
Kuda Hilton berpacu kencang, ia akan ke daerah Selatan High Majesty menuju pusat militer yang ia pimpin.
Jangan tanya persiapan yang mereka lakukan. Tidak ada, karena setiap hari mereka diperlakukan bahwa esok mereka akan berperang.
Tetua tidak tahu tentang bagaimana Hilton mempersiapkan perang dengan Guapo. Ia sudah melakukannya sebelum para tetua bodoh itu cemas dan menyudutkannya.
Ia hanya menunggu Guapo menyerang mereka lebih dulu. Ia ingin melihat bagaimana Guapo menyerang dirinya.
"Tuan" sambut salah satu jendral yang berada disana. Hilton turun dari kudanya dan menyerahkan tali kekang pada jendral itu.
Jacklyn menyamai langkahnya,
"Mereka mengatakan tanggal peperangan telah diumumkan, lusa, karena Guapo penjagaannya diperketat, mereka kesusahan mengirim kita berita." Jacklyn telah mendapatkan berita dari anak buahnya.
"Persiapkan semua, sekarang panggil semua jendral kemari" perintah Hilton pada Jacklyn.
"Perketat penjagaan pada setiap daerah" Hilton memerintahkan. Jacklin hanya mengangguk.
Diruangannya. Ia menuju peta High Majesty. Ia menunggu para jendral tiba.
"Tuan" satu per satu para Jendral datang. Mereka membahas strategi dan penjagaan di setiap sisi.
Usul salah satu jendral, ada yang tidak setuju, ia memprediksikan bahwa Guapo akan langsung menyerang pusat High Majesty dan ia mengusulkan memperketat penjagaan di pusat.
Diskusi yang alot. Hilton memiliki pemikirannya. Ia akan melindungi klannya. Ia memiliki beberapa jendral di sisinya dan telah memiliki strategi sendiri.
Ya mengumpankan klan lain untuk menyelamatkan klannya. Busuk memang, tetapi ini cara menebas musuh dan orang yang menentangnya.
Ia menerima putusan terbanyak tanpa komentar. "Aku sebagai pemimpin mengandalkan kalian" hanya dengan kalimat itu ia bisa mengambil hati jendral klan lain yang ia anggap bodoh.
"TUAN! TUAN! PUSAT DISERANG TUAN!" Jacklin berlari ke arah Hilton dan para jendral berkumpul.
"APA?! SEMUA BERSIAP KITA KE PUSAT SECEPATNYA."
"SIAPA YANG MENJAGA PUSAT?"
"Jendral Rogros klan katak"
"Hubungi dia siapkan Bennie" Hilton bergegas bersama banyak prajurit yang telah bersiap.
DOOM! DOOM!
BOOM! BOOM!
"SEMUA BERLINDUNG!" Teriakan Hilton, ia tak menyangka Guapo memasang peledak pada markas militernya di selatan, ia melihat robot-robot bermunculan.
"SERAAAAANG!" Teriakannya.
DOOM! DOOM! Banyak prajurit terpental terkena ledakan. Dan tewas. Suasana kacau.
Ia mengeluarkan pedangnya. Ia menusuk kepala robot itu dengan pedangnya. Lalu robot di depannya tidak lagi menyerang.
Robot itu mengeluarkan percikan api dan matanya yang menyala pun mati.
TRANK! TRANK! TRANK!
__ADS_1
BRAK!
TRANK! TRANK!
Bunyi benturan besi dengan besi terdengar kencang.
BRAK! BRAK!
"Ugh,"
"Aaark!"
"TUSUK KEPALANYA!" Perintahnya saat ia melihat para prajuritnya kesusahan melawan robot-robot itu.
Mendengar teriakan Hilton para prajurit menghunus pedangnya pada kepala robot-robot itu.
Namun robot itu menyerang dengan senjata api, para prajurit menangkis dengan sihir perlindungan mereka.
Senjata yang dimiliki robot-robot itu tak bisa menembus kulit para prajurit. Namun prajurit juga kesusahan membuat mereka tak lagi menyerang.
Namun kembali "INCAR KEPALANYA!" Hilton berteriak. Dan Prajurit itu mengikuti arahan Hilton dan memenggal kepala robot dan berhasil.
Para prajurit semakin antusias, mereka mengincar kepala robot-robot itu, Banyak robot juga prajurit tewas bergelimpangan.
Prajurit sudah mulai kelelahan, namun robot tidak ada habis-habisnya. Berdatangan terus menerus.
"Tuan Bagaimana ini, Guapo telah menduduki Pusat?" Jacklin yang sedang melindungi Hilton dari serangan robot. Mendapatkan kabar dari orang kepercayaan mereka di High Majesty.
"Perintahkan klan kita untuk mundur"
Hilton melihat para prajurit yang kepayahan dan akhirnya perlindungannya melemah dan tewas tertembak oleh robot-robot itu.
"Tuan! Anda akan kemana? Aku tidak bisa meninggalkan kami begitu saja!" Salah satu Jendral yang tadi ikut berdiskusi dengannya.
Mata dingin Hilton menatap jenderal itu. Dan ia mengangkat pedangnya, tanpa kata Hilton menghunuskannya pada jantung si jendral.
"Huurgh … hurg" si jendral terbatuk darah, tak lama ia jatuh bersimpuh. Tewas. Hilton menarik pedangnya dan tubuh jendral itu jatuh ke tanah.
Ia akan menghancurkan siapa saja yang menghalanginya. Ia kembali berlari masuk dalam hutan, ia telah menyiapkan semuanya. Tapi Guapo menipunya.
Sialaan! Makinya.
Hilton memacu kudanya cepat. Para prajuritnya sudah lebih dulu melarikan diri ke tempat persembunyian mereka.
*
*
*
Sebelum perang,
Raskal menunggu Holua, menunggu apa yang akan wanita bernama Ala itu katakan. "Ia hanya diam Tuan" Raska telah memperkirakan jika wanita itu akan tutup mulut.
Raskal beranjak dan ia sendiri yang akan turun tangan. Ia masuk kedalam ruangan penjara, disana sudah ada wanita yang terikat di atas batu dengan rantai yang mengikat kedua tangan dan kakinya.
__ADS_1
"Alamira" suara berat itu memanggil namanya. Ia melirik pada lelaki yang berdiri menjulang disampingnya.
"Ah si penjaga" ucapnya lirih, tubuh Alamira basah, juga wajahnya lebam. Sudut bibirnya ada darah yang telah mengering.
"Kau mau apa? Aku akan bungkam"
"Bungkam huh, kau malah lebih banyak berbicara saat ini"
"Aku jadi penasaran jika aku beri tahu, bagaimana reaksimu, Tentang prajurit Guapo telah berada di setiap sudut High Majesty." Mata bulat Alamira melebar. Raskal melihat itu dan sudut bibirnya terangkat senang.
"Aku membaca surat cinta menggelikan milikmu, mungkin Hilton saat ini, ia sudah memiliki rencana melarikan diri. Dia sangat pengecut"
"Kau tahu dia sangat iri dengan kakakku, Zale" Alamira tidak bisa menyembunyikan lagi rasa terkejutnya. Kepalanya menengok cepat ke tempat Raskal berada.
"Kau dan Zale bersaudara"
Raskal menyungging senyumannya, "Kami anak tetua, jika kau ingin tahu siapa kami" Raskal meraih kain basah, ia melangkah pelan menuju Alamira.
"Masih bungkam?" Alamira diam, tatapan matanya menusuk tajam Raskal. Ia memilih bungkam.
Raskal melempar kain basah pada wajah Alamira,
"Ahmpa yamng kahmm u lahmnkuhmmkan" Ucapnya, ia meronta, menggelengkan kepalanya berusaha membuat kain basah itu jatuh dari wajahnya.
"Kamu memilih bungkam kan?" Ia masih melihat Alamira yang meronta, dan berteriak. Raskal mengambil gayung kayu, dan menuangkan air panas pada Wajah Alamira.
Teriakkan tertahan terdengar, kembali Raskal dengan wajah datar menuangkan lagi air pada Alamira.
Tangan dan kakinya meronta keras. Sesak nafas. Ia berusaha mencari udara. Panas terasa membakar kulit wajahnya.
"Bai hmm … baaiihk …"
Raskal meletakkan gayung kayu dan membuka kain basah itu perlahan. Disana Alamira meraup semua udara yang bisa ia raup.
Kulit wajahnya memerah, matanya menatap Raskal dengan ketakutan.
"Jadi katakan"
"Hhh … Hilton mengirimku, hhh … aku tahu tempatnya, hhh,bersembunyi, Hutan cakar, ia bersembunyi hhh,di bawah, hhh, air" lelah, Alamira melemas.
"Kau, hhh,tanpa aku berkata, hhh, kau pasti,hhh, tahu" ucapnya tersenggal.
"Kami perlu informasi rahasia" Raskal mengambil kainnya. Melihat itu Alamira. Terjengit.
"Aku,hhh, aku beri, hhh tahu, jika Hilton akan melarikan diri, hhh, kalah maupun menang hhh, ke tempat itu" Alamira masih berusaha bernafas.
"Kau sesak? Aku akan membantumu," Raskal mengeluarkan belatinya,
KRAK!
Menghunus kepala Alamira dengan kencang.
"Benarkan aku membantumu agar kau tak susah lagi untuk bernafas." Lirihnya, ia mengelap belatinya pada pakaian Alamira.
"Serang mereka sekarang!" Perintah Raskal.
__ADS_1
Tbc.