
Marzon digiring dalam penjara yang gelap. Penjara pengap juga lembab. Marzon memperhatikan semua yang ia lihat. "Cepat!" Pasukan itu mendorong Marzon agar berjalan lebih cepat.
Marzon melirik tak suka. Marzon terus berjalan. Sampai ke tempat ini seorang pasukan telah bersiap. Ia memborgol kaki Marzon dengan rantai.
Pasukan itu mendului Maron dan membuka pintu hitam legam didepannya. Marzon melihat nya, ternyata ada pintu lain disana juga tak kalah kokohnya, double proteksi huh! Pikir Marzon ---ini salah satu ruangan khusus yang ada dipenjara ini--- Ia mendorong tubuh Marzon yang hanya diam dodepan pintu.
"Cepat!" Bentaknya. Tubuh Marzon masuk kedalam ruangan yang sangat kotor itu. Ruang tertutup tidak ada celah sedikitpun di tembok-temboknya. Cela hanya ada di pintu besi.
Marzon merasa sangat lelah. Ia mendudukkan tubuhnya. Ia bisa melihat ada beberapa cctv terpasang di ruang ini.
Masih terus memantau, ia juga berulang kali menghubungi Clara. Namun seperti hutan tadi sepertinya disini juga termasyk titik hilang dari Nokturnal. Ia tak merasakan sinyal apapun bisa masuk ke dalam frekuansinya.
Dan juga alat ini telah rusak, "Aaarg ... " rasa sakit menyerangnya. Nyeri sekujut tubuhnya semakin terasa. Tulang belulangnya serasa linu.
Krak!
"Aaargh ... " terdengar bagian tubuhnya meretak. Namun Marzon tidak menghiraukan. Sakit begitu menyiksanya saat ini.
Ditambah denag rasa panas yang membakar. Ia menggelepar. Marzon terbaring di lantai ruangan. Nafasnya semakin memburu. Ia memeluk dirinya sendiri. Terdengar juga kemerincing rantai besi yang menghantam lantai.
"Hhghh ... haagh ... hah ..." Marzon menahan sakit pada tulang punggungnya.
"Hmm ... hmmrrg ... hah ... "
Krak! Krak! Krak!
Tubuhnya bergetar, kulitnya memerah, uratnya menyembul dari tangan juga pelipis dengan mata melebar juga berair. Rasanya menyakitkan, sangat sakit.
"AAARGH!"
"AAAAAARRGHH ... "
"AAAARGH! AARGH! HAH ... HAH ... " Marzon merangkak perlahan dekat dengan dinding. Ia menyenderkan tubuhnya ia terduduk dan memwluk lututnya.
Menguatkan diri. Tubuhnya serasa terbelah-belah. Ia mencengkram rantai hingga kukunya memutih. Juga giginya bergeletuk. Ia mengigit bibirnya hingga mengeluarkan cairan merah rasa karat besi.
"ERAAAAGRGGHHH ... " Teriakan keras yang mengaung kemudian hening, kembali Marzon tidak sadarkan diri. Ia meringkuk disudut ruangan.
Tak lama tangannya mengeluarkan bulu yang semakin banyak menutupi seluruh tubuhnya. Bulu lebat coklat gelap. Wajahnya berubah menjadi serigala. Ia masih meringkuk.
Ia membuka matanya. Bola matanya hitam gelap. Dengan bola mata merah.
"GRAOOWWL" ia terbangun dan berjalan mengelilingi ruangan dan membaui setiap apa yang ia lihat. Juga menjilatnya.
Gigi runcingnya mencoba mengigit rantai di tangan dan kakinya. Besi itu sangat kuat, namun terlihat ada sambungan yang bergeser. Ia mengigit kencang.
__ADS_1
Sambungan rantai itu terlepas menjadi dua. Sama halnya dengan rantai yang ada di kakinya.
Ia mendekat kearah pintu besi. Ia menyeruduk pintu itu. Hingga pintu itu ringsek. Namun tidak terbuka.
Ia mengulurkan tangan dan mencoba menarik pintu itu. Pasukan dibalik cctv itu merasa was-was, mereka telah melapor juga mengirim gambar cctvnya pada Braxton namun mereka tidka memerima perintah apapun.
"Lycan ini sangat mengerikan" pasukan yang sedang duduk didepan layar.
"Ia bahkan bisa menghancurkan rantai kuat itu" salah satu pasukan melanjuti.
"Bagaimana? apa ada perintah dari ketua?" Pasukan yang lainnya, ikut menanggapi.
"Belum ada"
"Ini sangat mengerikan, lihat ia bahkan sudah merusak kenop pintu itu"
"Yang terburuk, kalian bersiaplah dengan senjata kalian," Senior mereka yang sedari tadi menunggu perintah dari ketua mereka. Hudson.
*
*
*
Braxton menoleh pada tab yang Hudson serahkan dihadapannya. Ia melihat cctv itu. Mengambil tab dan menggeserkan ke layar besar di hadapannya.
Dan layar besar itu menanyangkan cctv Marzon yang telah berubah menjadi lycan dan terus membuka pintu, awalnya ia mendobrak pintu itu, ia melihat kenop pintu dan mulai mengotak-atiknya, melihat semua yang Lycan Marzon itu lakukan, membuat Braxton merasakan kepintaran pada Lycan itu. Ia bisa menjebol pintu pertama.
Lycan itu berhasil membuka pintu itu tanpa menggunakan kekerasan, ia menggunakan otaknya, bagaimana ia bisa keluar dari sana. Ia merusak gagang pintu dengan mudahnya.
Saat akan merusak gagang pintu kedua, Lycan Marzon terpental dan menabrak tembok lalu tidak sadarkan diri. Pintu kedua itu dilengkapi dengan sengatan listrik mengelilinginya.
Dengingan dikupingnya membuat Marxon terbangun. Ia terduduk lalu besandar ke dinding. Ia hanya ingat, ia dibawa keruangan ini, menatap sekelilingnya.
Klek! Klek! Klek!
Suara pintu di buka, ia melihat tiga pasikan berbaju hitam dua dengan senjata dan satu dengan nampan ditangannya.
Pasukan yang membawa nampan itu meletakkannya di lantai. "Makan!" Perintahnya kemudian mereka keluar. Dan menguncinya lagi.
Marzon degan gerakan lamban mendekat pada nampan ia sangat haus, juga lapar namun ia tidak berselera jadi Marzon hanya mengambil sebuah apel dan sebungkus air.
Kemudian Marzon menenggak habis airnya. Lalu memakan apelnya. Ia melihat kearah pintu. Pintu itu terbuka. Dan rusak.
Marzon mengamati pintu rusak itu. Yang ia ingat, ada dua pintu dan pintu yang ia lihat ini rusak. Ia mengabaikannya. Yang terpenting pintu didepannya yang masih tertutup rapat ini.
__ADS_1
Marzon curiga, tidak mungkin pintu ini tidak ada jebakannya. Melihat pasukan yang memberinya makan ada tiga orang. Berarti penjagaan disini sangat ketat.
Dan di hadapannya hanya pintu besi yang tidak setebal pintu yang rusak ini. Ia menatap pintu didepannya lekat.
Dan dengingan di kupingnya membuat Marzon tersentak. Ia menjatuhkan apelnya, Ia kembali ketempatnya semula.
Ia mencengkram keras kepalanya yang juga berdenyut menyakitkan. Entah apa yang salah, atau ia diracun? Banyak pertanyaan berkecamuk dalam otaknya yang membuat kepalanya semakin berdenyut menyakitkan.
"AAKH!" Pekiknya, dan ia kembali gak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian, Marzon kembali menjadi Lycan. Perubahan yang sangat cepat.
Hidung Lycan Marzon bergerak. Ia seperti mengendus sesuatu, matanya terbuka, dan ia menguap membuka lebar moncongnya terlihat gigi-gigi tajam dengan banyak liur.
Kembali ia mengendus mencari sesuatu, Lycan Marzon bangkit dari tempatnya dan berjalan perlahan dengan mengendusi tembok. Lalu kembali ia mengendusi lantai dan menemukan nampan dengan makanan yang tidak Marzon makan.
Ia meraih roti keras di nampan dan memakannya, tak puas, ia masih lapar, ia langsung memakan sisa makanan yang berada diatas nampan dengan rakus.
Diruang cctv, sekumpulan pasukan mengamati tingkah Lycan Marzon. Ia sudah berubah, maka kode siaga nereka kirim pada para penjaga ruangan Marzon.
"Bersiap!" Suara terdengar dari earpiece mereka. Dan semua pasukan bersiap dengan senjata mereka, menatap ke arah pintu Marzon.
Ia selesai, lidahnya menjulur menjilati nampan yang kosong. Lalu menjilati gigi-gigi runcingnya. Matanya menatap pintu dan kembali mendekat. Ia mengendusi hingga moncongnya sekali lagi tersengat aliran listrik.
"GRAAOW ... " Seruannya terkejut. Ia dengan cepat menjauh dari pintu, dengan tangan memegangi moncongnya yang terluka.
"Siaga! Target berada didekat pintu!" Lagi suara pada earpiece para pasukan.
Lycan Marzon menggelengkan kepalanya, mengusir rasa nyeri dimoncongnya, dan kembali mendekat pada pintu itu.
Lycan Marzon menatap pintu itu lama. Kemudian ia menempelkan kepalanya pada tembok samping pintu.
Menggeser-geserkan kepalanya. Tanpa peringatan Lycan Marzon menghantamkan tinjuannya pada tembok berkali-kali.
Tembok itu berlubang, Menyembul cuatan kabel disana. Lalu sekali lagi ia hantamkan kepalan tangannya pada tembok.
Dan terlihat untaian kabel dengan cepat Lycan Marzon menariknya hingga untaian kabel itu terputus, percikan api menghiasi kabel yang terputus. Lenyapnya aliran listrik dipintunya. Juga aliran listrik yang ada di seluruh bangunan itu.
Kejadian yang membuat panik seisi ruangan cctv yang menjadi gelap.
"Sial!" Runtuk Hudson.
"Cepat pulih kan!" Perintah Hudson yang juga berada diruangan itu.
"SIAGA 1!" Serunya
tbc.
__ADS_1