
Bharat meneruskan perjalanannya, ia melihat pemukiman indah, walau ukurannya tak sebesar dirinya, di balik barier itu, Bharat menemukan rumah-rumah mungil dengan bentuk yang cantik.
Rumah yang dikelilingi banyak rerumputan dan bunga-bunga, disampingnya sungai dengan air mengalir yang jernih.
Memenjakan mata, suara buryng berkicau membuat Bharat menjadi tenang. Udara segar dan sejuk menerbangkan rambut gelombang panjangnya.
Bharat melengkah ke pinggir sungai ia ingin merasakan kesegaran dari air sungainya.
Ia ingin bermain sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya.
Ia sudah duduk di tepi sungai. Ia menjulurkan kakinya namun "Berhenti! Ini tipuan!" Suara Haiyla mengintrupsinya.
Gerakan kaki Bharat pun mengantung dan ia menariknya kembali ke tanah.
"Tipuan?" Bharat msuh tak mengerti, ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru. Dan ini sangat indah. Belum lagi disudut belakang rumah telihat kancil yang melihat kearahnya.
"Kau! Coba ingat apa yang buku aku beri sebutkan! Tentang tipu daya yang melenakan!"
"Cahaya ilusi?" Dahi Bharat mengernyit.
Kembali otaknya mencari file dimana ingatan akan membawanya pada bacaan yang telah ia simpan dalam otak.
"Ah, mereka merubah pandangan kita dan membawa kita untuk terlena. Rupanya aku bukan seorang yang memiliki niat jahat. Pemandangan yang aku dapat sangat menenangkan, bukan sebaliknya"
Cahaya ilusi akan membuat jika orang yang melintas dan masuk dalam barier dan memiliki niat jahat, awalnya ia akan dibuat terlena kemudian ya ... keluar dengan rasa takut berlebih dan halusinasi merasa terus dikejar oleh yang mereka takuti.
"Apa aku akan mengalami itu setelah keluar?" Namun Bharat tak mendapatkan jawaban dari Haiyla. Dan menjadi tanda tanya besar untuknya.
__ADS_1
Bharat tahu, Haiyla menyuruhnya untuk merasakannya sendiri.
Bibir Bharat merapal mantra, tangannya bergerak melambai dan tak ada perubahan. Apa ini memang dunia aslinya? Ia heran.
Bharat masuk kedalam rumah itu. Interior dengan bahan kayu juga bunga-bunga terlihat disana.
Ia melihat mini bar disana, dengan banyak ramuan didalam lemari kaca, berbotol-botol, juga berwarna warni.
"Aku sudah menunggumu" dari belakang suara wanita membuat Bharat menengok cepat.
Ia melihat sosok tua, mungkin seumur Roxane dengan tubuh mungil dengan rok dan kacamata bertengger di hidungnya.
Terlihat telinga runcing keatas. Ras peri, kata Bharat dalam hati.
"Ya kau benar, aku ras peri, namaku Agrabella, senang bertemu denganmu Ratu Putih" Sapanya.
"Kau bisa membacaku?" Bharat mengikuti wanita itu untuk masuk lebih kedalam rumah.
"Aku akan memberimu, emm ... Kalmeer dan Lussen, ini baik untukmu, sebelum menghadapi ketegangan sebentar lagi" wanita tua itu berkata tanpa melihat kearah Bharat.
Ia meracik sebuah minuman, ia memasukan satu tetes ramuan yang telah ia pilih.
"Duduklah, santai saja" ucapnya, ia melirik sekilas Bharat dari atas kacamatanya,
Bharat tak risau, tak ada perasaan cemas saat ia memasuki barier itu. Ketenangan yang ia dapatkan, hingga saat duduk didepan dengan melihat wanita itu meracik minuman untuknya, tak ada rasa curiga dalam diri Bharat.
"Ini silahkan"
__ADS_1
Bharat menerima gelas itu, lalu menyesapnya sedikit, aroma dan rasa manis yang menyegarkan Bharat dapati. Ia lalu meminum lagi.
"Apa ini?" Tanyanya, setelah ia hanya menikmati minumannya.
"Minuman penyambutan, minuman untuk melihat sifat asli si peminum, akan ketahuan dari minuman ini" dan ketulusan, Agrabella menyungging senyumnya, Wanita muda ini pantas ditakdirkan menjadi Ratu Penjaga mereka.
"Dan kau lolos untuk tahap ini, tahap selanjutnya mari ikut denganku, Dan ini," kembali Peri tua itu memberi satu botol kecil pada Bharat.
"Mungkin kau akan membutuhkannya nanti, ini serbuk Easpa, campuran dari Marigold dan lili oranye, kau tiupkan serbuk ini pada lawanmu dan kau akan tahu apa kelemahannya, dan harus tepat di wajahnya"
Botol tranparan dengan bubuk bercahaya ke kuningan, Bharat terima. "Terima kasih, Agrabella" senyum mengembang dibibir keduannya.
"Ayo aku akan menuntunmu ketempat selanjutnya" Bharat memasukanbbotol itu dalm kantungnya. Ia mengikuti Agrabella membawanya.
Pemandangan yang memanjakan mata, rasanya sangat memengkan, ditambah efek dari minuman yang ia minum tadi juga.
Bharat tak merasakan ketegangan. Ini menyengkan. Langkahnya terasa ringan. Bunga-bunga juga rerumputan dan pepohonan hijau rindang memenuhi pandangan Bahrat.
Jalan setapak berbatu, juga ia melihat peri sekecil serangga sedang memanen serbuk sari yang berkilau.
Ia berada didunia dongeng seperti dalam buku yangbsering ia baca waktu kecil.
"Benar Ratu, banyak yang terlena didalam sini, hingga ia tak ingin pulang, dan Kau harus berhati-hati atas itu" Bharat mendengarkan peringatan yang tak bisa ia sepelehkan.
Mungkin ini ada kaitannya dengan sosok yang akan ia temui sebentar lagi.
Tbc.
__ADS_1
Penampakan rumah-rumah yang Bharat lihat di dalam Barier Cahaya Ilusi