DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Wina dan Ritmi 2


__ADS_3

"Aku kan menunjukkan dimana kau bisa bersembunyi." Ritmi terus saja berkelakar. 


"Bisa kau tunjukan saja jalannya padaku, tanpa banyak kata!" Wina terasa penat dengan  omongan dari buku tebal itu. Tak seharusnya ia membawa buku yang sedang ia gendong di punggungnya.


Namun ia sudah sejauh ini keluar dari Needle bees. "Manusia kau terlalu tidak sabaran rupanya" buku itu terkekeh.


Wina menyusuri hutan berkabut. Ia mengenakan pakaian tebal yang ia pinjam dari Morana.


Wina membawa peralatan yang ia bawa dari lab Marky. Potka pun belum juga kembali, sudah 3 hari ia ditinggalkan. Entah benar pria itu sedang menyelidiki atau ia memang ditinggalkan Wina tak tahu.


Wina menempelkan  sesuatu pada petanya. Benda bulat seukuran kuku. Dan memasang earpiece-nya.


Dari earpiece ia akan mendengar instruksi rute yang harus ia lewati. "Bukan kesitu manusia!" Ucap Ritmi.


Wina tidak mendengar. Ia tetap mengikuti rute dari petanya. Dan terus melangkahkan kakinya.


ZREETT …


"Aaark"


Wina terpeleset, ia masuk ke ke sebuah jurang. Tangannya meraih dahan tumbuhan rambat dengan cepat dan ia bergelantung di tebing yang tertutup kabut.


Wina tak bisa melihat jurang yang tertutup kabut tebal, bahkan jarak pandangnya terbatas hanya beberapa senti saja.


Debaran jantungnya meliar. Nafasnya tersengal. Wina berusaha dengan kakinya memanjat tebing itu.


"Apa aku bilang? Kau harusnya mendengarkanku, peta dari Phoenix Way memang akan selalu menuntunmu pada tujuan akhir tapi mereka akan memberimu perjalanan sesuai dengan dirimu!" Ucap Ritmi dengan berdecak.


Ia mengulurkan tangan mengeluarkan tali besi dari kukunya. Ujung tali besi itu mencari pegangan kuat untuk ia mengikat diri.

__ADS_1


Ini alat dari DarkHole Laboratory yang masih ia gunakan. Wina menarik tali besi itu, ketika ia melihat lampu hijau dari tali besi itu. "Tarik!" Perintahnya.


Dan tubuh Wina ditarik dengan mudah kembali ke tepian jurang. Ia menghentakkan jarinya dan tali besi iti kembali masuk pada jemari Wina.


"Jadi kemana kita sekarang? Aku akan mendengarkanmu" Buku itu terkekeh ia bisa merasakan kesal Wina.


"Harusnya kau mendengarkanku"


"Ya,ya,ya sekarang katakan kemana kita!" Ucap malas Wina.


"Kenapa semua ras serigala selalu saja tidak sabaran! Kau lurus dan ketika kau melihat pohon kembar berdampingan, kau masuk kesana" Ritmi jadi ikut kesal.


"Itu terlihat. Tidak jauh" Wina semakin mempercepat sapuan kakinya. "Ini hanya masuk ke celah ini?" Wina mmenggatuk dahinya.


Yang ia tangkap utu hanya sebuah cela kecil dan apa ia dikerjai oleh buku ini?


Namun Wina mengayunkan kakinya masuk.


Percikan tercipta saat tubuh Wina melewati cela dua pohon. Dan pemandangan didepannya berubah terik.


Ia berada di hutan rindang dengan sinar matahari masuk melalui cela-cela daunnya. "Kita melewati portal pohon."


"Kau melihat jalan setapak? Ikuti jalan itu. Hingga kau bertemu pohon dengan pintu berwarna merah kusam, ketuk dan katakan kau datang bersamaku"


"Hoaam … udara hangat, aku akan tidur, bangunkan jika kita sampai" Wina hanya mengangguk dengan terus berjalan menyusuri jalanan setapak.


Ini terlalu melelahkan. Wina sudah berjalan jauh. Ia menghentakkan kakinya dan keluar sol tambahan di bawah sepatunya.


"Terbang!" Tubuh Wina melayang, ia melajukan kencang. Ia keluar hutan dan disambut ladang lavender yang luas. Wina mempercepat laju sepatunya.

__ADS_1


Tak lama ia melihat pohon sangat besar dan tinggi di tengah ladang lavender. Ia melihat pohon itu ada sebuah pintu yang Ritmi katakan sebelum buku itu mendengkur keras di punggungnya.


Wina mengetuk pintu itu 3 kali. "Aku datang bersama Ritmi!" Ucap Wina lantang. Terdengar ketukan pada pintu.


Srrtkk …


Pintu itu bergeser disana Wina melihat sosok kerdil dengan jas dan kacamata menatap Wina tajam. "Ikuti aku!" Ketusnya.


Wina mengikuti sosok kerdil itu. Ia tak menyangka apa yang ia lihat saat ini, sebuah perpustakaan tua yang gelap dan penuh buku di lemarinya.


Tempat ini sangat luas. Amat sangat luas, "ini pintumu!" Ia mengikuti sosok kerdil dan kembali dihadapkan oleh pintu berwarna biru.


Wina membuka pintu itu. Dan ia melihat jalanan yang ramai. Wina keluar dari pintu ia masih terpaku pada hal yang baru saja ia lalui.


Ia menatap sekelilingnya,


Bruk!


ia hampir tersungkur, seseorang menyenggol tubuhnya "Jangan melamun!" Jalanan sangat amat ramai, hilir mudik.


Hiasan bendera dimana-mana, Wina mulai berjalan. Matanya meliar mengamati apapun. Banyak juga robot-robot disini. 


Wina dengan cepat munarik tudung kepala dan menyembunyikan wajahnya. Ia berjalan menunduk saat ia berpapasan dengan anggota pasukan elit milik Marky.


Mengapa mereka berada disini? Pikirnya.


Plak!


Wina terdiam, ada yang menyentuh bahunya.

__ADS_1


"Wina?" Nafasnya berhenti. Ia begitu terkejut, ada yang mengenalinya. Ia menelan salivanya susah payah.


Tbc.


__ADS_2