DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Sang Target


__ADS_3

Raflesia sedang merapikan riasannya saat alat komunikasinya berbunyi.


"Bagaimana?" Tak mendengatkan sapaan dari bawahannya.


"Saya sudah mengirim siapa pria yang bersama nona Alex itu, Kola Collen, dia anak dari pemilik Walabi Corp, Esmas Collen, Perusahaan terbesar kedua setelah Nokturnal."


"Dan maafkan saya Nona, saya belum mendapatkan ada hubungan apa diantara keduannya" ujar pria disebrang yang ditugaskan memantau keadaan.


Setelah mengikuti Alex kemarin, ia ternyata masuk dalma kediaman pemilik Walabi. Saat ingin mendekatkan kendaraannya. Sistem peringatan dalam kendaraan Raflesia menyala.


Memberitahukan tak bisa sembarang orang bisa mendekat kearah kediaman Collen.


Dijaga sangat ketat. Wajar menurutnya, setiap saat musuh mereka layaknya dirinya  usa saja menyerang.


Dari luar memang tak tampak aneh, hanya ada beberapa orang saja yang berjaga. Namun mereka menggunakan sistem canggih untuk membantu penjagaannya.


Dan sewaktu Raflesia ingin mendekat, sistemnya terlebih dahulu memperingati. Bukannya kembali ia hanya mundur memperkirakan jarak yang aman lalu mencoba menerbangkan robot lalat kearah kediaman Collen.


Dan sepeeti dugaannya. Lalat itu hangus terbakar seperti nyamuk yangbterkena raket listrik.


Bukan hanya itu, Raflesia mendapatkan lagi peringatan dari kendaraannya, mau tak mau ia kembali mencari tempat yang aman dan melihat apa yang akan terjadi.


Penjagaannya semakin diperketat. Dan anak buahnya memberi kabar, bahwa penjagaan kembali normal selama seminggu setelah kejadian lalat robot yang mencoba memasuki kawasan keluarga Collen.


"Nona, penjagaannya sudah tak seketat seminggu yang lalu namun saya rasa ini hanya jebakan saja, mereka ingin musuhnya mendekat dengan lengah."

__ADS_1


Raflesia hanya mendengar namun pikirannya menimbang segalanya. Ia tak boleh ceroboh dan gagal.


"Flesi sayang" Paloma mendekat. Membuyarkan bayangan ingatan Raflesia dengan anak buahnya. Ia menatap dirinya yang berada didepan cermin, disana ada pantulan Paloma berjalan mendekatinya.


Dengan cepat ia bergamti raut wajah, yang tadi dingin dan datar, menjadi ramah dengan senyuman hangatnya.


"Kau sudah siap? Wow kau tampak luar biasa" puji wanita itu. Ia memperhatikan penampilan Raflesia, memperhatikan tatanan rambut raflesia yang tebal dengan kilauan indah.


"Bagaimana? Kau gugup? Mereka menunggu penampilanmu, kau tahu tamu kita kali ini? Kaum elit di Walabi Corp." Netra Raflesia melebar, ini takdir bukan? Dan tentu tak ia sia-siakan.


"Aku tak sabar untuk melihat mereka terpukau oleh penampilanmu."


"Tenang akan kubuat mereka tak luoa padaku" disana, disudut bibirnya, terangkat, senyum miring yang tidak Paloma sadari.


Paloma menggiring Raflesia untuk bersiap. Dan Paloma yang berisik ingin tahu siapa saja kaum elit Walabi. Alhirnya mengintip kearah kerumunan orang yang sedang mengantri didepan pintu teater.


"Sudah waktunya" kru Paloma mengingatkan.


"Kita akan bertemu mereka setelah kau selesai" Paloma meninggalkan tempat itu yang Raflesia susul beberapa saat setelah puas menatap Kola, sang target.


Penampilan Raflesia ditutup dengan suara tepukan riuh rendah. Selama pertunjukannya ia menatap lekat Kola dan mengirimkan sihir duyung pada pemuda itu.


Dan Raflesia yakin, pria itu sudah terjerat oleh pesona ya sekarang. Senyuman dingin terukir dibibir merah itu. Ia berada di ruangannya, menunggu Paloma menjemput dan bertemu dengan targetnya.


"Raflesia tadi sangat memukau, apa kau lelah?" Pertanyaan basa basi Paloma, Raflesia hanya menggeleng sebagai jawabannya.

__ADS_1


" Aku harap kau siap bertemu dengan mereka?" Paloma berdiri di belakang kursinya.


"Ini kesempatan kita menarik banyak penggemar" Paloma sesekali merapikan rambut Raflesia.


"Bagaimana?" Raflesia memperlihatkan gaunnya, dan juga riasan dari atas hingga bawah.


"Sempurna, ayo sudah, mereka sedang menunggumu" Ploma mendorong bahu Raflesia keluar ruangan.


"Kau yang akan bertemu mereka, aku ikut gugup" Paloma menarik dan membuang nafasnya berkali-kali.


Raflesia hanya melirik datar wanita itu.


Mereka telah berada di depan pintu tempat pertemuan.


Dan Paloma mendorong pintu didepan mereka. Yang Raflesia luhat pertama adalah Alex yang menyambutnya.


Lalu Alex mengenalkan Kola padanya. Raflesia bisa melihat bagaimana pria itu sudah terkena sihir nyanyian duyungnya.


Ini sangat mudah, pikir Raflesia. Ia bisa melihat Kola yang tak melepaskan Raflesia dari pandangannya. Walaupun Alex terus mengajaknya mengobrol.


Sesekali ia mencuri lihat kearah Kola dan lagi menjeratnya dengan sirihnya. Ia tak akan semudah itu untuk puas. Karena ia belum sampai tujuannya. Ia masih berada dipertengahan.


Setelah pertemuan itu. Raflesia bisa menduga, Kola dengab rutin selalu menonton pertunjukannya. Senyuman semakin mengembang. Walau belum ada interaksi yang Raflesia lakukan. Namun ini awal yang bagus.


Ia akan menjerat kekasih Alex itu dan menghancurkan wanita itu hingga rasanya tak ingin lagi bernafas. Pembalasannya harus lebih dari yang ia rasakan.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2