesaat sebelum terkulai tak sadarkan diri.
Marzon mendengur kasar. Nafasnya masih memburu ia mencari target selanjutnya. Ia berjalan perlahan. Namun ia tidak menemukan pasukan lainnya.
"GROAAWHH ... " Marzon merasakan punghungnya yang memanas. Ada sesuatu yang menusuknya disana.
Ia memutar tubuhnya, disana sudah ada berikade pasukan berjajar, dan dibarisan tengah, Braxton berdiri dengan pongah.
"GRUAAAAHHW ... " Marzon meraung kencang, membuat tanah bergetar hebat. Murka damarah terlihat dari matanya, mulutnya mengeluarkan nafas kasar,
Ia siap menyerang.
"SERANG!"
"TANGKAP LYCAN ITU, HIDUP ATAUPUN MATI!" Hudson memerintah,
Marzon berlari dan melompat dari pohon satu ke yang lain. Bersembunyi dibalik pohon rimbun dan gelap. Dengan mata merah dan tajam ia menginta para mangsa selanjutnya.
Berikade depan mendekat lalu melingkar, bersiap dengan senjata, mata mereka awas, menatap pohon tempat terakhir disinggahi oleh Marzon.
Dengan gerakan tak terlihat dan cepat ia mendekat pada beberapa pasukan dan mengeram lirih didekat telinga pasukan itu lalu menjauh. Bergantian.
"Hiah ... " Para pasukan itu dengan gerakan tanpa sadar menembakkan senapannya bertubi pada angin. Ada juga yang hanya menodongkan senapannya pada angin.
"Waspada! Waspada!" Earpiecenya mengaungkan suara Hudson.
"Gerakannya sangat cepat ketua"
CTAK!
BRAK!
"ARK!" satu pasukan telah mendarat ke tanah setelah ia di lambungkan ke udara oleh Marzon. Senapannya patah menjadi dua.
Lingkaran pasukan itu menyempit. Pasukan menjadi lebih awas. Marzon kembali memulai aksinya. Ia bersembunyi di atas pohon. Dibalik rimbunya daun, Ia menggelengkan kepalanya.
Rasa pening menggelayuti kepalanya. Jantungnya berdegup cepat. Marzon bisa merasakan aliran darahnya yang terasa panas.
Semua tidak diindahkannya, ia menyerang, geraman keras, mengagetkan pasukan lalu mengarahkan senapan padanya dan Marzon kembali menerima tembakan. Matanya memburam. Ia menggeleng kepalanya, jangan sekarang, bisik Marzon
Dan sekali lagi, Marzon terjatuh tersungkur dihadapan pasukan itu. Pingsan.
"Bawa dia kembali dalam kandangnya!" Braxton berlalu begitu saja. Hanya begitu, Sia-sia ia membatalkan rapatnya dengan Walabi Corp.
Hanya untuk melihat petarungan yang sudah pasti itu. Ini memang jawabakan yang disiapkan oleh Braxton. Yang Braxton tidak ketahui, Marzon tahu rencana ini dan ikut dalam permainan yang braxton buat.
__ADS_1
*
*
*
Bukit Rfizt heboh. Bagaimana tidak, Juan mendapatkan kabar dari ketuanya, Marzon.
Marzon diketahui sedang mengakses penyimpanan pribadinya. Dan dengan cepat Juan mengirimkan pesan.
Yang membuatnya lega, tak lama, pesannya dibalas oleh Marzon namun satu hal yang membuat kelegaannya terbang lagi, Juan dan yang lainnya tidak diperbolehkan untuk menyelamatkannya.
Bukannya tidak boleh, tapi Marzon memberi mereka tenggang waktunya, nanti, Marzon akan memberitahukan pada mereka,
Juan berpikir keras, apa yang terjadi dengan ketuanya? Rencana apa yang sedang dilakukan ketuanya, apakah ada rahasia dibaliknya? Banyak pertanyaan berputaran dalam
Namun di sudut lain ada Clara dan Camy yang mendapatkan hasil dari penelitian Braxton, menggunakan Marzon sebagai objeknya.
Marzon tidak bisa melibatkan Juan disana, Braxton sedang mencari Juan. Tidak menutup kemungkinan Braxton akan langsung melenyapkan Juan detik itu juga saat melihat keberadaan pria itu.
Clara menatap Camy. Melihat surel yang Marzon kirim ada namanya dan Camy. Ia mengirimkan pesan pada Camy.
(Kita harus bicara)
Lalu balasan dari Camy.
(Ruanganku)
*
*
*
"Apa yang orang ini pikirkan!" Clara mengomel sedari tadi saat selesai membaca berkas yang membuatnya tercengang ditempatnya.
"Sebentar, bisa aku menelpon seseorang dulu" Camy menekan sambungan disana dengan gusar.
"Hai Cam" suara santai dari sebrang sana.
"Pina bagaimana?" Camy menghubungi El Pinado Collen, kakak angkatnya, anak sulung, dari Esmas Collen, pemilik Walabi Corp.
"Bagaimana apa?" Pina mengajaknya becanda.
"Oh ayolah Pina! Aku serius!" Suara Camy meninggi.
"Woah! Easy girl!" Pina tergelak.
"Serius Pinado!" Camy masih dengan wajahnya yang serius.
Tidak ada jawaban sebrangnya, setelah diam panjang, Pina mengerti, Camy tidak ingin becanda.
__ADS_1
"Batal! Kau puas?! Kenapa sih kalian itu tidak bisa diajak becanda!" terdengar helaan nafas Pinado yang kalah oleh sang adik, Camy hanya menatap lurus dengan pandangan lega juga datar. Dasar drama king! Batin Camy.
"Sudah, aku matikan!"
"Hei ... hei ... kau becanda, adik kecil?"
"Iya, aku becanda!" Dan panggilan pun terputus.
"Moody!" Kesal Pina.
Camy bernafas lega, setidaknya keluarga angkatnya tidak akan berhubungan dengan Braxton ini.
Sekarang saatnya ia kembali pada masalah Marzon.
"Cam kita perlu orang lain yang mengetahui tentang seluk beluk mutan selain kita, kita perlu tim Cam" Clara merasa ia tidak begitu ahli masalah mutan.
"Leon, masukkan dia, juga Bharat dan Jenny," Clara mengangguk. Benar Leon setidaknya sedang mendalami masalah ini. Lagi pula Clara tidak bisa mengandalkan lagi Mariah, sang pengkhianat dari timnya.
Mendapat kabar dari Juan, ia tak menyangka Mariah terjerat oleh kebre ngsekan Braxton. sesuatu diluar nalarnya.
Clara bisa merubah dengan mengabungkan bagian perbagian, Ini adalah hal biasa bagi Clara. Namun spesies baru Lycan, bukanlah rananya.
Ini membahayakan. Sangat. Melihat semua yang Marzon kirim. Dan juga laporan yang ia baca. Lycan ini, sangat next level dari sejenisnya.
Lebih kuat, lebih pintar, lebih mengerikan. Marzon masuk tahap awal, dalam berkasnya memiliki tingkatan level disana.
Alat bunuh hidup milik Braxton Projek. Laboratorium milik Braxton.
*
*
*
Wina dengan rajin datang ke pondok milik Simon.
"Kau datang lagi" ketus Ricky. Ia tak begitu menyukai Wina. Simple karena ia adalah orang Nokturnal.
"Hei boy! Ada masalah apa kau dengan ku?" Pria yang yang di panggil dengan sebutan 'boy' ini, meliriknya tajam, ia memang lebih muda dari Wina. Tapi mendapat sebutan itu dari orang Nokturnal membuatnya Murka.
Ricky menggeram. Ia sudah ingin shift, Namun tepukan di bahunya membuat ia memalingkan wajahnya dan tanpa kata ia pun pergi dari tempat itu.
Wina yang melihat itu menjadi bingung juga penasaran.
Apa salahnya? sedari awal bocah itu menatapnya sengit.
Wina tidak bodoh, kepekaannya akan sekitar semakin meningkat. Bahkan ia sudah mengetahui bahwa ada yang dirahasiakan dengan tempatnya sekarang.
Ia tak tahu siapa yang bisa dipercaya ditempat itu, bahkan Potka pun menyimpan rahasia.
Hanya disini, ditempat Simon ini, Wina merasa bebas, lepas, juga ia merasa ini adalah rumahnya. Tempat ia tinggal. ia merasa akrab berada disini.
__ADS_1
tbc.