
"Hai cantik kita bertemu lagi"
Willow tak menanggapi sapaan itu. Ia menyesap kembali minumannya. Rasa pahit menjalar memenuhi indra perasa Willow. Ia memutar gelasnya.
"Aku tahu kau mencari sesuatukan?" Ucapan lelaki itu. Membuat gerakan tangan Willow yang memutar gelasnya berhenti.
Ia menatap dengan mata kucingnya. Sudut bibir lelaki itu terangkat. Ia mendapatkan perhatian dari wanita itu. Willow menangkap bayangan yang ia tahu dia si pemilik bar.
"Aku akan memberitahu kau kebenaran jika kau mau menemaniku di lantai dansa." Ia mengedikkan kepalanya menuju lantai dansa.
Tanpa kata Willow menyesap habis martininya dan memakan buah zaitun yang berada didalamnya, ia turun dari kursi dan melangkah menuju lantai dansa.
Ia kembali berbalik, "Ayo" ucap Willow disambut senyuman lebar sang lelaki. Ia beranjak dari kursinya dan menempeli Willow.
Lelaki itu memegang pinggang Willow, sebelumnya ia telah meminta izin, walau ia playboy namun masih sopan itu yang membuat lelaki itu disukai banyak wanita.
"Aku Liber, salam kenal Willow" Willow hanya menganggukkan kepala, bergoyang dengan sensual. Membuat mata para lawan jenisnya memandang lapar, dan membuat wanita disana memandang kesal.
Kecantikannya sungguh luar biasa, rambut lurus tergerai indah, riasan yang sensual menggoda dengan lipstik merahnya, tubuh langsing, tinggi, dengan balutan gaun yang menawan, semua paket komplit.
Willow menari, terus menari, sekalian menghilangkan semua pikiran yang berkecamuk membuatnya pusing. Ia ingin melepas semua tekanan yang membebat pikirannya.
Satu sosok duduk di salah satu sofa yang berada di bar, ia merentangkan tangan di kepala kursi, menatap lurus pada Willow, rahangnya semakin mengeras. Meski terlihat tenang, tapi tidak dengan hatinya yang ikut panas. Saat tangan lelaki-lelaki sialaan itu menyentuh tubuh Willow.
"Seberapa lama kau akan menahannya?" Zale memang sudah berada di bar itu dan Zale pula lah yang menghubungi Troto jika Willow berada di bar miliknya, padahal saat itu Troto sedang makan malam bersama keluarga besar Shera.
Zale menunggu, ia bertaruh dengan dirinya sendiri. Troto akan segera datang dan tak sampai 15 menit, Zale sudah mendapati Troto duduk disebelahnya. Tawa terkekeh Zale tentu tak Troto indahkan.
Willow disini untuk mencari lelaki bertato pada bayangannya. Ia menarik Liber ke arah sudut ruangan dekat kamar mandi. Dengan wajah datar namun menggoda. Menyobek pakaian yang Liber kenakan.
"Woow, easy girl"
"Kau diam, atau aku pergi" ancamannya, matanya menghunus mata Willow. Dan itu membuat Liber tersenyum me sum dan tertantang.
Ia melebatkan tangannya, "Silahkan sayang" ucapnya, ia akan pasif dan menerima perlakuan Willow.
Willow mendekat dan berbisik sensual pada Liber, "Good Boy" kembali membuka lebih lebar lengan Liber, ia tak menemukan tato yang ia cari di tubuh lelaki itu.
__ADS_1
Ia akan mendorong Liber namun tarikan kencang dan gendongan di bahu membuatnya terkejut. Ia mengingat postur tubuh Willow bisa menduga siapa yang menggendongnya.
"Hei dia bersamaku!" Sergah Liber, kesal kesenangannya diambil. Tatapan mata membunuh membuat Liber ciut.
"Mundur man!" Ucap Zale yang ikut dibelakang Troto. Liber hanya mengangguk. Dan mengangkat tangannya keatas, tanda mundur teratur.
"Turunkan aku!" Ucap Willow dan berusaha memberontak.
Ia terus berontak namun lelaki itu tak sedikitpun terpengaruhi. Ia membawa Willow masuk kedalam ruangan dan menutup pintunya dan melemparkan pada ranjang empuk.
"Apa yang kau lakukan!" Bentak Willow. Mereka hanya bertemu beberapa kali, dan tidak mengenal tapi mengapa lelaki ini memperlakukan seolah mereka dekat.
Tak dipungkiri. Willow merasakan ketertarikan saat pertama kali melihat mata biru itu. Willow bangkit, ia harus keluar, baru satu orang yang masuk jalanya.
Tak mengindahkan Troto yang sibuk di meja dekat dinding. Entah melakukan apa.
"Kembali ke tempatmu atau kau keluar dari sini!" Desis lirih Troto yang masih bisa Willow dengar.
"Kau siapa? Kita hanya orang asing, berani sekali kau memerintahku!" Ucap lantang Willow. Namun satu ide terbersit dipikirannya.
Elusan Willow naik ke bibir lelaki itu, telunjuknya mengelus ringan bibir bawah Troto.
Satu jarinya menjalar turun perlahan ke dagu, leher, bermain sebentar dengan adam apel milik Tronto yang terlihat seksi, Willow mendekat dan mengecup jakun Troto yang turun naik, itu membuat Willow menarik sudut bibirnya ke atas.
Ujung jari willow turun ke dada Troto terus turun ke perut six pack Troto, disana bukan hanya satu jari. Ia meraba perut Troto.
Tubuh Troto bereaksi. Ia menahan tangan Willow dan menyudutkan wanita itu ke dinding dan melu mat keras bibir Willow.
Willow tidak membalas pangutan Troto. Geraman berat terdengar. Senyuman terlihat pada bibir Willow dengan cepat tangan Willow terbenam di rambut panjang Troto memperdalam luma tan lelaki itu padanya.
Willow membalas tak kalah kasar, seperti tidak ada hari esok, entah perasaan apa yang mengelayutinya. Rindu. Willow membuka paksa pakaian Troto. Ia melirik ke arah kedua lengan lelaki itu. Dan tak menemukan apapun disana.
Troto mengangkat tubuh Willow dan menurunkan diranjang, dari mata Troto ia bisa melihat jika lelaki itu menginginkan dirinya.
Willow menggoda Troto dengan menggigit bibirnya dan kembali lelaki itu menyerang dirinya.
Malam panjang Willow habiskan dengan Troto. Ia memakai kembali pakaiannya, bisa ia lihat lelaki yang menyuruhnya memanggil namanya saat mereka sedang menyatu,
__ADS_1
"Sebut namaku! Troto! Teriakan namaku sayang" Mereka meneriakkan nama masing-masing semalam suntuk. Tertidur dengan nyenyaknya.
Willow memandangi Troto, kembali melihat lengan lelaki itu, dan tak menemukan tato bunga. Willow menggelung rambutnya. Dan beranjak keluar kamar itu.
*
*
*
Ia menyusuri pantai, berjemur dan kembali menyebar jalanya. Willow menurunkan kacamatanya. Ia menangkap lelaki yang ia goda semalam. Dan akan menagih janjinya.
Ia mengambil kain pantai menutupi bawah tubuhnya dan mengejar Liber. Ia mendapati lelaki itu masuk ke sebuah pondok. Kedai.
Willow masuk ke dalam dan duduk dimeja Liber. "Hai" sapa Willow. Lelaki playboy yang kemarin menggodanya, itu hanya berdehem. Ia seolah tak peduli pada Willow.
"Aku ingin menagih janjimu semalam" ia dapat merasakan adanya ketegangan di mata lelaki itu.
"Aku telah menemanimu di lantai dansa semalam tuan Liber dan sekarang jelaskan kebenaran yang kau ketahui" Sontak lelaki itu terkekeh, Willow tahu lelaki pecundang di depannya ini akan berkelit.
"Aku rahu kau akan mengelak, kenapa kau takut dengan lelaki yang membawaku kemarin?" Ucap Willow membuat kekehan Liber berhenti.
"Aku tak pernah tahu kau sepecundang ini Tuan Liber. Menjanjikan sesuatu dan kau ingkari," Willow mengambil minuman Liber dan meneguknya.
Ada kemarahan di wajah Liber. "Aku akan memberitahumu, tapi tidak disini, ini," Liber memberikan kertas dengan alamat.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu" Liber berdecih
"Terserah dirimu saja, kau bisa mengabaikannya dan jangan menemuiku lagi untuk meminta jawaban yang kau mau" malas Liber yang mengunyah makanannya.
Willow sudah meninggalkan tempat Liber, ia membaca alamat yang lelaki itu berikan, "Bar lagi,"
"Sepertinya ada yang panas" Troto melihat ke arah Willow yang baru keluar dari kedai. Dan melihat jelas didalam kedai ada Liber. Zale memperhatikan tetuan nya, yang bodoh itu.
"Kau menyiksa dirimu sendiri Tetua" ucap Zale yang berjalan meninggalkan Troto yang masih menatap punggung Willow.
Tbc.
__ADS_1