
Marzon tak bisa berdiam diri. Ia berjalan sendiri di tengah Phoenix Way dengan jubah hitam menutupi tubuhnya.
Ia butuh ketenangan, dua orang menolak sosoknya, menolak dengan keras dan ketakutan.
Jika ia kriminal dan kelakuan jahat tak mengapa jika melihatnya ketakutan, tapi melihat mereka yang ia rasa bisa dekat namun histeris, ketakutan dan menjauh membuat kesedihan merebak di dadanya.
Perasaan yang pernah hilang beberapa waktu belakangan ini.
Marzon terus berjalan perlahan membelah hutan gelap. Tetesan air terdengar. Ia menadahkan tangannya pada tetesan itu.
Tenggorokannya kering. Kucuran tercipta dari bunga dengan bentuk cangkir yang Marzon miringkan.
Ia meneguk air dalam tangannya. Segar merasuki tenggorokannya. Rasanya sama dengan teh yang ia minum di Cahaya ilusi tempat bangsa peri.
Terlinganya bergetar, ia mendengarkan langkah kaki cepat dengan tangis juga nafas yang putus-putus.
Marzon mencari sumber suara itu. Ia mulai melangkah kearah suara itu. Ia melihat beberapa anak beruang berlari. Ia dikejar oleh macan kumbang.
Aneh. Hanya itu kata yang terlintas dalam otaknya.
Namun secepat kilat ia menerjang macan kumbang itu. Macan hitam itu terlempar ke arah batu besar lalu tubuhnya berguling di lumut-lumut licin.
Ia berdiri dengan mengelengkan kepalanya. Si macan hitam itu menggeram. Memperlihatkan gigi runcing yang berliur.
Matanya tajam merah dan kemarahan terpancar disana. Geraman dan auman, membuat beberapa Phoenix berterbangan menjauh.
Marzon, menggerakkan tangannya, ia malas banyak bergerak. Tangannya ia cengkram erat. Dan ia bisa melihat macan yang tiba-tuba mengaum menyakitkan.
Ya Marzon meremukkan beberapa tulang belulang macan hitam itu. Kemudian dengan terkaing macan itu berlari menjauhi Marzon.
"Anak-anak aku tak apa?" Ia melihat anak beruang itu beringsut ketakutan. Mereka menangis sesenggukan.
Matzon hendak mengulurkan tangannya.
"Ramon!"
"Lola!"
Marzon menatap kearah suara. Beberapa beruang dan ia melihat ada Orso dan Berus ada dikerumunan orang-orang itu.
"Ramon!"
__ADS_1
"Lola!"
Dengan berteriak. Seirang beruang dengan apron berlari kearah Marzon. Ia melewati dirinya dan memeluk kedua beruang kecil yang menangis ketakutan.
"Kau apakan anak-anak ini Tuan?!" Murka beruang ber-apron pada Marzon yang menjulurkan tangan menunjuk Marzon dengan centong kayu.
Matanya nyalang kearah tudung Marson yang menutupi kepalanya.
"Yang Mulia?" Berus menyela dan menyingkirkan centong kayu itu dari hadapan Marzon. "Mengapa anda disini?" Berus kembali bertanya.
"Beeus kau mengenal dia? Dia menakuti anak-anak ini, penjarakan dia penculik!" Putus beruang itu sambil mengayunkan cetongnya kearah Marzon.
"Belinda! Jaga sikapmu pada Raja!" Berus meninghikan suaranya.
"Ra-raja?" Pekikan beruang yang bernama Belinda itu.
Marzon membuka tudung dikepalanya. Ie memperlihatkan dirinya. Ia menatap Belinda yang menarik tangan yang mengacungkan centong ke dadanya.
Mati dia, sudah sekasar itu pada Raja. "Maafkan saya Raja" Belinda melengos. Ia sebenarnya masih tak terima. Masa Rajanya seekor anjing jelek.
Batinnya.
Ia juga tak terima mengapa dia harus meminta maaf, ia tak salah, Lycan itu juga menakuti para anak Beruang.
Sementara Lola, bocah perempuan yang satu lagi berada digendongan Berus.
Ia berkata. "Bukan dia yang membuat kami takut miss Bel, tapi tadi kami di kejar oleh macan hitam" dengan sesenggukan. Bocah perempuan itu bercerita.
Berus mengelus punggung Lola. Menenangkannya. Ramon, anak Orso juga membenarkan perkataan Lola. Ia mengangguk. Sambil menangis kencang.
"Ka-kalau tak-tak ada Lycan--- Lycan?" Bocah lelaki itu mengusap air matanya dan menengok kearah Marzon.
"Dia ... Dia Lycan! Lola kau lihat kan! Aku tak berbohong! Aku melihat Lycan! Kau sekarang melihatnya juga kan! Lihat! Lihat! Dia Lycan kata Dad dia Raja kita! Aku tak berbohong!" Histeris kesenangan Ramon menarik lengan Berus supaya mendekat.
Agar ia bisa menunjukkan pada temannya kalau ia tak membual.
Anak perempuan beruang itu juga mengangguk dan mengusap air matanya. Ia melihat kearah Marzon.
"Paman dia Lycan?" Lola mencari pembenaraan pada Berus.
"Iya dia Raja, mau salam dengan Raja" ajak Berus. Gadis kecil itu mengangguk. Berus menurunkan Lola.
__ADS_1
Lola pun mendekat dan mengankat roknya dengan kaki disilangkan dibelakang dan menekuk dengkulnya. Salam sang balerina.
Manis sekali. Dan dengan sopan Marzon membalas salam dengan menundukkan kepalanya.
Ramon menarik Orso minta diturunkan juga. Perlahan ia mendekat dan mengulurkan tangannya.
"Terima kasih Paman Raja" Marzon menjabat tangan kecil itu. "Kalian tak takut denganku?" Marzon berjongkok. Ia berbicara dengan menatap wajah kedua bocah yang menggelengkan kepalanya.
"Tidak"
"Benar tidak takut?" Marzon menatap kedua bocah itu intens.
"Tidak" keduanya menjawab dengan cepat. "Kalian mau aku gendong?" Tawar Marzon.
"Ra---" Perkataan Orso ditahan oleh gelengan kepala Berus.
"Biarkan, berilah kesempatan dan kepercayaan pada Rajamu! Kau lihat ia menolong anakmu dari cengkraman Mahim" Orso mundur satu langkah.
Ia membiarkan Marzon mengendong kedua beruang kecil di dekapannya.
"Mengapa kau mau menjadi Raja, Paman?" Tanya Lola. "Aku mau jadi Raja" sela Ramon.
Ia melihat Lola mengelus dagu Marzon. "Kau juga berbulu" Lola lagi tanpa peduli pada Ramon.
"Iya berbulu sama seperti kita" Ramon menanggapi. "Iya aku sama seperti kalian, lalu kenapa kalian takut padaku"
"Karena kata Dad dulu ada Lycan jahat dalam hutan" ucap Ramon. Mereka berjalan kembali keluar hutan itu. Orso dan lainnya mengekor dibelakang Marzon.
"Lalu kenapa kalian main dalam hutan?" Kedua bocah itu menunduk bersalah.
"Ini salahku Paman Raja, Ramon membantu mengambil topiku yang terbang masuk kedalam hutan" Lola menunduk semakin dalam.
"Lola aku tak apa" Ramon mengelus kepala Lola.
"Maaf Ramon" kesedihan terpancar dari wajah Lola.
"Gak papa" Ramon mengangguk.
"RAMON!" Seketika Ramon diambil paksa oleh Kalea.
"Kau tak apa-apa? Mana yang sakit?" Orso datang dan memberitahu istrinya kejadian yang hampir menewaska anaknya.
__ADS_1
Kalea yang tadi menatap Marzon nyalang, kemudian melirik bersalah. Belum lagi Miss Bel, juga membenarkan perkataan Orso.
Tbc.