
Mereka memasuki ruangan dengan papan yang akan bergerak, targetnya adalah kepala dari papan bergerak dan membedakan mana target, mana yang bukan target.
Ruang simulasi manual.
Amira masih menggunakan handgun hitam yang bukan miliknya. Handgun yang berada ditangannya beratnya berbeda dengan miliknya.
Yang berada di tangannya sedikit lebih berat. Dan ia harus kembali beradaptasi. Amira bisa dengan cepat menyelesaikannya, waktunya tergolong cepat, namun hasil yang diperoleh saat ini menunjukan penurunan, ia menjadi lebih lambat dari terakhir Amira menyelesaikan misi ruang simulasi ini.
"Kau lanjut saja ke simulasi selanjutnya" ucap Willow.
Amira yang patuh hanya mengangguk, ia agak kecewa dengan dirinya. Fernandes menepuk kepala Amira. Lelaki itu tahu jika Amira kecewa dengan hasilnya.
Walau ia masih urutan pertama dalam kecepatan menyelesaikan misi simulasi ruangan manual.
"Tak apa sayang kamu masih adaptasi, ayo semangat" ucap Fernandes.
Sekarang masuk ke simulasi dengan komputer. Willow telah memasangkan alat di kepala Amira bentuknya seperti helm berkacamata namun hanya kerangka helm dengan sensor yang ada di titik-titik kepala.
Willow ikut masuk dalam simulasi. Ia menjadi musuh yang harus Amira kejar. Dimulai permainan, Amira langsung mencari keberadaan Willow.
Musuh melepaskan tembakan dari belakang, untungnya tidak mengenai tubuh Amira. Anak perempuan itu membidik siapa yang menyerangnya. Dan membalas dengan serangan cepat.
Amira bukan hanya terampil dengan senjata api ia juga bisa beladiri. Juga serangan jarak dekat. Ia sangat suka simulasi dengan komputer karena ia bisa menyeting tubuhnya menjadi dewasa.
Dan bisa melakukan, seperti saat ini Amira lakukan. Ia mendekat pada sang penyerang mengeluarkan belati dan menyobek leher si penyerang.
Fernandes dan Zack juga Olugi dibuat terkejut. Ia tak menyangka anak usia 10 tahun itu melakukan penyerangan hanya dengan ia melihat Willow melakukannya di depan matanya.
"Aku melihat teknik onti Willow" tutur Amira saat ia ditanya oleh Olugi.
Luar biasa. Amira calon prajurit hebat. Hanya dengan melihat satu kali ia bisa melakukannya.
Anak perempuan ini pembelajar yang baik ia dapat menyerap apa yang baru dipelajarinya dengan baik.
*
*
*
Willow keluar kamarnya. Setiap tim memiliki ruangan tim dengan 6 kamar di dalamnya. Ia melihat Zack dan Olugi sibuk berkutat dengan gelas masing-masing.
"Sarapan?" Tanya Olugi. Willow mengangguk.
__ADS_1
"Sebentar Lazarus ingin ikut" ucap Zack.
"Mana Fernandes?"
"Kemarin ia pulang pagi, katanya berlatih di ruang simulator" Olugi menyesap kopinya.
"Kopi?" Willow menggeleng. Ia menguap lebar. Menemani Amira ternyata melelahkan.
"Okey" Lazarus sudah siap. Mereka keluar ruangan tim dan berjalan ke kafetaria.
Willow meletakkan nampannya, Tak seperti awal banyak yang ingin membuat masalah dengannya, akhir-akhir ini tak ada lagi yang menggangunya.
Ia tak peduli juga.
BYUR!
"Ma, maaf" ucap wanita yang akan memberikan gelas jusnya. Wanita itu bukannya memberikan pada Willow tapi menyiram air jusnya ke wajah Willow.
"Kau pantas mendapatkannya" lirihnya dengan senyum, sebelum ia kembali gemetar. Wanita itu menunduk takut dan gemetar.
"Hey!" Hardik Olugi.
"Ma,maaf … maaf … maaf" ucapnya berlari ketempat Willow dan membersihkan wajah Willow dengan lap kotor. Willow menangkis lapnya dan lap kotor itu terlempar di meja.
Willow tidak mengatakan apapun, ia berjalan melewati wanita itu.
"Membunuhnya kau mati" ucapan wanita itu.
Willow menuju meja yang telah ia pilih. Ia memakan sarapannya. Timnya mengikuti duduk disamping Willow.
"Kau tak apa? Ini tisu," Olugi menyerahkan tisu pada Willow.
"Untung aku belum mandi" gerutu Willow dengan mengambil tisu basah milik Olugi.
"Mungkin kau disuruh berendam jus, agar segar" celetuk Lazarus.
"Bau wangi apa ini" Fernandes sudah berdiri di belakang Willow ia mengendus rambut Willow.
"Will kau memakai shampo aroma jeruk?" Tanyanya lagi. Fernandes melihat kejadian tadi. Dan itu sengaja. Karena siramannya sangat tepat di wajah Willow.
"Iya biar kecantikanku semakin paripurna dimata kailan" ucap Willow asal.
"Sayang kau tak perlu terlalu berusaha. Kau sangat menawan di mata kami" Fernandes mulai melancarkan gombalannya.
__ADS_1
"Kau tak perlu bersusah payah seperti itu. Kau tercantik diantara yang lain" ucap Zack yang biasa berkata tajam sekarang ia ikut menggombal. Dan itu tak lepas dari perhatian ketiga rekan lelaki mereka.
"Wow ada apa ini? Kau ketularan Fernandes?" Olugi memegang dahi Zack.
"Kau sakit?" Lanjut Olugi. Decakan kesal terlintar dari bibir Zack. Dan Willow hanya mengunyah dan terus mengunyah.
Ia sangat lapar. Kemarin ia tidak sempat makan malam. Ia terlalu lelah dan akhirnya tertidur.
"Will Nanti kau kembali mengajari Amira?" Wanita itu menggeleng.
"Hari ini aku bebas." Ucapnya dengan mulut penuh makanan.
"Will" Resta dan Troto datang bersamaan. Wanita yang dipanggil hanya menatap kedua nya datar. Ia kembali menyantap sarapannya.
"Selamat pagi Kapt, Tetua" ucap keempat rekan Willow.
"Pagi" ucap Troto.
"Will selesaikan sarapanmu, kau ikut dengan kami" ucap Resta dan Troto yang ikut duduk di tempat Fernandes dan Olugi yang mengapit Willow, mereka berpindah di sebelah Zack.
"Maaf Kapt hari ini, hari bebas untukku" ucap Willow. Setiap anggota tim memiliki hari bebasnya yang sudah mereka jadwalkan di awal pelatihan.
Willow akan kembali ke rumahnya, dan mungkin akan berkemah. Ia akan menjauh dari Giant Pipe. Tidak akan menyiakan hari liburnya.
"Kau tidak bisa menolak misi yang datang padamu, kau tak membaca aturan dasar yang harus dipatuhi, saat mendaftar?" ucap Resta.
"Aku memang tidak membaca aturan dasar yang harus dipatuhi, karena aku tak pernah mengingat pernah mendaftarkan diri" Ucap Willow.
Resta lupa ia yang menyeret Willow ke dalam sini dan itu atas perintah Troto dan Zale. Ia menggaruk kepalanya tak gatal. Troto hanya melarikan matanya menjauh.
"Aku selesai" Willow menyentak berdiri.
Tapi Resta dan Troto hanya berdiam di tempatnya.
"Katanya ada misi?" Ia menatap datar Resta yang mengernyit ditatap Willow lama.
"Ah iya, ayo" Resta berdiri dengan terburu, lalu berjalan mendahului Willow. Ketiganya telah meninggalkan kantin.
"Kau merasa tidak, jika Will tidak ada takutnya dengan Kapten dan juga Tetua."
"Apa maksudnya dengan Will yang masuk kemari tidak mendaftar? Apa ia lewat jalur khusus?" Tanya Olugi yang dijawab rekannya yang lain dengan bahu terangkat juga gelengan kepala.
"Lebih baik cepat selesaikan sarapan laku kita latihan" ucap Zack. Walau ia pun mempertanyakan ucapan rekannya itu.
__ADS_1
Tbc.